Berita

beni pramula/net

Politik

Tarik Mandat Jokowi-JK Kembali Serukan Aksi Kepung Istana

SENIN, 28 SEPTEMBER 2015 | 12:43 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Sudah berulang kali aliansi tarik mandat Jokowi-JK turun ke jalan menuntut keduanya untuk mundur lantaran dinilai gagal memperbaiki keadaan bangsa. Tapi, alih-alih ekonomi membaik, kondisi perekonomian Indonesia justru semakin terpuruk. Salah satu indikasinya adalah nilai tukar rupiah yang tembus di angka Rp 14.700.

Begitu sesal Ketua Umum DPP Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Beni Pramula yang selalu memimpin aksi tarik mandat Jokowi-JK demi meluruskan arah kiblat bangsa.

"Jokowi-JK mandul dalam memimpin negara. Lemah ide dan gagasan dalam mengambil keputusan, juga lamban mengatasi persoalan bangsa dan cenderung acuh terhadap krisis ekonomi yang melanda," kata Beni saat berbincang dengan Kantor Berita Politik RMOL sesaat lalu, Senin (28/9).


Menurutnya, ada banyak lagi indikasi yang menunjukkan bahwa Indonesia sedang mengalami krisis moneter. Seperti defisit neraca pembayaran yang besar karena inflasi yang tidak terkontrol, utang luar negeri yang semakin melambung, suku bunga tinggi, dan kurs mata uang yang makin melemah.

Beni menuding penyebab terjadinya krisis ekonomi tersebut lantaran negara gagal dalam merumuskan kebijakan ekonomi yang berdampak langsung ke masyarakat.

"Ini merupakan kegagalan negara dalam merumuskan kebijakan ekonomi makro yang tercermin dari kombinasi nilai tukar yang kaku. Dengan demikian berarti ada regulasi fiskal yang bocor, inflasi yang merupakan hasil dari apresiasi nilai tukar efektif riil, defisit neraca pembayaran, dan pelarian modal yang lengah dari perhatian pemerintah," tuturnya.

Krisis yang terjadi, menurutnya, juga tidak lepad dari kepemimpinan Jokowi-JK yang tidak efektif. Terlebih situasi politik internal pemerintah nampak semakin gaduh karena lebih dominan kepentingan elit, bagi-bagi kekasaan, dan saling sandera antar institusi negara, ketimbang kepentingan rakyat secara umum

Kondisi demikian, lanjutnya, tidak bisa dibiarkan terus berlarut. Untuk itu, presiden Organisasi Pemuda Asia Afrika (Asian African Youth Government) kembali menyebarkan seruan aksi kepung Istana yang akan dilakukan pada hari Rabu (30/9). Tuntutannya tetap sama, yaitu mendesak pemerinta untuk menurunkan harga, mengantisipasi PHK massal, membubarkan kabinet yang tidak becus urus negara, menasionalisasi aset, dan meluruskan kiblat bangsa sesuai Pancasila dan UUD 1945. Jika semua tuntutan itu tidak terwujud maka Jokowi-JK harus segera mundur.

"Kondisi ini tidak bisa dibiarkan berlarut, bukan saja kedaulatan ekonomi bangsa yang dirobek mereka. Lebih dari itu, eksistensi dan keutuhan NKRI berdasarkan Pancasila dan UUD 1945 sudah diujung tanduk," tegasnya.

"Dengan ini kami mengundang seluruh elemen anak bangsa. Untuk turun ke jalan bersama memperjuangkan kedaulatan bangsa dengan menurunkan rezim Jokowi-JK. Kita turun ke jalan tangga Rabu 30 September 2015 di depan Istana Negara," tandas Beni.

Segenap elemen juga turut menyerukan undangan ini, seperti Ketua Umum DPP APKLI, GPII, PMKRI, Himmah Alwasiliyah, LMPN (Lingkar Merah Putih Nasional),YAKORMA (Yayasan Kerukunan Masyarakat Madura), HIMA Persis, Lingkar Studi Ciputat, BEM Se-DKI JAKARTA, ATM, BOND untuk Indonesia, Papernas, dan Solidaritas Nasional Pembebasan Indonesia.

Aksi ini sedianya akan menurunkan sebanyak seribu massa dari organisasi-organisasi tersebut. [ian]

Populer

KPK Harus Jemput Paksa Bos Rokok HS M Suryo

Minggu, 05 April 2026 | 09:04

Kapolri Diminta Turun Tangan terkait Kasus Temuan Senpi di Bekasi

Sabtu, 04 April 2026 | 02:17

Permohonan Pengosongan Rumah Anak Zulhas Diajukan ke PN Jaktim

Rabu, 01 April 2026 | 18:05

Oknum Guru Diduga Tilep Rp1,1 Miliar dengan Modus Tukar Uang Lebaran

Sabtu, 04 April 2026 | 02:23

4.661 PPPK di Pemkab Jepara Terancam PHK

Senin, 06 April 2026 | 05:31

Kehadiran Anies di Cikeas Jadi Masalah Serius

Jumat, 27 Maret 2026 | 02:08

Mengapa Kapal Pertamina Tidak Bisa Lewat Selat Hormuz?

Sabtu, 28 Maret 2026 | 02:59

UPDATE

Konsep Pasar Modern Tak Harus Identik Bangunan Mewah

Selasa, 07 April 2026 | 04:15

Jangan cuma Israel, Preman Kampung di Purwakarta Juga Wajib Dikutuk

Selasa, 07 April 2026 | 04:04

Tukang Ojek Ditembak Penumpang, Motor Dibawa Kabur

Selasa, 07 April 2026 | 03:38

Subsidi BBM Bocor Rp7 Triliun Gegara Kemacetan Jakarta

Selasa, 07 April 2026 | 03:15

KA Bangunkarta Anjlok di Bumiayu, Penumpang Dievakuasi 10 Bus

Selasa, 07 April 2026 | 03:00

Fahira Sodorkan Lima Strategi Pasar Tradisional Jadi Fondasi Jakarta Kota Global

Selasa, 07 April 2026 | 02:25

Waspada Politik Gunting dalam Lipatan di Lingkaran Istana

Selasa, 07 April 2026 | 02:11

Muslim Iran, Berjuanglah untuk Islam

Selasa, 07 April 2026 | 02:07

Viral Mobil Dinas di Kawasan Puncak, Pemprov DKI Minta Maaf

Selasa, 07 April 2026 | 01:36

Seruan Pemakzulan Prabowo Muncul dari Ketakutan Operasi Besar Berantas Korupsi

Selasa, 07 April 2026 | 01:12

Selengkapnya