Berita

Publika

Siapa Pahlawan Negara Kita Hari Ini?

KAMIS, 10 NOVEMBER 2016 | 16:49 WIB | OLEH:

KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) menyatakan arti kata pahlawan adalah orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran. Diartikan juga pahlawan adalah pejuang yang gagah berani. Artinya jika anda ingin menjadi pahlawan, maka sarat dasarnya adalah keberanian. Jika anda bermental pengecut, maka dapat dipastikan anda bukanlah figur pahlawan.

Cukupkah sekedar berani? Tentu tidak. Berani mencuri ayam, berani mencuri suara, berani membohongi rakyat, tentu juga bentuk keberanian. Tapi sosok pahlawan adalah sosok yang punya keberanian dan tindakan yang dilakukannya adalah tindakan yang bersifat membela kebenaran. Jadi jika berani membela koruptor, tentu bukan tanda-tanda kepahlawanan. Apalagi berani membela penista agama, tentu sangat jauh untuk bisa dikategorikan sebagai pahlawan.

Ada istilah lain yang relevan dengan istilah pahlawan yaitu kepahlawanan. Makna kata kepahlawanan adalah perihal sifat pahlawan (seperti keberanian, keperkasaan, kerelaan berkorban, dan kekesatriaan). Sifat inilah yang harusnya dimiliki oleh setiap anak bangsa setiap kali tanggal 10 November hadir dalam kehidupan kita. Sehingga kita setiap tanggal 10 November tidak hanya sibuk melakukan upacara secara formal dan sibuk bernostalgia tentang peristiwa heroik pada masa lalu. Mengelu-elukan apa yang hebat yang dilakukan orang lain, tanpa pernah berusaha menjadi pahlawan atau berjiwa kepahlawanan untuk hari ini dan hari esok.


Sikap kepahlawanan tentu yang paling utama harus dimiliki dan ditampilkan oleh para pemimpin kita. Baik itu pemimpin formal kepemerintahan, kepolisian, ketentaraan, ataupun pemimpin informal kemasyarakatan. Karena dengan hadirnya para pemimpin yang berjiwa pahlawan, yang penuh keberanian, yang senantiasa membela kebenaran, maka para orang yang dipimpin akan serta merta terbawa dengan gaya kepahlawanan tersebut.

Dan sudah terbukti bahwa pemimpin yang kerjanya mengejek-ejek atau tiap kali ada persoalan mencari-cari kambing hitam atas kegagalannya, ternyata perilakunya itu sangat ditiru oleh para orang yang mengidolakannya. Itu kenapa media sosial kita hari ini penuh dengan berbagai hujatan mereka dan aksi bela diri dari orang-orang yang dihujat oleh para pendukung tokoh yang akhirnya terbiasa menghujat juga. Makanya menjadi paradoks atau menjadi bentuk kemunafikan ketika ada pemimpin yang meminta kepada masyarakat ramai agar jangan berperilaku buruk sedangkan dia tidak pernah mencontohkan bagaimana perilaku baik yang dia maksud.

Pemimpin yang layak menjadi pahlawan adalah pemimpin yang membawa rakyatnya dalam persatuan, bukan malah menggiring agar rakyatnya saling berhadap-hadapan yang siap mempertaruhkan nyawa demi sesuatu yang tidak ada manfaatnya kecuali buat keuntungan sang pemimpin. Bukan hanya tidak layak disebut pahlawan, pemimpin seperti ini layak disebut penjahat. Gaya yang bertolak belakang dengan pemimpin yang senantiasa menganjurkan kesabaran ketika kemarahan rakyat sudah diubun-ubun. Ini adalah merupakan contoh pemimpin yang berjiwa kepahlawanan yang penuh kearifan.

Sedangkan pemimpin yang bermain-main dengan bersilat lidah ketika penistaan yang terang benderang telah dilakukan tak lebih dari pemimpin jahat dan bodoh. Sangat tidak pantas dan jauh dari kepantasan bila dia mengajurkan persatuan dan menjaga persatuan sambil membiarkan seseorang atau sekelompok rakyat menghina seenaknya kelompok yang lain dalam sebuah negara yang menyebut dirinya negara hukum.

