Berita

ilustrasi/net

Dunia

Studi Ilmiah: Rutin Orgasme Bisa Tekan 22 Persen Potensi Kanker Prostat

RABU, 20 MEI 2015 | 11:44 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Orgasme secara teratur ternyata memiliki manfaat tersendiri bagi pria.

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan oleh Harvard Medical School menyimpulkan bahwa pria yang ejakulasi lebih teratur sepanjang hidupnya memiliki resiko yang lebih rendah untuk terkena kanker prostat.

Hasil penelitian tersebut disampaikan pada pertemuan tahunan American Urological Society di New Orleans beberapa waktu lalu.


Perlu diketahui, prostat merupakan kelenjar satsuma berukuran kecil yang terletak antara penis laki-laki dan kandung kemihnya. Prostat memiliki fungsi untuk menghasilkan cairan putih kental yang dicampur dengan sperma yang dihasilkan oleh testis untuk membuat semen. Penderita kanker prostat biasanya mengalami sejumlah gejala seperti kesulitan buang air kecil serta disfungsi ereksi.

Para peneliti Harvard Medical School itu merujuk pada teori sebelumnya yang menjelaskan bahwa orgamse pada pria bisa ikut membuang senyawa kimia yang berpotensi memicu terjadinya kanker prostat. Teori lainnya adalah bahwa sperma yang dikeluarkan secara teratur memungkinkan sel-sel baru untuk berkembang dan turut menghentikan penumpukan sel-sel lama yang berpotensi memicu munculnya kanker.

Dalam penelitian itu ditemukan bahwa pria berusia antara 40 hingga 49 tahun yang mengalami ejakulasi sebanyak 21 kali atau lebih dalam sebulan memiliki resiko terkena kanker prostat lebih rendah 22 persen. Peneliti membandingkan dengan pria di rentang usia yang sama namun hanya mengalami ejakulasi sebanyak 4-7 kali dalam satu bulan.

Penelitian itu melibatkan hampir 32 ribu pria yang sehat. Mereka ditanya soal rata-rata ejakulasi setiap bulannya.

Namun demikian, para peneliti masih terus melakukan penelitian mendalam soal penekanan resiko kanker protat dengan frekuensi ejakualasi dan sejumlah faktor lainnya seperti diet, gaya hidup, dan rekam jejak penyakit prostat.

"Data ini adalah yang paling menarik untuk memanfaatkan ejakulasi pada pengembangan prostat, namun data pengamatan ini harus diinterpretasikan agak hati-hati," kata Dr Jennifer Rider dari Harvard Medical School dan Rumah Sakit Wanita Brigham.

"Pada saat yang sama, mengingat kurangnya faktor risiko yang dapat dimodifikasi untuk kanker prostat, hasil penelitian ini sangat menggembirakan," tambahnya seperti dimuat Daily Mail (Selasa, 19/5).

Menurut data World Cancer Research Fund International, pada tahun 2012 lalu, tercatat ada lebih dari 1,1 juta kasus kanker prostat yang terjadi di seluruh dunia. Secara umum, penyebab kanker prostat itu sendiri tidak diketahui dengan pasti. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya