Berita

Edy Rahmayadi/Net

Olahraga

Ketum PSSI: Liga Indonesia Baru Diketuai Iwan Budianto

MINGGU, 29 JANUARI 2017 | 06:41 WIB | LAPORAN:

Ketua Umun PSSI, Edy Rahmayadi berharap di bawah kepengurusannya tidak ada lagi yg ribut-ribut mengincar jabatan. Pasalnya, PSSI ingin fokus bekerja untuk mempercepat peningkatan prestasi sepak bola Indonesia.

"Kalaupun ada yang menginginkan jabatan saya tunggu empat tahun lagi. Saya mau damai. Kita koordinasikan pekerjaan ini, karena ini adalah pekerjaan mulia," kata Edy Rahmayadi, dengan intonasi yang tegas.

Ia menambahkan bila pesan ini bisa diartikan, jangan sampai ada manuver terkait jabatan ketum PSSI atau mau menjadi pengurus.


"Masa pengurus ini empat tahun. Kalau mau jadi ketua umum PSSI, jangan mulai sekarang gerabak-gerubuk. Lobi sana, lobi sini," kata Edy.

Namun Edy mengaku bukan orang yang antikritik.

"Berdebat oke, tapi tolong jangan berdebat kalau belum tahu. Cari tahu dulu, cari masalahnya, baru dialog. Jangan asal berdebat," ujarnya.

Ditanya soal jabatan baru Iwan Budianto yang menjabat sebagai Kepala Staf Ketua Umum, secara tegas Edy mengatakan itu tidak melanggar Statuta FIFA.

"Statuta hanya menentukan jumlah.Jumlah Exco tetap hanya kami memfungsikan, kan tidak mungkin ada waktu ketua ada dua orang," katanya.

Edy menambahkan, rencananya Iwan akan diberikan tugas sebagai CEO PT Liga Indonesia Baru. Perusahaan pengelola yang baru inilah yang nantinya akan mengelola kompetisi.

"Untuk kompetisi dipegang oleh PSSI yang diketuai oleh Iwan Budianto dengan nama perusahaan baru, PT Liga Indonesia Baru," kata Edy.

Iwan Budianto adalah wakil ketua umum PSSI yang sekarang dalam kepengurusan diubah menjadi kepala staf ketum. Iwan Budianto juga saat ini masih menjabat sebagai CEO Arema FC.

Sayangnya usai pelantikan Iwan Budianto belum mau terbuka menjelaskan soal akan memimpin perusahaan untuk menjalankan kompetisi profesional. "Minta keterangan kepada Sekjen PSSI. Nanti juga ada rapat Exco di Makostrad mulai pukul 14.00 WIB," kata Iwan.[wid]

Populer

MA Koreksi Kerugian Negara Kasus Korupsi Timah, Bukan Rp300 Triliun

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 22:36

Giliran Kepemimpinan TNI Kembali Diberikan kepada Matra Laut

Sabtu, 08 Agustus 2026 | 06:27

Putusan Eksepsi Dokter Tifa Berujung Antiklimaks

Minggu, 02 Agustus 2026 | 05:20

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

KPK Konstruksikan Dugaan Fee Rp3,5 Miliar dari Waskita untuk Eks Ketum HIPMI

Minggu, 02 Agustus 2026 | 14:18

Kerumunan Massa saat Jokowi ke NTT Direkayasa

Senin, 03 Agustus 2026 | 13:39

Wewenang Ditjen Bea Cukai Sudah Melampaui Namanya

Minggu, 02 Agustus 2026 | 02:12

UPDATE

Miris! Hafalan Al-Qur’an Jadi Bahan Permainan

Kamis, 13 Agustus 2026 | 02:11

OJK Dukung Pemprov DKI Terbitkan Obligasi Daerah

Kamis, 13 Agustus 2026 | 02:00

Jangan Main Hakim Sendiri terkait Kasus Hafalan Al-Qur'an Berhadiah Miras

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:48

Dua ASN Ditjen Pajak Jadi Tersangka Korupsi PT TPL

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:23

Tak Ditemukan Luka Luar di Jenazah Sutrimo

Kamis, 13 Agustus 2026 | 01:06

Pemprov DKI Pastikan Miliki Kapasitas Keuangan Terbitkan Obligasi

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:26

Walkot Jakut Imbau Masyarakat Tetap Tenang soal Kasus Promosi Miras di Ancol

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:19

Kemendag Perluas Akses Pasar Produk UMKM dengan Libatkan Ritel Modern

Kamis, 13 Agustus 2026 | 00:02

Furikake dan Tantangan Pangan Bergizi: Jangan Berhenti pada Produknya

Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:51

Utang Pemerintah Tembus Rp10.000 Triliun

Rabu, 12 Agustus 2026 | 23:41

Selengkapnya