Berita

net

Dunia

Cacat Perang Irak Terbongkar, Tony Blair Bertanggung Jawab Penuh

KAMIS, 07 JULI 2016 | 07:46 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Rahasia di balik Perang Irak pada 2003 silam satu per satu terbuka. Inggris memutuskan untuk bergabung dengan invasi Irak berdasarkan data intelijen yang "cacat".

Pimpinan penyelidikan Inggris terkait perang Irak, Sir John Chilcot, menegaskan bahwa invasi ke Irak sangat salah.

"Aksi militer di Irak mungkin telah diperlukan di beberapa titik, namun pada Maret 2003, tidak ada ancaman langsung dari Saddam Hussein," katanya


Hasil penyelidikan yang disiapkan dalam tujuh tahun diterbitkan secara resmi pada hari Rabu kemarin. Berbicara 30 menit sebelum publikasi resmi, Chilcot mengatakan, Inggris memilih untuk bergabung dengan invasi ke Irak sebelum opsi damai untuk pelucutan senjata telah dijalankan.

Risiko senjata pemusnah massal Irak yang disampaikan sebagai alasan berperang juga sama sekali tidak berdasar.

Perdana Menteri Inggris saat itu, Tony Blair, berperang bersama-sama dengan Amerika Serikat tanpa dasar kuat.

Chilcot menyatakan, konsekuensi dari Perang Irak telah diremehkan saat itu.

Menanggapi laporan tersebut, Tony Blair, dalam sebuah konferensi pers menyatakan menerima tanggung jawab penuh tanpa kecuali untuk keputusan berperang di Irak.

Namun, Blair masih menegaskan bahwa dunia akan lebih baik tanpa Saddam Hussein.

Dia juga mengatakan keputusan itu adalah hal yang benar untuk dilakukan berdasarkan informasi yang ia punya.

Blair mengatakan kesalahannya hanya dalam "perencanaan dan proses" setelah invasi.

Seperti diketahui, ratusan ribu warga Irak dan setidaknya 179 tentara Inggris tewas selama konflik delapan tahun itu.

Penyidik ​​juga menemukan perencanaan dan persiapan untuk Irak setelah Hussein digulingkan sepenuhnya tidak memadai.

"Orang-orang Irak telah sangat menderita," kata Chilcot. [ald]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

UPDATE

PKS Minta Pemerintah Fokus Reformasi Kebencanaan, Bukan Merger Besar-Besaran

Kamis, 10 September 2026 | 10:25

Minyak Dunia Kembali Membara, Rupiah Tertekan ke Rp17.528 per Dolar AS

Kamis, 10 September 2026 | 10:10

Prabowo Bicara Masa Depan RI: 2050 Jadi Kekuatan Besar Dunia

Kamis, 10 September 2026 | 10:06

Usai Tiga Hari Ambruk, Harga Emas Antam Kembali Naik

Kamis, 10 September 2026 | 09:57

KPK Bidik Pemilik PT CMC dan Cara Dapat Proyek di Bengkulu

Kamis, 10 September 2026 | 09:39

Banding Kasus Penyiraman Air Keras, Imparsial: Status Tak Boleh Beri Jalur Hukum Khusus

Kamis, 10 September 2026 | 09:38

IHSG Dibuka Hijau, Investor Cermati Sentimen Global

Kamis, 10 September 2026 | 09:31

Mentan Amran Berduka, Tiga Petugas Pertanian Tewas Ditembak di Jayawijaya

Kamis, 10 September 2026 | 09:18

Prabowo Tekankan Pentingnya Persatuan dan Kerukunan dalam Demokrasi

Kamis, 10 September 2026 | 09:11

Bupati Lahat: Indonesia Terus Dukung Kemerdekaan Palestina

Kamis, 10 September 2026 | 09:04

Selengkapnya