Berita

denny ja/ist

Ada e-Book, Frankfurt Book Fair Harus Persiapkan Perubahan Diri

SENIN, 19 OKTOBER 2015 | 13:29 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Dalam waktu dekat, Frankfurt Book Fair sebagai pameran buku terbesar dan tertua di dunia akan mengalami perubahan besar. Ini lantaran industri buku akan berubah dari yang berbentuk cetak menjadi eBook atau buku elektronik.

Begitu predisksi pendiri LSI, Denny JA di hadapan pimpinan ICG (Perhimpunan Komunitas Indonesia Jerman untuk Kultur dan Bisnis) R. Adriana saat mengunjungi stand Indonesia di hari terakhir Frankfurt Book Fair, Minggu (18/10).

"Apa yang kita lihat saat ini di Franfurt Book Fair adalah raksasa. Namun ini raksasa seperti dinousarus yang segera punah jika Frankfurt Book Fair tak mempersiapkan respon yang tepat menghadapi perubahan zaman," katanya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (19/10).


Melihat tradisi panjang Frankfur Book Fair yang sudah berusia 200 tahun, Denny percaya, respon yang tepat akan terjadi dan Frankfurt Book Fair akan ikut mengubah orientasinya.

Dalam kesempatan ini, Denny memberikan lima alasan yang mendasari prediksinya itu. Pertama mengenai trend prosentase penjualan eBook dibandingkan buku konvensional.

Denny  mengutip data dari dugcampbel.com. Di tahun 2008, penjualan eBook di Amerika Serikat hanya di bawah 2 persen. Namun di tahun 2013 meningkat menjadi 30 persen. Hanya dalam waktu 5 tahun, penjualan buku eBook meningkat 1.500 persen.

"Trend yang terjadi di Amerika Serikat akan juga terjadi di belahan dunia lain karena bekerjanya arus perubahan yang sama," jelasnya.

Kedua, harga eBook akan sangat jauh lebih murah karena tak memerlukan kertas dan tak memerlukan ongkos kirim. Akibatnya untuk membaca buku yang sama, pembeli hanya perlu mengeluarkan dana sampai 10 persen saja ketimbang ia membeli buku cetak plus ongkosnya. Trend bisnis selalu akan memihak kepada harga yang lebih murah dan efisien.

Ketiga, eBook dapat dibeli dengan cara yang jauh lebih cepat. Cukup dengan kindle book misalnya, detik itu dipesan, detik itu juga bisa dibaca oleh pembeli karena buku itu langsung terunduh secara elektronik.

"Berbeda dengan buku biasa yang membutuhkan waktu pengiriman," sambungnya.

Keempat, bentuk akhir buku dalam eBook bisa dimodifikasi oleh pembaca. Pembaca yang berbeda selera dapat mengubah eBook yang sama dengan hasil akhir yang berbeda.

Misalnya, orang lanjut usia yang membeli buku bisa membuat font buku lebih besar, agar lebih mudah membacanya. Sementara yang muda sebaliknya, agar lebih ringkas membawa.

"Atau pembeli bisa memilih sendiri jenis hurufnya. Karena elektronik, eBook bisa memberikan semakin banyak fasilitas untuk dimodifikasi sesuai selera masing masing pembaca. Hal ini berbeda dengan buku konvensional yang sudah fixed sesuai format cetak akhirnya," tutur Denny.

Kelima, prosentase royalti bagi penulis juga akan lebih besar. Selama ini penulis mendapatkan royalti hanya berkisar 10-15 persen saja akibat besarnya prosentase yang diambil oleh  penerbit, distributor dan toko buku.

"eBook dapat memberikan penulis royalti sebesar 35 hingga 65 persen, apalagi jika penulis itu menerbitkan bukunya sendiri. Karena tak memerlukan kertas, menerbitkan buku juga semakin murah dan semakin bisa dikerjakan oleh penulisnya sendiri. Praktis dari total penjualan buku, penulis hanya dipotong oleh biaya display penjualan eBooknya saja," tandas penulis novel Sapu Tangan Fang Yin itu. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya