Berita

Dilma Rousseff/net

Dunia

Popularitas Presiden Brasil Anjlok karena Tarif Listrik dan Skandal Korupsi

MINGGU, 08 FEBRUARI 2015 | 04:55 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Popularitas Presiden Brasil, Dilma Rousseff, mengalami anjlok drastis sejak ia terpilih kembali sebagai presiden pada Oktober 2014.

Popularitasnya menurun seiring makin kuat dugaan dirinya terkait skandal korupsi, perlambatan ekonomi dan melonjaknya harga tarif listrik, tarif bensin dan tarif bus.

Lembaga polling The Datafolha, dalam hasil survei yang dirilis Sabtu (7/2) menyatakan, dari 4.000 orang yang diwawancarai, menunjukkan mereka yang menilai kinerja Rousseff sebagai "sangat baik atau baik" jatuh ke 23 persen, dari 42 persen pada Desember setelah dia memenangkan masa jabatan keduanya dalam peemilihan presiden yang ketat.


Selama periode yang sama, persentase orang-orang yang menilai kinerjanya sebagai "buruk atau buruk" naik menjadi 44 dari 24 persen. Ini adalah pertama kalinya sejak Rousseff menjabat pada tahun 2011.

Sisa responden, 33 persen, menilai pemerintahan Rousseff sebagai "rata-rata". Angka ini tidak berubah sejak Desember. Demikian diberitakan Reuters.

Perekonomian diperkirakan akan menyusut pada bulan-bulan pertama tahun ini, inflasi tahunan berada di atas 7 persen dan meningkat, dan Brazil menghadapi kemungkinan kekurangan air dan energi karena musim kemarau yang berkepanjangan.

Dalam polling itu juga, 60 persen responden mengatakan mereka percaya Rousseff telah berbohong selama masa kampanye.

Sementara itu, 77 persen responden mengatakan mereka percaya Rousseff tahu tentang korupsi di perusahaan minyak milik negara, Petrobras, yang ia kendalikan selama beberapa tahun sebagai presiden, dan sebelumnya selama pemerintahan Luiz Inacio Lula da Silva, ketika dia menjabat ketua dewan.

Rousseff sendiri telah membantah mengetahui korupsi yang bernilai miliaran dolar itu.

Memburuknya citra Rousseff konsisten di seluruh kelompok usia. Tetapi ia masih cukup baik di mata kelompok-kelompok sosial ekonomi termiskin, yang paling banyak diuntungkan kebijakan Rousseff dan pendahulunya, Lula da Silva. [ald]

Populer

Mantan Jubir KPK Tessa Mahardhika Lolos Tiga Besar Calon Direktur Penyelidikan KPK

Rabu, 24 Desember 2025 | 07:26

Kejagung Copot Kajari Kabupaten Tangerang Afrillyanna Purba, Diganti Fajar Gurindro

Kamis, 25 Desember 2025 | 21:48

Sarjan Diduga Terima Proyek Ratusan Miliar dari Bupati Bekasi Sebelum Ade Kuswara

Jumat, 26 Desember 2025 | 14:06

Mantan Wamenaker Noel Ebenezer Rayakan Natal Bersama Istri di Rutan KPK

Kamis, 25 Desember 2025 | 15:01

8 Jenderal TNI AD Pensiun Jelang Pergantian Tahun 2026, Ini Daftarnya

Rabu, 24 Desember 2025 | 21:17

Camat Madiun Minta Maaf Usai Bubarkan Bedah Buku ‘Reset Indonesia’

Selasa, 23 Desember 2025 | 04:16

Adik Kakak di Bekasi Ketiban Rezeki OTT KPK

Senin, 22 Desember 2025 | 17:57

UPDATE

Demokrat: Tidak Benar SBY Terlibat Isu Ijazah Palsu Jokowi

Rabu, 31 Desember 2025 | 22:08

Hidayat Humaid Daftar Caketum KONI DKI Setelah Kantongi 85 Persen Dukungan

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:57

Redesain Otonomi Daerah Perlu Dilakukan untuk Indonesia Maju

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:55

Zelensky Berharap Rencana Perdamaian Bisa Rampung Bulan Depan

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:46

Demokrasi di Titik Nadir, Logika "Grosir" Pilkada

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:37

Demokrat: Mari Fokus Bantu Korban Bencana, Setop Pengalihan Isu!

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:35

Setoran Pajak Jeblok, Purbaya Singgung Perlambatan Ekonomi Era Sri Mulyani

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:14

Pencabutan Subsidi Mobil Listrik Dinilai Rugikan Konsumen

Rabu, 31 Desember 2025 | 21:02

DPRD Pastikan Pemerintahan Kota Bogor Berjalan

Rabu, 31 Desember 2025 | 20:53

Refleksi Tahun 2025, DPR: Kita Harus Jaga Lingkungan!

Rabu, 31 Desember 2025 | 20:50

Selengkapnya