Berita

ilustrasi/net

Dunia

Sejak Perang Dunia II, Plastik Bikinan Manusia Sudah Cukup Untuk Membungkus Bumi

MINGGU, 24 JANUARI 2016 | 15:17 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Sejak Perang Dunia Kedua, Manusia telah cukup memproduksi plastik untuk melapisi keseluruhan bumi dengan bungkus plastik.

Begitu hasil sebuah studi internasional yang diterbitkan dalam jurnal Anthropocene.

Dalam penelitian tersebut disebutkan pula bahwa saat ini tidak ada bagian di bumi ini yang bebas dari bencana sampah plastik. Seluruh bagian bumi telahtercemar dengan sisa-sisa wadah ari, tas supermarket, polystyrene, compact disc, kiat filter rokok, nilon dan plastik lainnya.


Temuan para ilmuan itu mencengangkan karena menunjukkan bahwa aktivitas manusia terkait plastik saat ini telah memiliki dampak sangat buruk dalam perusakan bumi.

"Hasil ini ditemukan sebagai kejutan nyata," kata penulis utama studi tersebut, Profesor Jan Zalasiewicz, dari Leicester University.

"Kami menyadari bahwa manusia telah membuat peningkatan jumlah berbagai jenis plastik selama 70 tahun terakhir, tapi kami tidak tahu seberapa jauh plastik-plastik itu telah melakukan perjalanan putaran planet ini. Ternyata bukan hanya telah melayang di lautan, tetapi telah tenggelam ke bagian terdalam dari dasar laut. Ini bukan tanda bahwa planet kita berada dalam kondisi yang sehat baik," bebernya.

Titik penting tentang temuan penelitian ini adalah bahwa kemunculan plastik sekarang harus dianggap sebagai penanda untuk zaman baru.

Zalasiewicz yang memimpin tim peneliti bertugas untuk menilai apakah kegiatan manusia saat ini telah berujung pada penciptaan planet menjadi zaman geologi baru, yang disebut Anthropocene. Zaman tersebut mengakhiri Holocene yang dimulai sekitar 12.000 tahun yang lalu.

Sebagian besar anggota komite Zalasiewicz percaya Anthropocene telah dimulai. Bulan ini mereka menerbitkan sebuah laporan di mana mereka berpendapat bahwa beberapa kegiatan manusia pascaperang menunjukkan spesies kita saat ini telah mengubah geologi. [mel]

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

Advokat Pitra Romadoni Dipanggil Polres Bogor

Rabu, 09 September 2026 | 01:15

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

KPK Periksa Karyawan PT SCGU

Selasa, 08 September 2026 | 15:34

Purbaya Bantah Terima Suap untuk Pertahankan Pejabat Bea Cukai

Sabtu, 05 September 2026 | 16:59

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

UPDATE

PLN Perluas SPKLU Signature Dukung Ekosistem Kendaraan Listrik

Minggu, 13 September 2026 | 08:21

Pemerintah Didesak Tetapkan Status Darurat Kesehatan Imbas Karhutla

Minggu, 13 September 2026 | 08:01

AntreEV Permudah Antrean SPKLU Lewat PLN Mobile

Minggu, 13 September 2026 | 07:40

Tak Ada Kerusakan Akibat Gempa di Perairan Kepulauan Seribu

Minggu, 13 September 2026 | 07:03

Bisa Pengaruhi Investor, Penegak Hukum Ditantang Adil di Kasus Transfer Pricing

Minggu, 13 September 2026 | 06:51

Inovasi Jebolan Program Pertamuda Pertamina Bantu Nelayan Peroleh Cuan

Minggu, 13 September 2026 | 06:21

Ketika Hukum Terlihat Sedang Mencari Pasal, Bukan Kebenaran

Minggu, 13 September 2026 | 05:47

Nilai Adat Harus Dipegang Teguh dan Diwariskan ke Setiap Generasi

Minggu, 13 September 2026 | 05:16

Budi Daya Lobster Modeling Batam Tembus Pasar Ekspor, Daerah Lain Siap Menyusul

Minggu, 13 September 2026 | 04:43

Strategi Pengusaha Indonesia Hadapi CBAM EU dan IEU-CEPA

Minggu, 13 September 2026 | 04:14

Selengkapnya