Berita

tony blair/net

Dunia

Blair Berbohong Kepada Rakyat Inggris Dan Dunia

KAMIS, 07 JULI 2016 | 10:54 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Keluarga dari ratusan tentara Inggris yang tewas selama perang Irak (2003-2011), meminta pemerintahnya menggunakan "Laporan Chilcot" untuk memastikan negara itu tidak pernah lagi membuat kesalahan besar dalam memutuskan berperang.

Laporan Chilcot adalah hasil penyelidikan Inggris terkait perang Irak, yang dipimpin Sir John Chilcot. Laporan tersebut mengungkap bahwa keterlibatan Inggris dalam perang Irak berdasarkan laporan intelijen yang "cacat”, terlalu dipaksakan, dan sangat salah.

Soal senjata pemusnah massal Irak yang disampaikan sebagai alasan berperang juga sama sekali tidak benar.


Dalam sebuah pernyataan, kelompok keluarga tentara Inggris yang tewas meminta jangan pernah ada lagi ada kesalahan yang mengorbankan nyawa orang Inggris dan menyebabkan kehancuran suatu negara tanpa akhir yang positif.

Analis politik Irak di Badhdad, Ahmed Rushdi, mengatakan bahwa laporan Chilcot ikut menegaskan bahwa Tony Blair, PM Inggris saat serangan dilakukan, adalah seorang pembohong.

"Dia berbohong kepada rakyat Inggris. Dia berbohong kepada masyarakat internasional,” katanya, dikutip Al Jazeera.

Rushdi juga mengatakan adalah tanggung jawab negara "penjajah" untuk mempertimbangkan konsekuensi dari perang.

"Mereka pergi ke Irak, menginvasi Irak, menghancurkan infrastruktur, menghancurkan rasa kebangsaan rakyat Irak, tanpa rencana pasca-perang yang jelas," katanya.

Laporan Chilcot menyimpulkan bahwa Blair mengatur Inggris pada jalur yang mengarah kepada kegiatan diplomatik di PBB untuk berpartisipasi dalam aksi militer, yang kemudian membuat Inggris sulit menarik dukungan untuk AS dalam perang itu.

Situasi di dalam Inggris sendiri sebelum perang itu berlangsung 13 tahun yang lalu diwarnai demonstrasi anti perang. Setidaknya satu juta orang berunjukrasa di London kala itu untuk menentang invasi militer.

Di kesempatan lain, Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan, pemerintah perlu belajar dari kesalahan bergabung dalam invasi ke Irak. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Keluarga Eks Pangkostrad Kemal Idris Akhirnya Raih Keadilan

Senin, 10 Agustus 2026 | 23:00

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Jokowi Masih Berperilaku seperti Penguasa RI

Senin, 10 Agustus 2026 | 03:00

UPDATE

Istana Merdeka Menjelma jadi Pusat Pesta Rakyat dan Surga Kuliner UMKM

Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:09

Mirza Fakhrul Islam Alamgir Terpilih Jadi Presiden Baru Bangladesh

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:52

Penanganan Bencana NTT Tidak Boleh Ada Kendala Anggaran!

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:38

Penumpang Bus NPM Pembawa Ratusan Vape Etomidate Diringkus Polisi

Kamis, 20 Agustus 2026 | 23:18

PDIP Lepas Kapal RS Apung Laksamana Malahayati ke Lokasi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:26

Purbaya Siapkan Rp3 Triliun Insentif untuk Satu Juta Motor Listrik

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:15

DPO Narkoba Club Malam Batam Diringkus saat Mau Kabur ke Malaysia

Kamis, 20 Agustus 2026 | 22:01

Dewan Adat Bamus Betawi Minta Warga Pati Tak Demo di Jakarta

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:30

Gibran Minta Maaf ke Pengungsi Gempa NTT

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:06

Sayembara Ijazah SMA Gibran Tak Mengubah Standar Pembuktian Hukum

Kamis, 20 Agustus 2026 | 21:02

Selengkapnya