INFORMASI merupakan ekspansi yang sangat masif terjadi sekarang ini. kekuatan informasi membuat umat manusia menjadi objek dari informasi-informasi yang beredar sekarang ini. Perubahan pola pikir yang kemudian mengarah kepada perubahan perilaku, menjadi sasaran utama dari informasi itu.
Daya dukung informasi untuk semakin tersebar luas, adalah teknologi. Teknologi menjadi bagian yang sangat mendukung perkembangan media masa saat ini. Dengan kekuatan teknologi, setiap informasi bisa terus menerus diperbarui. Baik dan buruk, manfaat atau tidak menjadi urusan lain dari perkara informasi ini.
Televisi menjadi salah satu alat penunjang dari tersebarnya informasi itu sendiri. Peran televisi sebagai alat juga tidak lepas dari stasiun televisi yang makin hari makin menjamur. Kompetisi dan perebutan pengaruh terjadi dimana-mana, dari tingkat nasional, di tingkat provinsi, di tingkat kabupaten atau karesidenan, juga terdapat stasiun televisi, yang menonjolkan potensinya sendiri-sendiri. potensi itu meliputi bahasa daerah, tempat wisata, kerajinan tangan, kebudayaan daerah, tempat wisata.
Matinya Dialog
Perbincangan televisi dengan stasiun televisi ibarat dua benda yang tidak bisa dipisahkan. Tilley menjelaskan bahwa bahasa dan benda keduanya merupakan alat dalam sistem komunikasi budaya. Televisi merupakan alat, namun tidak bisa berfungsi tanpa ada bahasa†dalam hal ini stasiun televisi atau channel.
Bahasa†seperti yang dimaksud diatas, tidak lagi menjadi bagian yang tertata. Setiap stasiun televisi atau channel, termasuk juga di dalamnya kini berkutat sesuatu yang tujuannya memperkuat bahasa dan juga penonton masing-masing, yang tujuannya sederhana, demi mengejar rating dan kepopuleran. Kecenderungan ini membuat penonton terpisah satu sama lain, karena mengejar kesukaan dan kesenangan saja. penonton tidak bisa saling tonton-menonton, karena channel yang mengambil alih fungsi ini. akhirnya yang terjadi, penonton melihat channel, channel melihat penonton. Penonton seperti kuda yang tertutup matanya, terjebak dalam kendali yang diciptakan channel atau stasiun televisi.
Beberapa masyarakat mulai tidak percaya dengan apa yang dipertontonkan televisi dan juga stasiun televisi. Ketidak percayaan ini, membawa pada tindakan, untuk tidak melihat bahasa†televisi. Usaha untuk tidak melihat berbagai macam pemberitaan dan informasi yang ada di dalam setiap channel televisi. Ini menjadi upaya melihat informasi sebagai sesuatu yang utuh, proses dialog bukan monolog, dan dari berbagai sudut pandang..
Sandiwara Informasi
Televisi menjadi benda yang kini bisa ditemukan dimanapun, mayoritas setiap rumah tangga memiliki televisi. Hal ini berbanding lurus dengan makin menjamurnya stasiun televisi, baik tingkat nasioanl, provinsi maupun kabupaten. Dulu, seseorang yang ingin menonton siaran, menumpang ke tetangga yang memiliki televisi. Pada periode awal-awal ini berperan sebagai sarana bertemunya orang-orang, dan masih ada ruang antar penonton untuk berdialog.
Kini, televisi menjadi benda yang mudah kita temui dimana-mana, bahkan televisi menjadi satu dengan perangkat telepon genggam. Penonton atau pemirsa diajak untuk secara instan terjun ke dalam kebutuhan informasi, mencari jawaban dengan cepat, melalui sudut pandang benar atau salah, ya atau tidak, tanpa ada ruang dialog.
Jean Baudrillard berpendapat bahwa fungsi televisi dan media massa adalah menghalangi tanggapan, memprivatisasi individu, menempatkan mana yang ditonton dan yang nyata, tidak bisa lagi dibedakan.
Penempatan untuk memilah mana yang nyata dan tidak nyata, perlu keluar dari label penonton atau pemirsa. Pembaca berbeda dengan pemirsa, karena mereka menikmati suatu informasi, melalui imajinasi untuk menikmati suasana ataupun peristiwa, sambil juga mengkritisi. Usaha ini membuat menonton bukan lagi sekedar menikmati, namun juga menjadi refleksi untuk makin sadar diri.[***]
Muhammad Fathul Farikh Fauzy
Mahasiswa Program Pascasarjana Antropologi UGM
muhammad.farikh@gmail.com
No hp: 085 736 587 xxx