Berita

nasaruddin umar/net

POTENSI KONFLIK KEAGAMAAN (2)

Pendidikan Monoreligion

JUMAT, 06 NOVEMBER 2015 | 09:15 WIB | OLEH: NASARUDDIN UMAR

DUNIA pendidikan keagamaan kita dari dulu sampai sekarang masih menggunakan pola pengajaran monoreligion dalam arti masing-masing agama diajarkan tersendiri kepada para pe­meluknya. Misalnya peserta didik yang beragama Islam diajarkan agama Islam, yang beragama Protestan diajarkan agama Prot­estan, yang beragama Katolik diajarkan agama Katolik, yang beragama Hindu diajarkan agama Hindu, yang beragama Budha diajarkan agama Budha, dan seterusnya. Kementerian Agama bertanggung jawab untuk membantu menyiap­kan fasilitas, termasuk guru-guru agama ses­uai dengan kebutuhan peserta didik.

Konsekwensi pendidikan monoreligion, pe­serta didik didoktrin untuk memahami dan meyakini agamanya yang paling benar, sedang-kan agama lain tidak benar, walaupun harus di­akui keberadaannya dan diserukan untuk ber­toleransi satu sama lain, sebagai konsekwensi negara kita negara Pancasila, yang mengakui sejumlah agama. Doktrin monoreligion yang mengendap di dalam alam bawah sadar pe­serta didik melekat sepanjang masa. Akhirnya setiap orang berusaha untuk mempertahank­an dengan berbagai cara untuk menyatakan agama yang dianutnyalah yang paling benar. Jika sang pengajarnya berasal dari kelompok garis keras, bisa saja mendramatisasi sede­mikian rupa supaya anak-anak didiknya mem­perjuangkan kebenaran Tuhan sebagaimana yang telah didoktrinkan kepadanya dan men­doktrinkan kebencian terhadap agama lain.

Doktrin monoreligion sebagai satu-satunya agama yang benar diwarisi turun temurun, dari generasi ke generasi. Secara implisit doktrin monoreligion diperkenalkan sebuah asumsi utama: Semua agama mempunyai misi yang baik tetapi tidak semua agama benar. Yang benar tentu saja satu-satunya agama yang te­lah didoktrinkan ke dalam dirinya, baik di seko­lah maupun di dlam rumah tangga. Akibatnya ada suasana batin menganggap dirinya lebih baik, menempuh jalan paling benar, dan selain agama yang dianutnya dianggap tidak benar dan sesat. Kalau perlu ditanamkan kebencian terhadap agama lain.


Pemahaman seperti ini sangat rawan untuk diprovokasi. Konflik-konflik yang terjadi di da­lam masyarakat sangat rentan menjadi konflik keagamaan, terutama kalau yang berkonflik itu kebetulan berbeda agama. Banyak kasus yang dianggap konflik agama di Indonesia se­sungguhnya tidak tepat disebut konflik agama. Hanya karena kasus itu melibatkan simbol-sim­bol agama, terutama mengutip kitab suci un­tuk membakar semangat dan mencari dukun­gan, maka terjadilah "konflik agama" itu. Konflik agama jauh lebih dahsyat daripada konflik etnik dan primordial lainnya, sebagaimana dijelaskan di dalam artikel terdahulu.

Untuk mengatasi masalah ini sudah waktunya dilakukan pola pengajaran multireligion, dimana berbagai agama diajarkan secara komperhensif di samping agama utama yang diajarkan sesuai degan penganutnya. Misalnya selain mengajar­kan agama Islam kepada para peserta didik yang beragama Islam, sebaiknya juga diperkenalkan ada agama lain yang memiliki titik temu (encoun­ters) dengan agama utama yang diajarkan. Me­mang bisa dimengerti pola pengajaran multireli­gion ini bisa menimbulkan pemahaman sinkretis atau pengaburan substansi ajaran agama utama, tetapi kalau dibuatkan sistem, kurikulum, dan si­labusnya dengan baik maka bisa terhindar dari kekhawatiran itu. ***

Populer

Menko Yusril: Mundur dari Jabatan, Tak Gugurkan Tanggung Jawab Hukum Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 19:13

Parpol seperti Kompak Menolak Bela Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:35

Siaga 98 Desak DPR Kaji Putusan MK Terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 09:41

Purnawirawan TNI Bersikap Kenegarawanan soal Putusan MK terkait Gibran

Minggu, 11 Oktober 2026 | 04:50

Firli Bahuri Sandang Gelar Doktor Hukum, Raih Gelar Summa Cumlaude

Sabtu, 03 Oktober 2026 | 16:33

Pengusaha Keberatan Masa Kerja Karyawan Kontrak Dipangkas jadi Empat Tahun

Kamis, 08 Oktober 2026 | 18:20

Legislator PAN Minta Menteri Imipas Tangguhkan Pengunduran Diri Dirjenpas Mashudi

Jumat, 02 Oktober 2026 | 17:36

UPDATE

Persib Naik Peringkat Usai Tahan Imbang Dewa United

Senin, 12 Oktober 2026 | 02:20

Menata Kembali Pendidikan Kita

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:58

Koperasi di Bima Sukses Produksi Garam Merah Putih

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:35

Golkar Perkenalkan Sistem Dapil Nasional, Begini Penjelasannya

Senin, 12 Oktober 2026 | 01:15

Dua Tahun Prabowo-Gibran: Paradoks Kebijakan Pertahanan Negara

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:48

Baintelkam Polri Alami Perombakan di Era Suyudi

Senin, 12 Oktober 2026 | 00:20

Taruna Merah Putih Gelar Taman Talks Kupas Masa Depan Kerja di Era AI

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:45

Polemik Revitalisasi Taman Coatesville, Warga Protes Bangunan 480 Meter Persegi

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:33

Pangandaran Run 2026 Rajut Kebersamaan TNI dan Rakyat

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:18

Manggala Agni Turun Tangan Padamkan Karhutla yang Mendekati Permukiman

Minggu, 11 Oktober 2026 | 23:07

Selengkapnya