Berita

Taufik Basari/net

Politik

Nasdem Apresiasi Klarifikasi Jokowi Soal Komunisme

RABU, 18 MEI 2016 | 00:14 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

. Partai Nasdem mengapresiasi klarifikasi dari Presiden Jokowi bahwa pelarangan ajaran komunisme jangan sampai melanggar kebebasan ekspresi dan aspek HAM lainnya. Pernyataan tersebut seperti disampaikan oleh Jurubicara Kepresidenan Johan Budi, Kamis lalau (12/5).

‎"Negara tidak boleh merawat fobia dan ketakutan yang menjadi legitimasi untuk membungkam pendapat dan pikiran," kata Ketua DPP Partai Nasdem, Taufik Basari dalam keterangannya, Selasa (17/5).

Menurutnya, kita harus berani mengakui peristiwa-peristiwa kelam di masa lalu yang pernah terjadi meskipun pahit.


Taufik mensinyalir, isu komunisme yang berhembus belakangan ini merupakan upaya dari kelompok-kelompok tertentu yang tidak ingin upaya rekonsiliasi nasional terwujud dengan baik.

"Komunis sebagai ideologi sudah tidak laku lagi di dunia, Partai Komunis di Indonesia juga sudah bubar. Untuk apa kita ketakutan pada sesuatu yang sudah tidak ada," tambahnya.

Taufik juga menyayangkan adanya tindakan berlebihan terhadap buku-buku yang menuliskan tentang sejarah tragedi 65 dan setelahnya ataupun penulisan-penulisan ilmiah mengenai pemikiran Marx dan komunisme yang dimaksudkan sebagai bahan rujukan akademik. Taufik yang juga mengajar filsafat di Universitas Indonesia menegaskan bahwa ruang berpikir dan akses pengetahuan tidak boleh ditutup, apalagi dengan alasan ketakutan yang tidak berdasar.

Dalam Nawacita, Jokowi-JK berjanji untuk menuntaskan pelanggaran HAM masa lalu. Menurut Taufik, janji itu mesti dilaksanakan dan dicarikan formula yang terbaik agar terdapat pengungkapan kebenaran, pelurusan sejarah, dan pemenuhan keadilan bagi para korban pelanggaran HAM. Simposium nasional yang digelar oleh pemerintah beberapa waktu lalu adalah langkah maju dari kepemimpinan Jokowi.

Terkait upaya rekonsiliasi ini, Taufik mengusulkan agar dapat diterima semua pihak, maka baik peristiwa sebelum dan setelah tahun 1965, dua-duanya diungkap sebagai catatan sejarah.

"Kita sampaikan apa adanya, bahwa pada masa Orde Lama terdapat ketidakmampuan negara untuk menegakkan hukum dan menjamin rasa aman dalam peristiwa-peristiwa dan konflik horizontal antara PKI dan kelompok religius di tahun 1960-an hingga 1965. Di sisi lain, kita juga harus mengungkap bahwa pernah terjadi pembantaian, penyiksaan, penangkapan dan penahanan sewenang-sewenang serta diskriminasi berkepanjangan terhadap warga negara pasca peritiwa Gerakan 30 September 1965," usul Taufik.

Dengan pengungkapan dari kedua sisi ini, tambahnya, diharapkan semua pihak memahami bahwa tujuan pengungkapan sejarah ini adalah untuk kebaikan bangsa.

"Bangsa yang besar adalah bangsa yang jujur dan berani mengakui kesalahannya, kemudian memperbaiki diri agar tidak terulang lagi di masa mendatang," tutupnya. [rus]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

35 Ribu Loker Kopdes Merah Putih dan Kampung Nelayan Dibuka, Status BUMN

Kamis, 16 April 2026 | 08:14

Wall Street Melejit: S&P 500 dan Nasdaq Cetak Rekor Baru

Kamis, 16 April 2026 | 08:12

Danantara Gandakan Investasi di Timur Tengah, Fokus pada Ketahanan Energi

Kamis, 16 April 2026 | 07:55

Emas Tergelincir di Tengah Redanya Ketegangan Timur Tengah

Kamis, 16 April 2026 | 07:35

Peringkat Utang Asia Tenggara di Ujung Tanduk, Indonesia Paling Rentan

Kamis, 16 April 2026 | 07:20

Bursa Eropa: Indeks STOXX 600 di Zona Merah, Sektor Luxury Brand Terpukul

Kamis, 16 April 2026 | 07:07

Balai K3 Harus Cegah Kecelakaan Kerja Semaksimal Mungkin

Kamis, 16 April 2026 | 06:53

BGN Gandeng Bobon Santoso Gelar Masak Besar MBG

Kamis, 16 April 2026 | 06:25

Kemelut Timur Tengah: Siapa Keras Kepala?

Kamis, 16 April 2026 | 05:59

Polisi Ciduk Tiga Remaja Terlibat Tawuran, Satu Positif Sabu

Kamis, 16 April 2026 | 05:45

Selengkapnya