BULAN suci Ramadhan adalah bulan yang sangat penting dalam agama Islam. Yakni bulan di mana kitab suci Al-Quran diturunkan. Bulan Ramadhan disebut bulan penuh rahmat, karena didalamnya umat Islam akan mendapat pahala yang berlimpah sesuai dengan amal perbuatan yang dilakukannya. Maka wajar apabila setiap muslim akan sangat merindukan bulan suci tersebut, termasuk muslim Indonesia.
Beragam tradisi umat IslamIndonesia turut mewarnai datangnya bulan penuh ampunan ini. Diantaranya yang terkenal ialah tradisi padusan, megengan, nyadran dan sungkeman. Ini merupakan sebagian kecil dari ragamnya tradisi kita.
Secara umum, tradisi-tradisi tersebut dimaksudkan sebagai ajang penyucian diri dari kesalahan, baik kepada Tuhan maupun sesama manusia. Agar ketika di bulan puasa seseorang sudah dalam keadaan suci. Artinya, tradisi-tradisi ini tidak hanya dilakukan sebagai bentuk pelestarian budaya lokal semata.
Tetapi juga terdapat nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya, seperti perdamaian, toleransi dan keadilan. Nilai kemanusian ini tentunya tanpa menghilangkan hubungan manusia kepada pencipta-Nya.
Permasalahnya, apa yang dicita-citakan dari tradisi ini ternyata berbanding terbalik dengan kondisi umat Islam Indonesia hari ini. Salah satunya ialah maraknya radikalisme, fundamentalisme, atau fanatisme beragama, khususnya dalam agama Islam. Saat ini, sudah tidak jarang kita menemukan bagaimana kekerasan atas nama agama terjadi, pengkafiran atas golongan tertentu begitu mudah dilontarkan, dan deskriminasi atas suatu aliran sangat sering dilakukan. Akibatnya, permusuhan bahkan peperangan seakan tidak pernah ada kata hentinya di negeri ini.
Tidak hanya itu, beberapa waktu yang lalu, kita telah dikagetkan mengenai beberapa kabar dari Islamic State of Iraq and Syiria (ISIS). Bagaimana tidak, gerakan yang telah menewaskan banyak korban ini juga ternyata berkembang luas di negeri ini. Bahkan, Indonesia merupakan salah satu negara pemasok teroris†terbesar di organisasi itu. Artinya, tradisi-tradisi yang dijalankan umat Islam di Indonesia saat ini hanya sebatas ritus semata. Tanpa adanya upaya internalisasi nilai-nilai kemanusiaan di dalamnya.
Dengan demikian, memasuki bulan suci ini sepatutnya kita memaknai kembali tradisi-tradisi yang telah dan akan kita jalankan. Sehingga, suatu tradisi akan lebih hidup dan bermanfaat. Karena pada dasarnya, suatu tradisi sekurangnya harus memiliki implikasi positif bagi kesejahteraan masyarakat.
Dedy Ibmar
Pegiat Forum Kajian PIUSHsekaligus Aktivis HMI Cabang Ciputat