Berita

foto:net

Kerusakan Lingkungan Semakin Menyedihkan

Ekspansi Tambang Batubara Serbu Pedesaan
JUMAT, 01 APRIL 2016 | 09:15 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Greenpeace Indonesia dan Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) meluncurkan hasil investigasinya soal ekspansi tambang barubara yang terus menyerbu desa-desa di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
 
Saat ini Pulau Kalimantan merupakan penghasil batubara terbesar di Indonesia. Namun lesunya permintaan pasar dunia membuat ekspansi tambang ba­tubara mulai melambat.

Koordinator Kampanye Iklim dan Energi Greenpeace Asia Tenggara, Arif Fiyanto menutur­kan, hasil investigasi Greenpeace dan Jatam menunjukkan, ekspansi tambang batubara di Indonesia menjadi penyebab masifnya kehancuran bentang alam dan kerusakan lingkungan. Namun ekspansi tersebut sedang melam­bat lantaran pasar batubara sedang mengalami kelesuan.


"Kesepakatan Paris pada Desember 2015 lalu juga men­dorong negara-negara di dunia beralih ke sumber energi yang bersih dan terbarukan. Bahkan China dan India tengah meninjau ulang penggunaan energi batubara akibat tingginya polusi udara di negara tersebut," katanya.

Polusi udara di beberapa ko­ta di Indonesia yang semakin parah memunculkan desakan masyarakat agar penggunaan batubara dibatasi. Dia mengaku kecewa dengan sikap pemerintah yang masih melihat pertamban­gan batubara sebagai penggerak perekonomian. Padahal tambang batubara di Indonesia sangat iden­tik dengan kerusakan lingkungan, perampasan tanah rakyat, hingga izin yang bermasalah.

Arif menuturkan, meski Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah merekomendasikan agar pemerintah mencabut 728 izin tambang yang bermasalah, namun belum juga dieksekusi. "Korupsi di sektor minerba sudah jelas, setiap menjelang pilkada izin tam­bang dikeluarkan secara masif," ungkapnya.

Rencana pemerintah beralih ke sumber energi yang terbarukan juga belum jelas realisasinya. Dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) pemerintah menargetkan pada tahun 2025 energi terbarukan mengambil porsi 23 persen dari total sumber daya energi yang ada.

"Inipun juga kurang efektif, lantaran sumber energi terbaru­kan itu berasal dari PLTA skala besar juga menimbulkan keru­sakan lingkungan dan konflik sosial," tandasnya.

Juru Kampanye Batubara Greenpeace Indonesia, Bondan Andriyanu menuturkan, pihaknya telah melakukan investigasi ke beberapa desa yang mengalami dampak akibat pertam­bangan batubara. Desa Kerta Buana, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur menjadi bukti bahwa pertamban­gan batubara terus menyerbu hingga ke desa-desa.

"Desa Kerta Buana ini pen­duduknya adalah transmigran dari Bali, mereka menempati wilayah tersebut sejak 1980, mata pencaharian warga umum­nya bertani," katanya.

Sejak diserbu pertambangan batubara, lahan persawahan kini beralih fungsi. Tiap hari banyak truk yang lalu lalang, sementara warga mengeluhkan debu dari aktivitas pertambangan. Tak hanya itu, perusahaan tambang juga mulai mengiming-imingi warga untuk menjual tanahnya.

"Bagi warga desa menjual tanah adalah pilihan sulit karena tanah dianggap sebagai ibu bumi, sementara kalau tidak pu­nya tanah mereka tidak bisa lagi menanam padi," kata Bondan.

Sawah-sawah milik petani juga terancam kekeringan di musim kemarau dan kebanjiran di musim hujan. Sungai dan saluran iri­gasi mereka sudah menjadi lokasi pertambangan. "Sejak adanya pertambangan warga terpaksa membeli air minum lantaran air sumur mereka sudah tidak layak minum," sebutnya.

Sementara di Jorong, Kabupaten Tanah Laut, Kalimantan Selatan, warga dirugikan dengan lubang-lubang bekas tambang yang ditinggalkan begitu saja. "Bahkan ada lubang tambang selebar 2 kilometer yang diting­galkan dan kondisinya sangat berbahaya," kata Bondan.

Berdasarkan hasil investi­gasi Greenpeace, tingkat keasa­man air di lubang tambang di atas rata-rata. "Keasamannya berkisar 3,15 hingga 6,66, air ini tidak layak dikonsumsi atau digunakan untuk keperluan sehari-hari," terangnya.

Dia menambahkan, ada peru­sahaan tambang batubara yang ingin mengalihkan aliran Sungai Santan di Kalimantan Timur den­gan alasan peningkatan produksi. "Padahal, kini kualitas air menurun hingga banyak ikan yang mati mendadak. inisiatif pemerintah sangat kurang," ujarnya. ***

Populer

Abu Janda Cs Jangan Sampai Lolos

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:00

Profil Achmad Syahri Assidiqi: Legislator Gerindra 'Gamer' Anak Eks DPR RI

Selasa, 12 Mei 2026 | 20:12

Jangan Biarkan Dua Juri Final LCC Lolos dari Sanksi UU ASN

Kamis, 14 Mei 2026 | 12:43

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Inilah Bupati Sitaro Chyntia Ingrid Kalangit yang Diborgol Kejati

Minggu, 10 Mei 2026 | 01:09

Tetangga Sudah Mendahului, Indonesia Masih Berpidato

Jumat, 15 Mei 2026 | 05:30

Djaka Budi Utama Belum Tentu Bersalah dalam Kasus Suap Bea Cukai

Sabtu, 09 Mei 2026 | 02:59

UPDATE

IPC TPK Catat Pertumbuhan Positif pada Awal Triwulan II 2026

Selasa, 19 Mei 2026 | 16:10

Rekayasa Lalin di Harmoni Berlaku hingga September Imbas Proyek MRT Jakarta

Selasa, 19 Mei 2026 | 16:01

Membaca Ulang Tantangan Klaim Pertumbuhan Ekonomi 5,61 Persen

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:59

Belum Ada Update Nasib 5 WNI yang Ditahan Israel

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:58

Cadangan Beras RI Tembus 5,37 Juta Ton, Tertinggi Sepanjang Sejarah

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:52

Optimisme Pemerintah Jangan Sekadar Lip Service

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:50

KSAD Tegaskan Pembubaran Nobar ‘Pesta Babi’ Atas Permintaan Pemda

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:45

Beras RI Berlimpah, Zulfikar Suhardi Harap Harga Tetap Terjangkau

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:26

Prabowo Dijadwalkan Hadir di DPR Bahas RAPBN 2027

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:26

Dosen Lintas Kampus Kolaborasi Dorong Perlindungan Kerja

Selasa, 19 Mei 2026 | 15:15

Selengkapnya