Berita

menteri indroyono/net

Nusantara

Di KAA, Menteri Indroyono Soroti Peran Vital Laut dalam Ekonomi Global

SELASA, 21 APRIL 2015 | 13:06 WIB | LAPORAN: AMELIA FITRIANI

Peran penting wilayah laut tidak bisa dikesampingkan, tertutama terkait peningkatan ekonomi global.

"Sembilan puluh persen dari perdagangan dunia dilakukan melalui jalur laut yang strategis. Selain itu, laut dan samudera juga merupakan sumber daya hidup dan dan non-hidup, sumber energi terbarukan dan tidak, serta masa depan inovasi umat manusia," kata Menko Maritim Dwisuryo Indroyono Soesilo dalam perayaan Konferensi Asia Afrika (KAA) yang digelar di ruang Merak JCC pada Rabu (21/4).

Namun ia menyayangkan, di sisi lain wilayah laut justru kerap menjadi sasaran atau wilayah yang digunakan untuk aktivitas ilegal. Termasuk di antaranya adalah penangkapan ikan secara berlebihan dan ilegal, aktivitas pengeboran minyak, dan kegiatan militer yang jauh dari tujuan damai. Aktivitas semacam itu, kata Indroyono, jelas memberikan dampak negatif dalam pelestarian ekosistem laut.


Indroyono mencontohkan penurunan produksi ikan global yang terjadi dalam lima dekade terakhir. Dengan pasokan makan ikan mengalami peningkatan rata-rata tahunan sebesar 3,2 persen, melampaui pertumbuhan penduduk dunia yang mencapai 1,6 persen.

"Konsumsi per kapita ikan dunia jelas meningkat dari rata-rata 9,9 kg pada tahun 1960 menjadi 19,2 kg pada tahun 2012," bebernya.

Bukan hanya itu, perkembangan aktivitas minyak lepas pantai dan industri gas juga ikut memberi dampak negatif pada ekosistem laut.

"Sementara, pertumbuhan penduduk global dan kegiatan berbasis lahan menciptakan ketakutan dalam implikasinya terhadap lingkungan manusia, termasuk ekosistem laut," tambah Indroyono.

Kondisi semacam itu, bila terus dibiarkan bisa memperngaruhi kehidupan penduduk pesisir dan masyarakat dunia yang bergantung pada wilayah laut sebagai tempat mencari makan dan mata pencaharian.

"Karena itulah kita perlu membangun program global untuk mencegah dan mengurangi pencemaran laut secara signifikan," tegas Indroyono.

Sejumlah langkah yang bisa ditempuh antara lain adalah mengelola dan memperkuat ketahanan ekosistem laut secara berkelanjutan.

Bukan hanya itu, ia juga menyerukan untuk meminimalisir serta mengatasi dampak pengasaman laut, termasuk melalui peningkatan kerjasama ilmiah.

"Kita juga perlu efektif mengatur panen dan mengakhiri overfishing, penangkapan ikan ilegal serta praktek penangkapan ikan yang merusak. Di sisi lain kita juga melaksanakan rencana manajemen berbasis ilmu pengetahuan, dalam rangka mengembalikan stok ikan dalam waktu singkat, setidaknya ke tingkat yang dapat menghasilkan hasil berkelanjutan maksimum," tambahnya,

"Pendekatan terpadu yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan akan memperkuat kebijakan lingkungan, pengaturan kelembagaan dan proses kolaboratif," demikian Indroyono. [mel]

Populer

Kajian Online Minta Maaf ke SBY dan Demokrat

Senin, 05 Januari 2026 | 16:47

Prabowo Hampir Pasti Pilih AHY, Bukan Gibran

Minggu, 04 Januari 2026 | 06:13

Menanti Nyali KPK Panggil Jokowi di Kasus Kuota Haji

Minggu, 11 Januari 2026 | 08:46

Taktik Pecah Belah Jokowi Tak akan Berhasil

Sabtu, 10 Januari 2026 | 06:39

Pendukung Jokowi Kaget Dipolisikan Demokrat

Rabu, 07 Januari 2026 | 13:00

Penculikan Maduro Libatkan 32 Pesawat Buatan Indonesia

Selasa, 06 Januari 2026 | 13:15

Mahfud MD: Mas Pandji Tenang, Nanti Saya yang Bela!

Rabu, 07 Januari 2026 | 05:55

UPDATE

Sultan Usul Hanya Gubernur Dipilih DPRD

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:08

Menlu Serukan ASEAN Kembali ke Tujuan Awal Pembentukan

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:03

Eks Bupati Dendi Ramadhona dan Barbuk Korupsi SPAM Diserahkan ke Jaksa

Rabu, 14 Januari 2026 | 16:00

Hakim Ad Hoc: Pengadil Juga Butuh Keadilan

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:59

Mens Rea Pandji: Kebebasan Bicara Bukan Berarti Kebal Hukum

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:50

Pemblokiran Grok Harus Diikuti Pengawasan Ketat Aplikasi AI

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:37

Alasan Pandji Pragiwaksono Tak Bisa Dijerat Pidana

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:31

Korupsi Aluminium Inalum, Giliran Dirut PT PASU Masuk Penjara

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Raja Juli Tunggu Restu Prabowo Beberkan Hasil Penyelidikan ke Publik

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:27

Hakim Ad Hoc Ternyata Sudah 13 Tahun Tak Ada Gaji Pokok

Rabu, 14 Januari 2026 | 15:23

Selengkapnya