Berita

Politik

100 Hari Jokowi-JK Mendapat Cap Neoliberal

SENIN, 26 JANUARI 2015 | 12:30 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Mahasiswa dan puluhan organisasi aktivis lain yang tergabung dalam Pusat Perlawanan Rakyat Indonesia (PPRI) menyerukan "aksi nasional" memperingati 100 Hari Joko Widodo-Jusuf Kalla (Jokowi-JK).

Dalam undangan yang diterima redaksi beberapa saat lalu, PPRI melibatkan organisasi buruh, rakyat miskin dan dosen-dosen progresif dalam Siaran Pers Evaluasi 100 Hari Jokowi-JK,

"Siaran Pers dengan Tema 'Jokowi-JK Rezim Neolib, Gagal Beri Kepastian Kesejahteraan kepada Rakyat, Jokowi-JK Bukan Kita'," demikian tertulis dalam udangan yang diterima redaksi dari Ketua Umum Liga Mahasiswa Nasional untuk Demokrasi (LMND), Lamen Hendra.  


Kalau tak ada aral melintang, jumpa pers menjelang demonstrasi akbar ini akan diadakan di LBH Jakarta pada siang hari ini.

Akhir-akhir ini, berbagai kritik tajam kepada pemerintahan Jokowi-JK terkait kinerja jelang 100 hari pemerintahan dilontarkan para aktivis LSM dan analis politik.

Analis politik dari Universitas Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf, menyatakan, pemerintahan Jokowi-JK banyak melahirkan blunder. Hal ini sebagai akibat dari komunikasi dan koordinasi yang buruk dengan kementerian.

"Menjelang 100 hari pemerintahan, ternyata Jokowi-JK tak sesuai harapan publik selama ini. Sangat mengecewakan," kata Asep, Rabu (21/1).

Jelang 100 hari ini, lanjut Asep, komitmen Jokowi-JK untuk membangun pemerintahan yang bersih patut diragukan. Bahkan nampak sekali, dalam menyusun kabinet, termasuk Jaksa Agung, Jokowi berada dalam kendali partai politik pendukungnya di Pilpres.

Sementara, Direktur Eksekutif Imparsial, Poengki Indarti, menyesalkan pemerintahan Jokowi yang sudah melumuri tangannya sendiri dengan darah di hari ke 91-nya. Hal ini dikatakan Poengki, terkait pelaksanaan hukuman mati enam terpidana kasus narkoba pada Minggu (18/1).

Dalam pandangannya, hukuman mati yang dijalankan di Indonesia menurut hanyalah sebagai alat penguasa untuk mencari panggung menjelang pemilu. Presiden SBY juga pernah memerintahkan hukuman mati di tahun 2008 dan 2013 atau setahun sebelum Pemilu digelar. [ald]

Populer

Dosen Unikama Kecewa, Lima Bulan Kampus Dikuasai Kelompok Tak Dikenal

Jumat, 30 Januari 2026 | 02:25

Kasus Hogi Minaya Dihentikan, Komisi Hukum DPR: Tak Penuhi Unsur Pidana

Rabu, 28 Januari 2026 | 17:07

Hologram di Ijazah UGM Jadi Kuncian Mati, Jokowi Nyerah Saja!

Senin, 26 Januari 2026 | 00:29

Wanita di Medan Terima Vonis 2 Tahun Usai Gunakan Data Orang Lain untuk Pengajuan Kredit

Jumat, 30 Januari 2026 | 16:50

Jokowi Butuh Perawatan Kesehatan Super Intensif

Jumat, 30 Januari 2026 | 00:41

Rektor UGM Bikin Bingung, Jokowi Lulus Dua Kali?

Rabu, 28 Januari 2026 | 22:51

KPK Amankan Dokumen dan BBE saat Geledah Kantor Dinas Perkim Pemkot Madiun

Rabu, 28 Januari 2026 | 11:15

UPDATE

Ambang Batas Parlemen Moderat Cukup 2,5 Persen

Senin, 02 Februari 2026 | 20:04

Eks Kepala PPATK: Demutualisasi BEI Kebutuhan Mendesak, Faktor Pertemanan Permudah Penyimpangan

Senin, 02 Februari 2026 | 19:50

Ribuan Warga Kawanua Rayakan Natal dan Tahun Baru dengan Nuansa Budaya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Catat! Ini 9 Sasaran Operasi Keselamatan Jaya 2026 dan Besaran Dendanya

Senin, 02 Februari 2026 | 19:45

Prabowo Terima Dirut Garuda dan Petinggi Embraer di Istana, Bahas Apa?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:41

Menkeu Purbaya Singgung Saham Gorengan Saat IHSG Anjlok, Apa Itu?

Senin, 02 Februari 2026 | 19:29

Alur Setoran Kades dan Camat ke Sudewo Ditelisik KPK

Senin, 02 Februari 2026 | 19:23

Horor Sejarah Era Jim Crow

Senin, 02 Februari 2026 | 19:14

10 Surat Tanah yang Tidak Berlaku Lagi mulai Februari 2026

Senin, 02 Februari 2026 | 19:12

5 Takjil Khas Daerah Indonesia Paling Legendaris

Senin, 02 Februari 2026 | 18:53

Selengkapnya