Berita

rohan imtiaz/net

Dunia

Salah Satu Pelaku Teror Di Dhaka Anak Politisi Berkuasa

KAMIS, 07 JULI 2016 | 09:31 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Salah satu pria bersenjata yang terlibat dalam penyanderaan dan pembantaian 21 sandera di sebuah kafe di Dhaka, Bangladesh, pada akhir pekan lalu, adalah putra dari seorang pemimpin partai berkuasa di sana.

Dalam sebuah wawancara dengan NDTV, politisi Bangladesh dari Liga Awami, Imtiaz Khan Babul, mengidentifikasi anaknya yang berusia 21 tahun, Rohan Imtiaz, sebagai salah satu lima penyerang yang menyerbu Holey Artisan Bakery.

"Aku melihat gambar yang dirilis oleh ISIS itu, lagi dan lagi sebelum aku  konfirmasi itu adalah anak saya. Saya terpana melihat itu," kata Babul dikutip dari CNN.


Babul mengaku idak pernah melihat sesuatu yang abnormal atau mendapat indikasi anaknya terlibat dalam aksi kelompok militan atau Islam radikal.

"Saya tidak pernah melihat dia membaca atau mengakses materi jihad. Dia punya perangkat mobile. Saya tidak tahu apakah dia membaca materi jihad melalui itu. Seseorang pasti menanam pikiran radikal ini di kepalanya," ujar Babul

Ayah dari penyerang lainnya, Meer Hayet Kabir, mengaku belum mempercayai bahwa anaknya terlibat dalam penyanderaan itu. Dia adalah ayah dari Meer Sameh Mobasheer. Sama seperti penyerang yang lain, Mobasheer juga tewas ditembak petugas keamanan saat pembebeasan sandera.

"Ini tidak bisa dipercaya, Saya masih ingin percaya bahwa Sameh tidak di antara mayat-mayat itu. Saya masih ingin menunggu dan berharap,” ujarnya.

Para penyerang di Dhaka itu diketahui belakangan terdiri dari anak-anak muda, terdidik di sekolah atas yang baik dan menerima pendidikan sekuler. (Baca juga: Penyanderaan di Dhaka Berakhir)

Peneliti dari Bangladesh Enterprise Institute, Faiz Sobhan, menyebut latar belakang para penyerang itu "membingungkan".

"Mereka orang-orang biasa, yang nongkrong di kafe, bermain olahraga, memiliki halaman Facebook," katanya.

Hampir semua penelitian berbasis di Eropa dan Amerika Serikat menunjukkan bahwa lebih dari 70 pemuda militan yang direkrut ISIS berasal dari kelas menengah atau latar belakang orang kaya.

Banyak berasal dari keluarga sekuler, dan tidak terlalu religius sebelum mengalami radikalisasi. Mereka mempelajari ISIS dan ideologinya pada situs-situs seperti YouTube. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya