Berita

yusril-jokowi dalam sebuah kesempatan/ist

Soal Papua dan Freeport, Yusril: Kalau Jokowi Tidak Hati-hati, Bisa Ngeri Ini

KAMIS, 05 NOVEMBER 2015 | 21:22 WIB | LAPORAN:

Indonesia memang masih belum sanggup untuk mengelola tambang emas yang saat ini dikuasai PT Freeport. Namun, Jokowi harus memastikan renegosiasi kontrak karya perusahaan asal Amerika Serikat itu harus lebih menguntungkan Indonesia.

Demikian disampaikan Ketua Umum Partai Bulan Bintang Prof. Yusril Ihza Mahendra saat berbincang dengan wartawan beberapa saat lalu, Kamis (5/11).

"Renegosiasi itu perlu, Jadi harus ada yang menguntungkan Indonesia. Ada faktor nonekonomi, tidak perlu dituangkan dalam kontrak. Tapi kesepakatannya untuk keuntungan wilayah Indonesia. Tak perlu eksplisit misalnya ditulis agar Papua tak merdeka, tapi untungnya Indonesia harus merasakan," kata Yusril.


Pakar hukum negara ini menyarankan Jokowi harus melihat bagaimana cara mantan Presiden SBY dalam memelihara Papua dan Aceh agar tidak merdeka. Sebab dalam amatannya, pada masa Jokowi ini mengalami kemunduran dalam hal menjaga provinsi paling Timur Indonesia tersebut.

"Negara-negara Pasific keluarkan statement agar Papua merdeka. Ini kemunduran Jokowi. Saya ingatkan pada Jokowi agar hati-hati masalah Papua ini. Saya pengalaman tangani kerusahan Aceh, saya susun UU Papua. Kalau tidak hati-hati ngeri ini," kata Yusril, yang pernah menjadi menteri di era Pemerintahan Gus Dur, Megawati dan SBY ini.

Menurutnya, isu Papua Merdeka mudah untuk diprovokasi karena pemerintah pusat lemah dalam memperhatikan pulau-pulau di Indonesia bagian timur.

Atas dasar itu, Yusril berpendapat soal renegosiasi Freeport tak perlu terlalu anti asing. Yang penting dalam pembahasan regulasi kontrak karya baru itu, Pemerintah harus menunjukkan sebagai negara Indonesia dan bisa menguntungkan rakyat.

"Kalau modal asing sama modal orang awak sama saja. Kapitalis di negeri sendiri malah kadang lebih kejam dari kapitalis asing. Uang nggak ada baunya. Jadi sikap negara yang penting. Jangan begitu saja menyerah," beber Yusril. [zul]

Populer

Seminar Petisi Ahli Diramaikan Pensiunan Jenderal hingga Akademisi Hukum

Selasa, 07 April 2026 | 05:19

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

KPK Panggil Boediono dalam Kasus Suap Pajak KPP Madya Jakarta Utara

Selasa, 07 April 2026 | 12:34

Bos Rokok HS dan Pengusaha Lain Diduga Beri Uang ke Pejabat Bea Cukai

Selasa, 07 April 2026 | 11:04

Bayang-Bayang LDII

Rabu, 08 April 2026 | 05:43

Giliran Sekda Kota Madiun Dipanggil KPK dalam Kasus Pemerasan Maidi

Senin, 13 April 2026 | 14:18

Atap Terminal 3 Ambruk, Penerbangan di Bandara Soekarno-Hatta Dialihkan

Senin, 06 April 2026 | 16:10

UPDATE

Kasum TNI Buka Rakernas Taekwondo Indonesia 2026

Jumat, 17 April 2026 | 03:56

Gubernur Luthfi Ajak Kadin Berantas Kemiskinan Ekstrem di Jateng

Jumat, 17 April 2026 | 03:42

Halalbihalal dan Syal Palestina

Jumat, 17 April 2026 | 03:21

Soenarko Minta Prabowo Jangan Diam soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 02:59

BGN Minta Pemprov Sulteng Gandeng Influencer Lokal Tangkal Hoax MBG

Jumat, 17 April 2026 | 02:49

Prabowo Jangan Lagi Pakai Orang Jokowi Buntut Penangkapan Ketua Ombudsman

Jumat, 17 April 2026 | 02:24

Penyidik Kejati Angkut Sejumlah Berkas Usai Geledah Kantor Dinas ESDM Jatim

Jumat, 17 April 2026 | 01:59

Aktivis dan Purnawirawan TNI Gelar Aksi di DPR soal Kasus Ijazah Jokowi

Jumat, 17 April 2026 | 01:45

Purbaya Anggap Santai Peringatan S&P: Defisit Kita Masih Terkendali

Jumat, 17 April 2026 | 01:25

Anak TK Pun Tidak Percaya Motif Pelaku Penyiraman Air Keras ke Andrie Yunus

Jumat, 17 April 2026 | 00:59

Selengkapnya