Berita

teguh santosa/net

Dunia

Simposium HAM Korea Utara Dinilai Cacat Itikad

KAMIS, 12 FEBRUARI 2015 | 12:19 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Setelah Kedutaan Besar Korea Utara, kini giliran Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara yang memprotes keras penyelenggaraan simposium mengenai situasi HAM di Korea Utara yang diselenggarakan Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Komnas HAM dan Komisi Antarpemerintah ASEAN untuk Urusan HAM.

Simposium yang diselenggarakan di Hotel Sultan itu dihadiri Pelapor Khusus PBB untuk Masalah HAM, Marzuki Darusman, dari Indonesia dan Dutabesar Korea Selatan, Cho Tae Young.

"Penyelenggaraan simposium itu cacat itikad karena tidak mengundang dan mengikutsertakan pihak Korea Utara yang menjadi objek pembicaraan,” kata Sekretaris Jenderal Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Korea Utara, Teguh Santosa, dalam keterangan yang diterima redaksi.


Sebuah simposium, menurut Teguh, semestinya bermakna ilmiah. Tetapi bagaimana bisa disebut ilmiah bila yang didengarkan hanya tuduhan dan tudingan dari satu pihak saja.

Ketidakmauan penyelenggara simposium mengundang pihak Korea Utara membuat Teguh menilai simposium itu sebagai bagian dari propaganda pihak-pihak yang selama ini memang berusaha untuk memojokkan Korea Utara.

"Pihak Korea Utara semestinya diberi kesempatan untuk menjelaskan kondisi HAM di negeri mereka. Toh, Kedutaan Besar mereka ada di sini. Belum lagi hubungan Indonesia dan Korea Utara juga baik-baik saja,” ujar Teguh yang sudah beberapa kali berkunjung ke Korea Utara.

Di sisi lain, Teguh juga menyayangkan pihak pemerintah Indonesia yang terkesan cuci tangan dalam hal ini.

Sebelumnya, juru bicara Kementerian Luar Negeri, Armanatha Nasir, seperti diberitakan Tempo.co, mengatakan, pemerintah Indonesia tidak bisa melarang penyelenggaraan simposium yang sudah memiliki izin pelaksanaan pertemuan.

Menurut Teguh, pernyataan Jubir Kemlu itu memperlihatkan sikap yang tidak sensitif dan enggan menjaga perasaan negara sahabat.

"Bayangkan bagaimana perasaan kita kalau pemerintah Australia, misalnya, pura-pura menutup mata dan membiarkan simposium mengenai kemerdekaan Papua yang diselengarakan lembaga resmi negara dan dihadiri pejabat resmi negara-negara yang ingin Papua lepas dari Indonesia," kata dia.

Teguh menyarankan pemerintah Indonesia, khususnya Kementerian Luar Negeri, menjawab protes keras yang sudah disampaikan Kedutaan Besar Korea Utara dengan cara yang pantas dan tidak asal bicara. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya