Berita

Amelia Anggraini/net

Politik

Amelia Nasdem: Anggota DPR Tidak Bisa Dipukul Rata

SELASA, 17 MEI 2016 | 04:30 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) menyatakan ada potensi kerugian negara lebih dari Rp 900 miliar dari kunjungan kerja (kunker) perorangan anggota DPR. Menanggapi hal tersebut, anggota Badan Kerja Sama Antar Parlemen (BKSAP) DPR, Amelia Anggraini menegaskan bahwa publik harus melihatnya secara obyektif.

"Kita harus melihatnya pada kacamata yang obyektif," kata Amelia dalam keterangannya, Selasa (17/5).

Anggota Fraksi Partai Nasdem ini mengatakan, kalaupun ada oknum yang melakukan kunker fiktif, itu menjadi otokiritk buat DPR. Kendati demikian, tidak serta merta publik begitu saja menghujat DPR.


"Kewibawaan lembaga DPR jadi miring banget. Bagaimana dengan anggota DPR yang benar-benar kerja? Kan nggak bisa dipukul rata begitu," gugatnya.

Dalam konteks kunker fiktif anggota DPR, Amelia meminta publik melihat dalam perspektif yang holistik. Dia mencontohkan, kunker ke luar negeri yang dilakukan oleh BKSAP, maupun Komisi I. Menurutnya, alat kelengkapan dewan tersebut benar-benar melakukan kunker.

Oleh karena itu publik jangan asal hujat. Sebab, di sisi lain, jika dua alat kelengkapan tersebut tidak bisa menjalankan fungsi diplomasi, akan berimplikasi terkucil dari pergaulan internasional.

"Publik kan harus tahu event yang dilakukan BKSAP. Misalnya, forum Inter Parliamentery Union (IPU), Women in Parliaments Global Forum (WIP). Itu kan luar biasa manfaatnya, dan menjadi referensi juga buat pemerintah," terang Anggota Komisi IX ini.

Untuk membenahi sistem di internal DPR, Amelia mengusulkan ada mekanisme kontrol dari masing-masing pimpinan fraksi.

"Fraksi harus mengidentifikasi anggota-anggotanya yang indispliner. Harus ada punishment. Disiplinkan dong anggotanya, benahi dong anggotanya!" ungkapnya.

Pembenahan lain, imbuh Amelia, mengedukasi masyarakat supaya memiliki cara berpikir obyektif.

"Yang kerja bener banyak kok. Harus kita edukasi masyarakat supaya ada cara berpikir obyektif positif. Kalau gak, lembaga DPR ini makin terpuruk ke depan," tukasnya. [rus]

Populer

Jaksa KPK Ungkap Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terima Rp3 M per Bulan

Jumat, 12 Juni 2026 | 18:11

Harga Tiket Mahal, Jakarta Fair Bukan Lagi Pesta Rakyat

Senin, 15 Juni 2026 | 02:37

Sony Sonjaya Teringat Pengacara Elza Syarief saat Dicokok Penyidik Kejagung

Rabu, 17 Juni 2026 | 01:00

Sony Sonjaya Dipaksa Setop Bicara saat Ungkap 26 Nama Diduga Terlibat Kasus MBG

Rabu, 17 Juni 2026 | 02:07

Masuk Ragunan Gratis dalam Rangka HUT Jakarta, Catat Tanggalnya

Senin, 15 Juni 2026 | 19:07

KPK Didesak Panggil Zita Anjani Buntut Harta Meroket 1.000 Persen

Kamis, 18 Juni 2026 | 04:19

26 Nama Besar dari Sony Sonjaya di Korupsi MBG Dicatat Rapi

Rabu, 17 Juni 2026 | 03:11

UPDATE

Transformasi Besar-besaran Prabowo Bikin Banyak Orang Kaget

Minggu, 21 Juni 2026 | 14:14

Wapres AS Tiba di Swiss untuk Perundingan Damai dengan Iran

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:50

KPK Ungkap Modus Pinjam Bendera di Proyek Gedung Pemkab Lamongan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:19

Prabowo Ucapkan Selamat Ulang Tahun ke-65 untuk Jokowi Lewat Instagram

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:05

Tidak Kena Pajak Daerah, Lapangan Golf Senayan Ottolima Layak Dievaluasi

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:04

Pemerintah Sambut Kritik Mahasiswa sebagai Penyempurna Kebijakan

Minggu, 21 Juni 2026 | 13:00

Nanik S. Deyang Dituntut Audit Total BGN dan Program MBG

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:32

Pemerintah Harus Siapkan Solusi Jangka Panjang Usai Pemadaman Listrik Bergilir di Jawa

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:24

KPK-Pemprov DKI Sebarkan Pesan Antikorupsi Lewat Halte Setiabudi Integritas

Minggu, 21 Juni 2026 | 12:22

Seskab dan Kepala BNN Diskusikan Ancaman Peredaran Narkoba Lewat Vape

Minggu, 21 Juni 2026 | 11:59

Selengkapnya