Berita

Publika

SERI RESHUFFLE KABINET-4

Indonesia Tidak Butuh Menteri Pro Pasar

SELASA, 30 JUNI 2015 | 15:30 WIB | OLEH: EDY MULYADI

JIKA Ada Ekonom Dipercaya Pasar, Hari Ini juga Dilantik Jokowi. Begitu judul berita yang ditulis sebuah media on line, Senin, 29 Juni. Berita ini bersumber dari ekonom Universitas Gadjah Mada Tony Prasetyantono usai bertemu dengan Presiden Jokowi di Istana Kepresidenan Jakarta, Senin (29/6).

Menurut dia, Presiden Jokowi sebenarnya ingin segera melakukan reshuffle terhadap beberapa menteri bidang ekonomi. Masalahnya, hingga saat ini Presiden belum menemukan sosok yang betul-betul kinclong dan bisa membawa ekonomi Indonesia lebih baik.

Pertama-tama saya ingin sampaikan, bahwa tulisan ini semata-mata mengandalkan berita yang dirillis media on line tadi. Pasalnya, saya tidak ikut hadir dalam pertemuan antara Jokowi dan para ekonom di Istana. Dengan begitu saya tidak tahu bagaimana persisnya kalimat yang disampaikan Jokowi terkait para menterinya dan rencana reshuffle kabinet.


Tapi menyimak pernyataan Tony, untuk kesekian kalinya saya merasa sedih. Lagi-lagi para ekonom yang dipercaya sebagai kalangan intelektual, melakukan pembodohan publik. Coba perhatikan baik-baik penggalan berita di bawah ini:

Kepada Tony, Jokowi menyatakan bahwa tim ekonominya saat ini ada orang-orang pintar. Tapi, terjadi kesenjangan di pasar. Padahal, yang dibutuhkan adalah orang yang bisa membuat pasar percaya.

"Jadi, kita butuh playmaker. Beliau menyadari itu. Dan saya sangat surprise (mendengarnya)," ucap Tony.

Pertanyaannya, benarkah Presiden berkata seperti itu?

Lalu, di akhir berita juga disebutkan bahwa Tony sepertinya menyodorkan Sri Mulyani Indrawati sebagai sosok yang andal dan dapat diterima baik pasar dalam celetukannya di depan Jokowi. Sepertinya para agen neolib mulai memasarkan Sri Mulyani lagi untuk masuk kabinet. Lalu apa jawab Presiden?

"Saya kira ya dan beliau (Sri Mulyani) juga memenuhi syarat," tandasnya.

Pertanyaan berikutnya, benarkah Jokowi mengatakan hal itu?

Kenyataan ini lagi-lagi membuat saya prihatin sekaligus geram. Ani, begitu dia biasa dipanggil, memang benar bisa diterima pasar. Bukan itu saja, Ani bahkan dikenal sebagai pejuang neolib yang gigih. Hal ini ditandai dengan rekam jejaknya yang sarat dengan penghambaan kepada kepentingan asing. Lewat berbagai jabatan strategis yang sempat disandangnya, SMI adalah komparador setia IMF, Bank Dunia, dan investor asing. Untuk soal ini, silakan baca artikel saya Seri Reshuffle  Kabinet-1: Ani Masuk Kabinet (Lagi)? Amit-amit,Deh!”

Ekonomi konstitusi

Pertanyaan besarnya, benarkah Indonesia membutuhkan menteri ekonomi yang diterima pasar? Pasar, pasar yang mana? Siapa yang dimaksud dengan pasar?

Saya ingin memastikan pasar yang dimaksud itu apa atau siapa? Pasar dalam konteks ini yang dimaksud pastilah lembaga keuangan internasional seperti IMF, Bank Dunia, ADB, dan para investor, baik lokal maupun, terutama, asing. Mereka inilah yang bermain dan malang-melintang di bursa-bursa internasional, di paper market yang memperdagangkan berbagai komoditas, termasuk currency. Mereka mendikte perekonomian dunia dari pasar-pasar maya. Seolah-olah nasib perekonomian dunia berada di ujung-ujung jemari mereka yang menekan keyboard komputer dan atau laptop belaka.

Jadi, pelaku pasar yang dimaksud Tony pastilah bukan mbok-mbok yang berdagang sayuran di pasar-pasar tradisional. Pasar yang dimaksudkannya pastilah bukan toko-toko kelontong yang menempati kios-kios kumuh di pasar tradisional yang sebagian besar masih becek dan pengap.

