Berita

gun gun heryanto/net

Politik

Empat Strategi Dipakai Jokowi Hadapi Tekanan Seputar Isu BG

SABTU, 31 JANUARI 2015 | 10:29 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Setidaknya ada empat strategi yang dilakukan Presiden Joko Widodo dalam menangani polemik pencalonan Komjen Budi Gunawan (BG) sebagai Kepala Polri.

Empat strategi itu dipaparkan pengamat komunikasi politik, Gun Gun Heryanto, dalam diskusi Polemik, di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (31/1). Pertama, Jokowi lakukan buying time strategy.

"Ketika paripurna DPR, minus Demokrat, secara mengejutkan mendukung BG. Ini kan jadi bola panas. DPR menyetujui, tapi publik resistensi. Ini dilema terhadap beragam kepentingan yang ada di sekeliling Jokowi. Buying time itu menunda pelantikan sebelum punya ajek mau berbuat apa," ujar Gun Gun.


Strategi kedua, Jokowi melakukan prakondisi mengundang sembilan sosok senior yang dinamakan Tim Indepeden atau Tim 9, yang kemudian tentu akan mengubah fokus perhatian publik dari Jokowi ke tokoh-tokoh senior tersebut.

"Salah satunya, Jokowi juga bisa ditamengi Tim Sembilan tadi. Buya Syafii Maarif pun mengatakan, yang meminta BG jadi Kapolri bukan Jokowi tapi orang lain. Ada prakondisi Jokowi untuk membuat polemik itu menjadi tersebar. Opini publik itu terbagi bukan hanya pada Pak Jokowi," ujar Gun Gun.

Strategi ketiga Jokowi adalah memanfaatkan media massa mainstream. Ada beberapa media besar diundang untuk wawancara eksklusif, yang bisa memasok opini publik sesuai yang dikehendaki Jokowi.

"Ini menjadi ruang yang menambah bobot politik sehingga isu lebih terkanalisasi," jelasnya.

Terakhir, Jokowi menggunakan zone of possible agreement (ZOPA). Ia dipakai dalam politik ketika sang tokoh dalam tekanan politik luar biasa.

"Pertemuan dengan Pak Prabowo, Pak Habibie dan Kompolnas dalam satu hari. Tapi panggung utamanya adalah pada Pak Prabowo. Ini akan punya ekses domino shock therapy pada kekuatan lingkaran dalam Pak Jokowi," jelas Gun Gun.

Pernyataan Prabowo Subianto yang mengatakan akan mendukung pemerintahan Jokowi jadi pembicaraan di banyak media massa. Jokowi memanfaatkan "panggung" ini untuk memberikan pesan kepada kekuasan di lingkaran Istana yang hampir selalu menekan dirinya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

Febrie Bisa Diamuk Koruptor Lain Jika Ditahan di Rutan Kejaksaan

Selasa, 11 Agustus 2026 | 11:18

Mendadak Berubah, Jaksa Agung Lantik Saiful Bahri jadi Dirdik Jampidsus

Selasa, 11 Agustus 2026 | 20:21

Rismon Sianipar Bisa Menangkan Sayembara Rp100 Juta dari Denny Indrayana

Rabu, 12 Agustus 2026 | 05:19

Warga Gembira TransJakarta Layani Rute Kepulauan Seribu

Selasa, 11 Agustus 2026 | 06:10

KPK Temukan Dokumen Pengurusan Perkara Lain di Rumah Ayah Iptu Setya Budi Dias

Rabu, 12 Agustus 2026 | 22:18

UPDATE

Harga Minyak Dunia Merangkak Naik ke 93 Dolar AS

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:17

TransNusa dan Tourism Malaysia Ajak Media Eksplorasi Penang, Perlis hingga Langkawi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:57

Rupiah Perpanjang Tren Positif di Jumat Pagi

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:51

Strategi Mendapatkan Libur Panjang Saat Peringatan Maulid Nabi 2026

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:46

OTT Rektor Unsoed, KPK Tangkap 14 Orang dan Amankan Uang Ratusan Juta

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:35

IHSG Naik ke 6.526,30, Saham Mayoritas Menguat

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:20

Salah Paham tentang Kembali ke UUD 1945

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:06

Kebutuhan Pangan Pengungsi NTT Dipastikan Terpenuhi, Stok Beras 39 Ribu Ton

Jumat, 21 Agustus 2026 | 09:00

Bursa Asia Merah Tergusur Sentimen Wall Street

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:58

Terjaring OTT KPK, Rektor Unsoed Diduga Terkait Korupsi PMB

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:49

Selengkapnya