Berita

Nasaruddin Umar/Net

Merawat Toleransi (32)

Melegitimasi Bhinneka Tunggal Ika

RABU, 28 DESEMBER 2016 | 08:57 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

BHINNEKA Tunggal Ika be­rarti bercerai-berai tetapi tetap satu atau kesatuan di dalam keberagaman. Istilah Bhinneka Tunggal Ika digu­nakan para founding fathers kita di dalam memperke­nalkan Indonesia di dalam dan luar negeri. Keberaga­man adalah sunnatullah. Menolak keragaman berarti menolak sunnatul­lah. Dalam Al-Qur'an ditegaskan: Wa lau sya'a Rabbuka laja'alnakum ummatan wahidah (Jika Tuhan-Mu menghendaki niscaya ia menjadikan kalian suatu umat). Dalam ayat tersebut Allah Swt menggunakan kata/huruf lau, bukannya in atau idza. Dalam kaedah Tafsir dijelaskan, apa­bila Allah menggunakan kata lau (jika) maka sesungguhnya hampir mustahil kenyataan itu, tidak akan pernah mungkin terjadi. Kalau kata in (jika) kemungkinan kenyataan itu bisa terjadi bisa juga tidak, dan kalau kata idza (jika) pasti kenyataan yang digambarkan itu akan terjadi. Masalahnya sekarang kamus bahasa Indone­sia tidak memiliki kosa kata sepadan dengan bahasa Arab, sehingga keseluruhannya diarti­ka dengan jika.

Persoalan konflik yang terjadi di berbagai be­lahan dunia tidak jarang terjadi karena dipicu sentimen perbedaan penafsiran Kitab Suci. Ada segolongan sering memperatasnamakan suatu penafsiran lalu menyerang kelompok lain, kar­ena mengklaim dirinya paling benar. Ironisnya, tidak jarang terjadi justru kelompok minoritas yang menyatakan kelompok mayoritas atau mainstream yang sesat. Kelompok pemurni ajaran (puritanisme) seringkali mengklaim diri paling benar dan mereka merasa perlu mem­bersihkan ajaran agama dari berbagai khurafat dan bid’ah. Namun kelompok mayoritas yang diobok-obok seringkali di antaranya tidak men­erima serangan pembid'ahan itu karena mera­sa berdasar dari sumber ajaran dan dipandu oleh ulama besar. Akibatnya kelompok mayori­tas melakukan penyerangan terhadap kelom­pok minoritas tersebut.

Kasus seperti ini bukan hanya terjadi di Indo­nesia, tetapi juga di negara-negara mayoritas muslim lain. Penyerangan aliran yang dianggap "sesat" oleh majlis ulama seringkali menjadi tar­get. Di antara berbagai golongan saling meng­kafirkan dan saling usir-mengusir dan bahkan bunuh-bunuhan lantaran dipicu penafsiran sumber ajaran agama. Tentu saja kenyataan ini sangat disesalkan karena mereka sama-sama berpegang kepada kitab suci yang sama tetapi mereka saling bermusuhan satu sama lain.


Di Indonesia yang mengenal motto Bhinneka Tunggal Ika seharusnya konflik horizontal tidak perlu terjadi. Meskipun suku, etnik, agama den­gan berbagai aliran dan mazhabnya berbeda-beda namun persamaan historis sebagai satu bangsa yang pernah mengalami pahit get­irnya perjuangan melawan penjajah membuat perbedaan-perbedaan tersebut ibarat sebuah lukisan yang berwarna-warni, membuat lukisan itu menjadi lebih indah. Nuansa keindonesiaan ini seharusnya mampu melenturkan kelom­pok-kelompok etnik dan ajaran agama di In­donesia. Sudah sekian lama konflik horizontal tidak pernah terjadi di Indonesia dalam masa proto Indonesia. Belakangan setelah Indonesia bersentuhan dengan nilai-nilai kemasyaraka­tan baru, sebagai pengaruh globalisasi, bang­sa Indonesia mulai berkenalan dengan konflik horizontal yang bertema keagamaan. Kristal­isasi nilai-nilai keindonesiaan telah berhasil mengantarkan bangsa ini menjadi satu kesat­uan wilayah geografis dan kultural yang kuat, sehingga mampu mengusir kekuatan penjajah. Terjadinya konflik horizontal yang bertema etnik dan keagamaan dalam dasawarsa terakhir ini, membuat kita bertanya, ada apa dengan rasa keindonesiaan kita akhir-akhir ini? Sudah saat­nya Bhinneka Tunggal Ika kembali menyadar­kan kita untuk merajut kembali persatuan dan kesatuan sebagai warga bangsa. ***

Populer

PKS Anggap Permintaan Maaf Raffi Ahmad Belum Cukup

Minggu, 01 November 2026 | 22:28

Bonatua akan Diperiksa Bareskrim terkait Dugaan Pemalsuan Dokumen Suket Gibran

Rabu, 04 November 2026 | 23:19

Syarat Penerima BSU 2026 Resmi dari Kemnaker, Cek Kriterianya

Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:29

Jokowi Jangan Mimpi PSI Jadi Partai Besar

Selasa, 03 November 2026 | 02:41

Boikot Raffi Ahmad-Willie Salim Cederai Nilai Demokrasi

Senin, 02 November 2026 | 20:11

Peringatan Yusril soal Pencalonan Gibran Problematik Kini Terbukti

Minggu, 01 November 2026 | 12:02

KPK Bongkar Dugaan Akal-akalan Cukai Rokok PT Djarum Sejak 2010

Senin, 02 November 2026 | 15:43

UPDATE

IHSG Terkoreksi 1,97 Persen, Mayoritas Saham Berakhir di Zona Merah

Jumat, 06 November 2026 | 12:31

Ekonom Soroti Potensi Konflik Kepentingan CIO Danantara

Jumat, 06 November 2026 | 12:22

Menperin Ungkap Strategi Hadapi Tekanan Industri Tembakau

Jumat, 06 November 2026 | 12:11

Ketum Partai dan Pejabat yang Terlibat Penyadapan Presiden Harus Jadi Tersangka

Jumat, 06 November 2026 | 12:01

Di Tengah Polemik Ijazah, Pengaruh Politik Jokowi Masih Jadi Perhatian

Jumat, 06 November 2026 | 11:51

Bantah Narasi Deindustrialisasi, Menperin: Industri RI Tidak Gelap

Jumat, 06 November 2026 | 11:40

Indonesia-Somalia Bahas Peluang Kerja Sama Perikanan hingga Keamanan Maritim

Jumat, 06 November 2026 | 11:34

Cokbang Buka Peluang Ekonomi Baru dari Kakao Sabang

Jumat, 06 November 2026 | 11:30

KPK Periksa Komisaris PT Murakabi Media Indonesia di Kasus Asuransi Pelni

Jumat, 06 November 2026 | 11:29

Utang Paylater Masyarakat di Bank Tembus Rp31,5 Triliun hingga September 2026

Jumat, 06 November 2026 | 11:16

Selengkapnya