Berita

hutan/net

Politik

BENCANA ASAP

Jokowi Jangan Tunduk Pada Mafia Asap

SENIN, 21 SEPTEMBER 2015 | 12:32 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Polemik asap yang tak kunjung selesai akibat pembakaran lahan hutan di Riau dan Kalimantan mendapat protes keras publik. Pemerintah Jokowi-JK bahkan dituding tidak serius dalam menghentikan kebakaran hutan setiap tahunnya yang terjadi di Riau dan Kalimantan.

Direktur Eksekutif Bimata Politica Indonesia (BPI) Panji Nugraha mengatakan bahwa bencana asap telah mengakibatkan Indonesia mengalami kerugian hingga triliunan rupiah dan mengakibatkan rakyat meninggal serta ribuan warga mengalami penyakit ISPA.

"Sebaiknya Jokowi-JK bertindak cepat mengatasi bencana asap ini dan memberi sanksi tegas kepada para pengusaha 'mafia asap' dan solusi bagi rakyat jangan hanya pencitraan tanpa aksi nyata," tegas Panji dalam keterangan tertulis yang diterima redaksi sesaat lalu (Senin, 21/9).


Panji menyebut bahwa Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) telah merilis data mengenai dampak ekonomi akibat bencana asap di Indonesia pada 2015 yang mencapai Rp 20 triliun.

Kerugian bencana asap bukan hanya secara ekonomi saja yang diderita. Tetapi juga keselamatan rakyat yang harus jadi prioritas. Maka dari itu, lanjutnya, pemerintah wajib melakukan tindakan tegas kepada para ‘mafia asap’ yang sebagian besar adalah pengusaha asing.

"Rakyat bosan dengan bencana asap yang setiap tahunnya terus berulang tanpa ada solusi nyata dari pemerintah. Seolah para aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan pemerintah pusat menutup mata atas penderitaan yang menimpa rakyat," ujarnya.

"Jika terus dibiarkan tanpa ada solusi nyata atau bahkan bencana tersebut hanya jadi ajang pencitraan pemerintahan Jokowi-JK, bukan tidak mungkin rakyat berpikir pemerintah Jokowi-JK tunduk pada kekuasaan para ‘mafia asap’. Tidak ada gunanya Jokowi keliling-keliling meresmikan proyek baru, jika masih ada rakyat Indonesia yang terancam nyawanya karena bencana," tutup Panji. [ian]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya