Berita

Publika

Rakyat Akan Turunkan Jokowi Jika Biarkan Ahok Jadi Duri Dalam Daging NKRI

SABTU, 19 NOVEMBER 2016 | 15:00 WIB

SECARA antropologi, sudah menjadi takdir NKRI adalah negara heterogen dengan berbagai adat budaya, agama, suku dan ras.

Dan adalah kerelaan umat muslim saat bersedia menghapus tujuh kata dalam piagam Jakarta demi berdirinya NKRI.

Sebagai bangsa yang bhinneka, maka bagi bangsa-bangsa lain akan selalu melihat peluang dan cara untuk melakukan adu domba (devide et impera) untuk menguasai NKRI.


Dalam sejarah pra kemerdekaan, VOC melakukan politik memecah belah tokoh-tokoh Nusantara menggunakan aksi isu atau provokasi, propaganda, desas desus, bahkan fitnah kepada para pemimpin kerajaan nusantara untuk kemudian diadu dalam perang atau permusuhan dan akhirnya dikuasai.

Cara politik pecah belah VOC adalah dengan memberi previllege ekonomi kepada suatu kelompok politik yang bertujuan untuk lebih percaya ke Belanda dari pada ke kerajaannya sendiri untuk selanjutnya menjadi duri dalam daging sebuah kerajaan.

VOC juga mendatangi para tokoh-tokoh untuk menawarkan posisi-posisi dalam kekuasaan VOC dengan syarat mereka mau melawan para penentang VOC.

Inilah yang terjadi dalam NKRI saat ini, ketika Jokowi memberikan keistimewaan pada seorang Ahok yang dianggap umat muslim telah menistakan agama terkait surah almaidah 51 dalam kampanye terselubung di Kepulauan Seribu. Tapi ini bukan satu-satunya keistimewaan.

Tidak bertindaknya KPK meski sudah ada laporan BPK bahwa ada kerugian negara terkait pembelian lahan RSSW juga merupakan keistimewaan pada Ahok. Juga pada izin reklamasi, meski sudah dihentikan oleh Menko Rizal Ramli, tetapi dilanjutkan lagi oleh Menko Luhut. Ini bukti-bukti Jokowi memberi keistimewaan pada Ahok.

Lalu apa dampak dari ini semua? Ketika rakyat marah, justru rakyat difitnah sebagai pemecah belah bangsa. Padahal kemarahan ini adalah reaksi atas fakta ketidak adilan. Sesungguhnya Jokowi telah menjadikan Ahok sebagai duri dalam daging NKRI. Jika duri itu tidak dibuang, percayalah rakyat akan melawan Jokowi.

Politik pecah belah bangsa ini adalah produk asing, yang tak kan sukses jika tidak ada pihak yang bodoh dan haus kekuasaan sehingga mereka lebih suka bekerja sama dengan asing dan menindas bangsanya sendiri.

Tetapi sejarah akan mencatat, ada sebagian besar rakyat yang terus menerus berjuang sementara di sisi yang lain berbaris komunitas-komunitas yang sedang asyik menikmati rezeki hasil pengkhianatan.

Jakarta, 19 November 2016

Gde Siriana
Peneliti Soekarno Institute for Leadership


Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya