Berita

Publika

Antara Sri Mulyani, Jokowi dan Utang Luar Negeri

KAMIS, 05 JANUARI 2017 | 12:00 WIB

BELUM genap seminggu menjalani tahun 2017, pemerintah sudah menetapkan tiga kenaikan harga mulai dari kenaikan TDL, pengurusan STNK/BPKB, dan hari ini kenaikan BBM.

Kebijakan ini seperti kado tahun baru yang terasa pahit bagi penduduk Indonesia, apalagi yang berpenghasilan pas-pasan.

Mengapa negera seperti terkesan mengejar setoran duit sebanyak-banyaknya sampai harus memungut dana recehan dari rakyatnya dengan segala cara?


Saya jadi teringat apa yang pernah disampaikan oleh Sri Mulyani, Menteri Keuangan, saat menyusun APBN 2017 bahwa keuangan negera sedang sakit, bahkan untuk membayar bunga utang saja, kita harus mengutang lagi. Saat itu, pernyataan Sri Mulyani bertolak belakang dengan statement Jokowi yang masih terus mengumbar kebohongan bahwa duit kita masih banyak.

Saya hampir gagal paham mencerna pernyataan Sri Mulyani tersebut. Mengutang untuk bayar bunga utang sebelumnya. Saya ingin membuat analogi sederhana untuk memahamkan hal ini.

Misalnya, kita punya utang 100 ribu rupiah dan dikenakan biaya bunga 10 ribu rupiah per tahun. Jangankan untuk melunasi utang pokok, untuk membayar bunga yang 10 ribu rupiah per tahun itu saja kita harus berutang lagi yang tentu saja harus dikenakan bunga utang juga.

Bukankah hal itu tak mengurangi utang kita sebelumnya, malah menambah utang yang lebih besar lagi. Itu sama saja menggali lubang kebangkrutan kita lebih dalam. Atau menjerat leher kita lebih kuat hingga tercekik tak berdaya.

Pertanyaannya, dibuat kemanakah utang kita yang bertambah lebih 1.000 triliun rupiah selama dua tahun pemerintahan Jokowi ini?. Bukankah seharusnya dalam ilmu ekonomi yang paling sederhana, keuntungan dari uang utang itulah yang digunakan untuk membayar cicilan utang tersebut plus bunganya.

Lalu kemana juga dana Tax Amnesty yang digembar-gemborkan sudah mencapai lebih 1.000 triliun rupiah?

Kemana juga keuntungan dari kenaikan harga BBM saat diberlakukan sejak awal pemerintahan Jokowi berkuasa. Bukankah seharusnya sekarang kita punya modal yang cukup banyak untuk digunakan sebagai anggaran pembangunan?

Tapi kenapa malah yang terjadi sebaliknya, ada pemotongan DAU/DAK di hampir seluruh APBD provinsi dan kabupaten/kota se-Indonesia. Kebijakan pemotongan anggaran ini baru sekali ini saja sepanjang sejarah republik ini berdiri.

Ya, sekali lagi kemana semua uang republik ini digunakan? Negeri ini sedang menuju kebangkrutannya.

Semoga tidak.[***]

Sugiat Santoso
Ketua KNPI Sumut

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya