Berita

derek manangka

Japto Minta Data Orang Cina Dikremasi, Dibuka

*Dipertanyakan, Migrasi Jutaan Warga Dari Cina Daratan
RABU, 13 JULI 2016 | 10:54 WIB | OLEH: DEREK MANANGKA

"SAYA bukan anti-Cina. Karena saya banyak teman orang Cina. Tapi banyak hal janggal yang menyangkut kehidupan orang Cina di Indonesia sedang terjadi di republik ini", tutur Japto Soerjosoemarno Kamis 7 Juli 2016.

Pernyataan di atas disampaikan Japto selaku pimpinan ormas Pemuda Pancasila kepada beberapa sahabat yang bertandang ke kediamannya, dalam rangka "Open House" Hari Raya Idul Fitri.

Japto antara lain menunjuk pada budaya kremasi. Orang meninggal lalu diperabukan. Bukan dikubur. Hampir semua orang Cina yang meninggal dunia di Indonesia, dikremasi.


Sekalipun kremasi merupakan ritual dan bagian dari tradisi orang Cina, tetapi tak urung Japto mengkritisinya.

"Coba teliti. Siapa yang mendata dan menyimpan data mereka yang sudah dikremasi? Tidak ada dan tidak ada yang tahu khan?" berkata Japto.

Nah di sini, tambahnya, sangat mungkin terjadi KTP dari mereka yang sudah meninggal, dikremasi, masih bisa digunakan kembali oleh mereka yang belum atau tidak punya indentitas.

Menurutnya sejauh ini tak satupun pemerintah daerah di Indonesia yang mendata mereka yang meninggal kemudian dikremasi. Sementara setiap tahunnya berlangsung kremasi di seluruh wilayah Indonesia dalam jumlah yang cukup besar.

"Karena tidak pernah didata, maka KTP orang yang sudah dikremasi atau meninggal, masih bisa digunakan oleh orang lain," tandas Japto lagi.

Sebelumnya, Japto mengeritik tentang ketidakwaspadaan pemerintah dalam mengawasi masuknya orang-orang Cina asal Tiongkok ke Indonesia.

Japto antara lain menunjuk sekaligus mencurigai pembangunan sejumlah apartemen untuk kalangan menengah.

Mulai dari Medan, pesisir Sumatera bagian Timur, hingga ke kawasan Jabodetabatek sampai ke arah Timur pulau Jawa.

Japto menyaksikan pembangunan sejumlah apartemen di sepanjang jalur itu sekalipun secara matematika ekonomi, kondisi perekonomian Indonesia tidak memungkinkan masyarakat membeli ruang-ruang tempat tinggal itu.

"Harga apartemen itu mahal. Tapi tetap saja laku. Dan yang pasti pembelinya bukan orang penduduk lokal. Coba cek siapa penghuninya ? Jadi wajar kalau pembangunan dan jual beli apartemen ini kita curigai," katanya.

Kecurigaan Japto semakin bertambah sebab pemerintah Indonesia secara resmi telah sepakat menerima migrasi warga Tionghoa dari daratan Tiongkok sebanyak 10 juta orang.

Bagi Japto jumlah tersebut relatif kecil. Sebab pendudukl RRT saat ini tidak kurang dari 1,4 miliar manusia. Dengan jumlah penduduk seperti itu, Tiongkok membutuhkan tempat tambahan bagi warganya.

"Jangankan 10 juta. 100 juta orang pun yang dipindahkannya ke Indonesia, tak akan mengganggu RRT"

"Yang paling saya khawatirkan kalau nanti dari 100 juta itu, 90 juta di antara mereka terdiri atas wanita. Ini akan menjadi beban tersendiri bagi Indonesia", kata Japto, pimpinan ormas pemuda yang tahun 2012 jumlahnya mencapai 3 juta orang.

Terkait dengan reklamasi Pantai Utara Teluk Jakarta, Japto mengatakan proyek ini sudah digagas di era pemerintahan Presiden Soeharto. Namun Pak Harto sendiri sejak awal tidak menyetujui gagasan tersebut. Karena dari segi dampak lingkungan reklamasi itu tidak bermanfaat. Lihat saja baru satu dua pulau yang mau dibangun, Pantai Indah Kapuk sudah kebanjiran.

Oleh karena itu, Japto melihat adanya semacam pemaksaan atas proyek reklamasi tersebut.

"Saya dengar", katanya, setelah reklamasi, di pulau-pulau buatan hasil reklamasi akan dibangun lapangan terbang.

Ini berarti proyek reklamasi merupakan proyek yang membutuhkan dana yang cukup besar. Sementara pemerintah Indonesia sendiri sedang bergulat menghadapi kekurangan dana.

Pertanyaannya dari mana asalnya dana besar untuk reklamasi itu ?

Seorang sahabat yang duduk berhadapan dengan Japto kemudian menjawab : "Dari Tiongkok?"

Japto hanya tersenyum. Senyum yang penuh arti. *****

*Penulis adalah jurnalis senior


Populer

Pensiunan ASN Bakal Terima Uang Pensiun Langsung dari Kas Negara pada 2027

Sabtu, 10 Oktober 2026 | 16:07

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Kuliah Bukan Bukti Tamat SMA

Senin, 12 Oktober 2026 | 10:55

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Bupati Klaten Dikabarkan Terjaring OTT KPK

Kamis, 15 Oktober 2026 | 11:10

Adik dan Orang Kepercayaan Kepala BNPB Suharyanto Dikabarkan Ditetapkan Tersangka KPK

Rabu, 14 Oktober 2026 | 10:12

UPDATE

Turbulensi Kepercayaan dalam Teropong Nobel Ekonomi

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 22:16

Jadi Tersangka KPK, Bupati Klaten Didepak PDIP

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:45

Kapolri Rangkul Ulama Jatim untuk Jaga Kamtibmas

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:32

Ilham Habibie hingga Chappy Hakim Dianugerahi Golden PIN INACA

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 21:02

DPR: Kehadiran Kapolri di BEI Sinyal Negara Serius Menegakkan Hukum

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 20:33

Ketua Gappura Minta DPR Turun Tangan Mediasi PHK dan GHS di Krakatau Steel

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:35

Walhi Soroti Tanggung Jawab Lintas Sektor dalam Penanganan Karhutla

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 19:28

Kementerian UMKM Pulihkan 908 Usaha Terdampak Bencana di Sumatera

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:51

Komjak Diminta Turun Tangan Teliti JPU di Kasus Febrie

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 18:30

Surati Presiden Prabowo, YLKI Minta Menteri Bahlil Dicopot

Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17:49

Selengkapnya