Pentingkah menjadi pahlawan hari ini di negara ini? Sangat penting. Kita tidak sedang merencanakan bangsa ini akan berakhir di tahun depan. Sejatinya kita malah merencanakan akan melakukan Pilkada Serentak 2017 untuk memilih ulang pemimpin yang terus berbuat kebaikan atau memilih pemimpin baru karena yang lama tidak patut untuk diteruskan, untuk sekian ratus jabatan gubernur, bupati dan walikota. Kita bersedia mengeluarkan biaya ratusan milyar untuk itu karena kita ingin terus membangun negara ini agar bisa menyejahterakan rakyatnya dan turun mengambil peran dalam peradaban kemanusiaan.

Para pemimpin dan seluruh rakyat harusnya bersekutu dan bahu membahu menghadirkan kebaikan bagi kepentingan bersama. Kita semua harus jadi pahlawan untuk kepentingan kita bersama. Jangan lagi kita menonjolkan kepentingan individu dan kelompok dan mengorbankan kepentingan yang lebih besar. Tidak patut kita menghabiskan energi yang begitu besar untuk membela penista agama.

Penista agama tidak mungkin menjadi simbol persatuan. Justru penista agama harus secepatnya ditindak agar tidak potensi memunculkan adanya penista-penista baru. Tidak mungkin kita bersatu jika dalam keseharian kita sibuk saling menista dan sibuk saling mengejek. Mari hadirkan pahlawan-pahlawan persatuan agar kita bisa tetap bisa hidup rukun dalam keberagaman.

Kita ini bukan anak SMA yang sibuk menikmati tawuran antar sekolah gara-gara saling senggol dua orang. Kita juga bukan warga antar kampung yang siap baku bunuh hanya gara-gara dua anak mudanya rebutan pacar.  Jangan geser konflik satu-satu pribadi bermasalah menjadi permasalahan kelompok. Seorang penista agama tidak pantas diberi pembelaan dengan menyiapkan dua kelompok massa besar beragama untuk saling hantam. Seorang kepala kepolisian tidak pantas membela teman baiknya yang berbuat kesalahan hukum. Seorang kepala pemerintahan tidak pantas melindungi teman seiringnya yang terang benderang menista agama yang bahkan sebenarnya dianutnya sendiri.

Di Hari Pahlawan ini, kita berharap Presiden dan Kapolri tampil menjadi Pahlawan Bangsa Masa Kini dengan menegakkan supremasi hukum, memberikan rasa tenteram pada batin rakyat banyak, mengingatkan semua pihak untuk tidak bermain-main untuk kepentingan sesaat yang dapat merusak keutuhan bangsa.

Akhirnya, mari kita semua berusaha menjadi pahlawan bagi bangsa ini. Selamat Hari Pahlawan! [***]

Penulis adalah Alumni ITB, Mantan Aktivis Mahasiswa, Pemerhati Politik Nasional

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

UPDATE

Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei Dimakamkan di Mashhad

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:21

Wall Street Ditutup Menguat Didorong Harapan Negosiasi Iran-AS

Jumat, 10 Juli 2026 | 08:08

Terjaring OTT KPK, Bupati Sukoharjo Diduga Peras Perangkat Daerah

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:50

Menkes Budi Ajak Kreator Jadikan Pola Makan Sehat Sebagai Tren Baru

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:45

Kepala Balai Teknik Perkeretaapian Jakarta Dicecar KPK soal Pengadaan Rel di DJKA

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:32

Harga Emas Melonjak Didorong Aksi Bargain Hunting dan Sentimen Geopolitik

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:21

Sentimen AI Pulihkan Bursa Eropa, STOXX 600 Menguat

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:12

OTT di Solo Raya: Selain Bupati Sukoharjo KPK Juga Amankan 4 Orang Lainnya

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:04

Ekonomi NTB Tumbuh 13,64 Persen, Peluang Lahirnya Inovasi Anak Muda Kian Terbuka

Jumat, 10 Juli 2026 | 07:01

Kepindahan Narji dari PKS ke PSI Dianggap Kutu Loncat Gurem

Jumat, 10 Juli 2026 | 06:58

Selengkapnya