Indonesia merupakan barometer bagi negeri muslim di dunia dalam menyelesaikan masalah diskriminasi. Jika Indonesia berhasil, maka negeri muslim lain juga potensial berhasil.
Demikian dikatakan pendiri LSI, Denny JA dalam sebuah diskusi di acara Frankfurt Book Fair, Sabtu (17/10). Diskusi ini secara khusus membahas buku Denny JA berjudul Sapu Tangan Fang Yin, yang telah terbit edisi Jermannya dan sempat menjadi best seller nomor 1 di toko online terbesar dunia, Amazon.com.
Dalam diskusi yang dihadiri perwakilan Frankfurt seperti Michael B, Berthold Damshauser, Jamal D Rahman, dan dipandu moderator Andrea Scmith itu, Denny JA mengutip hasil survei Pew Research Center. Di tahun 2013, lembaga ini mengeluarkan daftar negara yang dianggap paling mampu melindungi kebebasan agama. Hasil tertinggi justru adalah negara yang bukan dari kawasan kultur liberal Barat, seperti Brazil, Afrika Selatan, dan Filipina.
"Jadi pada dasarnya apapun kulturnya, semua negara potensial melindungi kebebasan agama. Namun memang tak termasuk dalam kriteria itu aneka negara yang tumbuh dalam tradisi agama Islam. Dari rangking 10 besar negara pelindung kebebasan agama, tak satupun berasal dari kawasan Muslim,"‎ ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu, Minggu (18/10).
Sementara Indonesia, ujar Denny, cukup berhasil mengatasi diskriminasi rasial etnik Tionghoa. Namun belum berhasil mengatasi diskriminasi agama yang kini justru semakin parah.
Denny menjabarkan bahwa puisi panjang Sapu Tangan Fang Yin merupakan kisah sukses etnik Tionghoa. Di tahun 98, ada beberapa gadis Tionghoa yang diperkosa massal dalam kerusuhan etnik.
"Tapi, kini sudah ada warga Tionghoa yang menjadi menteri. Sudah ada program TV berbahasa Tionghoa," sambungnya.
Sayangnya, ketika diskriminasi kepada etnik Tionghoa relatif selesai, kini Indonesia justru tercatat sebagai satu dari tujuh negara terburuk dalam diskriminasi agama di tahun 2014. Indonesia termasuk terburuk bersama dengan negara Irak, Mesir, Afganistan, dan Rusia.
"Indonesia memerlukan reformasi Islam sebagaimana yang dalam agama Kristen. Islam memerlukan tokoh sekelas Martin Luther yang mampu mengubah wajah Kristen," ujar Denny JA.
Peran Indonesia untuk mengubah wajah Islam yang lebih ramah menjadi signifikan bagi dunia. Apalagi diprediksi di tahun 2070, penganut Muslim diproyeksikan akan menjadi agama terbesar di dunia. Saat itu hanya wajah Islam yang ramah, yang sejalan dengan prinsip hak asasi manusia, yang bisa membangun peradaban baru yang anti diskriminasi.
"Jika Indonesia cukup berhasil mengatasi diskriminasi etnik Tionghoa, seharusnya tak ada alasan Indonesia gagal mengatasi diskriminasi agama," imbuh Denny JA.
[why]