Nah, para menteri ekonomi yang diterima pasar pastilah mereka yang akan bekerja untuk menyenangkan para majikannya. Para majikan yang tidak peduli atas nasib rakyat suatu bangsa. Di kepala para majikan tadi yang ada hanyalah bagaimana caranya menggelembungkan kekayaan lewat berbagai cara. Mereka biasa berspekulasi di ‘pasar’, termasuk dengan memanipulasi ‘pasar’.

Lewat para pejabat publik yang menjadi komparadornya, para majikan itu juga terus menekan agar mereka menerbitkan berbagai undang-undang, kebijakan, dan peraturan yang menguntungkannya. Kepada para pejabat tadi dan publik, terus dipompakan opini, salah satunya lewat para ekonom beraliran neolib tersebut, bahwa  subsidi mendistorsi pasar. Oleh karenanya, subsidi harus ditreduksi hingga titik nol. Tidak peduli bahwa kebijakan pengurangan dan pencabutan subsidi pasti berdampak pada kian beratnya beban hidup rakyat.

Menteri seperti inikah yang dibutukan Indonesia? Menteri seperti inikah yang bakal didapuk masuk kabinet oleh Presiden?

Tidaklah benar kalau dikatakan Indonesia membutuhkan menteri yang dapt diterima pasar. Sayangnya, dogma seperti inilah yang selama ini digembar-gemborkan para penganut dan penganjur ekonomi bermazhab neolib. Karena yang dimaksud dengan "diterima pasar" hanyalah eufimisme dari niat jahat "sesuai dengan keinginan para pemodal."

Yang benar adalah, Indonesia membutuhkan menteri yang berpihak kepada rakyat dan bangsanya. Bukan hanya menteri, Indonesia bahkan juga membutuhkan Presiden dan semua pejabat publik yang mau bekerja ekstra keras untuk mewujudkan tujuan didirikannya negara Indonesia seperti tercantum dalam alinea empat Pembukaan UUD 1945. Para pejabat publik yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa…

Saya berharap Jokowi cukup cerdas untuk dapat belajar dari sejarah. Fakta menunjukkan, kendati sudah ditreapkan selama puluhan tahun, kebijakan ekonomi neolib tidak pernah bisa mengantarkan rakyat Indonesia maju dan sejahtera. Kebijakan neolib tidak akan bisa membawa Indonesia menjadi negara digdaya yang disegani. [***]

Penulis adalah, Direktur Program Centre for Economic and Democracy Studies (CEDeS)

Populer

KSAD Maruli: Saya Minta Maaf dan Bertanggung Jawab

Jumat, 04 September 2026 | 20:28

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Muhadjir Terbitkan Surat Pengalihan Kuota Haji Usai Konsultasi ke Jokowi

Selasa, 01 September 2026 | 15:17

Masa Jabatan Gibran Tinggal Hitungan Hari

Kamis, 03 September 2026 | 14:46

MAKI Puji Kerja Senyap Jampidsus Kuntadi Fokus Rampas Aset

Selasa, 01 September 2026 | 01:59

Dakwaan Lemah, Perkara Chromebook Murni Rekayasa

Kamis, 27 Agustus 2026 | 14:31

KPK Sita Rumah Mewah Milik Vinna Ledy Anggraheni di Jaksel

Selasa, 01 September 2026 | 11:03

UPDATE

Purbaya Bakal Bahas Layer Baru Cukai Rokok Oktober, Pengusaha Ilegal Siap-Siap

Sabtu, 05 September 2026 | 20:23

Kasus Tahura Singlurus Pintu Masuk, Koptasi Minta Selisih LHV Batubara SSS Diusut

Sabtu, 05 September 2026 | 20:20

Usai Dimaafkan Jusuf Hamka, KAKI Dorong Polri Buka Kembali Kasus NCD Unibank

Sabtu, 05 September 2026 | 19:53

Gen Z Antusias, Ribuan Anak Muda Padati LFF 2026 Sejak Pagi

Sabtu, 05 September 2026 | 19:44

Menhut Perkuat Penyelamatan Satwa Liar di Tengah Karhutla Kalteng

Sabtu, 05 September 2026 | 19:28

Koalisi Masyarakat Sipil Kecam Putusan Banding yang Meringankan di Kasus Andrie Yunus

Sabtu, 05 September 2026 | 19:13

OMC Berhasil Datangkan Hujan, KLH Pastikan Karhutla di Kalbar dan Kalteng Terkendali

Sabtu, 05 September 2026 | 19:00

Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

BAIK Bangkit dari Suspensi, Siapkan Jurus Pulihkan Kinerja

Sabtu, 05 September 2026 | 18:46

Kemenhut Siapkan Call Center Rescue 24 Jam Tangani Satwa Liar Terdampak Karhutla

Sabtu, 05 September 2026 | 18:37

Selengkapnya