Berita

prananda paloh/net

Dunia

Rusia Cerdas Mainkan Peran di Suriah

SENIN, 19 OKTOBER 2015 | 10:55 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Agenda demokratisasi tidak akan bisa terwujud melalui gerakan rekayasa yang dilakukan pihak-pihak dari luar Suriah. Termasuk, klaim gerakan demokratisasi yang dimotori Amerika Serikat dan NATO.

Begitu kata Wakil Ketua Fraksi Nasdem Prananda Paloh dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi, Senin (19/10).

"Upaya militer Eropa dan Amerika dalam mendukung oposisi Suriah dengan melibatkan pasukan Wahabi internasional, terbukti tidak efektif dan kontraproduktif. Bahkan melahirkan kembali genre kelompok militan yang lebih zalim dan lalim lagi, yaitu ISIS," jelasnya.


Dijabarkan Prananda bahwa klaim AS yang ingin mendemokratisasi Suriah lewat tekanan militer justru telah berbalik menampar kewibawaan Amerika Serikat. Ini lantaran AS dianggap telah mengkatalisasi munculnya ISIS dan mereka dianggap telah gagal memberantas ISIS.

Situasi inilah yang kemudian mampu dibaca Rusia. Apalagi saat ini Russia setuju membantu Suriah secara militer memerangi ISIS sebagai ancaman global dan nasional Suriah.

"Dunia akhirnya seperti menggantungkan harapan pada Rusia. Inilah kecerdasan politik Rusia dalam memainkan peranannya," ucap anak Ketua Umum Nasdem Surya Paloh itu.

Namun demikian, Prananda juga tidak menutup mata bahwa ada kepentingan tertentu dari pihak-pihak di luar Suriah. Termasuk terhadap gerakan yang mengaku berupaya membangun Suriah yang lebih demokratis.

Oleh karena itu, anggota Komisi I DPR RI berharap Indonesia bisa ikut memainkan peran positif dalam konflik berkepanjangan ini. Sebagai warga dunia, Indonesia, harus dapat memainkan peran yang positif dalam konflik tersebut. Terlebih, Indonesia merupakan negara dengan jumlah penduduk Islam terbesar di dunia.

"Kita bisa menyerukan resolusi untuk penyelesaian politik oposisi vs pemerintah dengan jalan damai. Kemudian menyatukan kekuatan Suriah, Russia, Eropa, Amerika bahkan jika diperlukan Indonesia, untuk menghantam ISIS dan membebaskan warga dunia yang menderita di bawah cengkeraman mereka," tandasnya. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya