Berita

Megawati/Net

Politik

Megawati Ajak Aljazair Perjuangkan Arsip GNB Masuk MOW UNESCO

SELASA, 25 OKTOBER 2016 | 10:46 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pemikiran dan perjuangan para tokoh Gerakan Non Blok terdokumentasi dalam arsip sejarah negara-negara yang terlibat dalam KAA maupun GNB. Karena itu, sudah saatnya negara-negara GNB mengkonsolidasikan keseluruhan arsip tersebut.

Demikian disampaikan Presiden Indonesia Kelima, Megawati Soekarnoputri, saat menyampaikan Pidato Kebudayaan pada Konferensi Internasional Arsip Gerakan Non-Blok sebagai Memory of the World UNESCO di Aljazair (23/10).

"Saatnya kita memperjuangkan dengan lebih serius agar arsip Gerakan Non Blok ditetapkan sebagai Memory of The World oleh UNESCO. Menjadikannya bukan hanya sebagai memori kolektif rakyat Indonesia, Aljazair, maupun negara-negara yang terlibat KTT Non Blok Pertama. Namun, menurut saya memang sudah menjadi tugas sejarah kita, kewajiban sejarah yang kita emban, agar menjadikannya memori dunia," tegas Megawati.


Dunia saat ini, Megawati mengingatkan, telah masuk abad ke 21. Maka menjadi sebuah pertanyaan mendasar apa tujuan konsolidasi negara-negara GNB ke depan.

"Akankah kita melupakan ikatan sejarah, lalu semua relasi yang kita bangun hanya didasarkan pada untung rugi ekonomi semata? Dapatkah kita kembali menumbuhkan ikatan emosional agar kita dapat membangun kerjasama yang dapat menciptakan kesejahteraan rakyat di masing-masing negara?" tanya Megawati.

Oleh karena itu, sambung Megawati, dibutuhkan memori atas peristiwa penting peradaban manusia, yang terjadi pada abad 20 yang dipelopori para pendiri bangsa-bangsa di kawasan Asia, Afrika dan Amerika Latin, dari memperjuangkan kemerdekaan, maupun membangun kerjasama untuk mengisi kemerdekaan. Ke semua arsip KAA dan Gerakan Non Blok, tidak boleh lagi hanya menghuni ruang-ruang kertas dan dokumentasi yang dingin dan terabaikan.

Menurut Mega, menjadikannya memori dunia adalah sebuah upaya kolektif antar bangsa untuk melahirkan generasi-generasi yang tidak buta sejarah, generasi-generasi yang tidak kehilangan semangat nasionalisme, namun tetap terlibat dalam hubungan internasional yang bebas aktif. Hubungan yang juga seharusnya tetap berdiri tegak dalam era globalisasi.

"Pasar bebas di era modern sekarang ini, perlu memori pengingat, agar dunia tidak menjadi tempat tumbuh suburnya eksploitasi atas nama investasi, atau menumbuhkan semangat nasionalisme sempit seperti fasisme, termasuk kekerasan yang mengatasnamakan apa pun," demikian Megawati. [ysa]

Populer

Menyorot Nuansa Politis Penetapan Direksi Pelindo

Senin, 02 Maret 2026 | 06:59

Harga Tiket Pesawat Kembali Tidak Masuk Akal

Selasa, 03 Maret 2026 | 03:51

Harianto Badjoeri Dikenal Dermawan

Senin, 23 Februari 2026 | 01:19

Rusia dan China akan Dukung Iran dari Belakang Layar

Minggu, 01 Maret 2026 | 04:20

Kecelakaan Moge di Kulon Progo, Istri Bos Rokok HS Meninggal

Senin, 02 Maret 2026 | 18:54

Jokowi Lebih Jago dari Shah Ruh Khan soal Main Drama

Senin, 23 Februari 2026 | 03:31

KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Sabtu, 28 Februari 2026 | 15:37

UPDATE

Nina Agustina Tinggalkan PDIP, lalu Gabung PSI

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:10

KPK Panggil Pimpinan DPRD Madiun Ali Masngudi

Kamis, 05 Maret 2026 | 16:08

Bareskrim Serahkan Rp58 Miliar ke Negara Hasil Eksekusi Aset Judol

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:53

KPK Panggil Lima Orang terkait Korupsi Pemkab Lamteng, Siapa Saja?

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:26

Dua Pengacara S&P Law Office Dipanggil KPK

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:20

Legislator PKS: Bangsa yang Kuat Mampu Produksi Kebutuhan Pokok Sendiri

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:16

Perketat Pengawasan Transportasi Mudik

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:09

Evakuasi WNI dari Iran Harus Lewati Jalur Aman dari Serangan

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:02

BPKH Gelar Anugerah Jurnalistik 2026, Total Hadiah Rp120 Juta

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:01

TNI Tangani Terorisme Jadi Ancaman Kebebasan Sipil

Kamis, 05 Maret 2026 | 15:00

Selengkapnya