Berita

girindra sandino/net

Politik

KIPP: Menghilangkan Pilkada Langsung Bukan Berarti Melecehkan Kedaulatan Rakyat

SENIN, 08 SEPTEMBER 2014 | 16:50 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Indonesia memandang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) secara langsung punya banyak kekurangan, walau tak bisa disangkal juga punya beberapa nilai positif.

Karena itu, wacana menghapus Pilkada langsung lewat RUU Pilkada tidak boleh sewenang-wenang mendapat tudingan pelecehan atas kedaulatan rakyat.

Wakil Sekjen KIPP Indonesia, Girindra Sandino, menyebutkan beberapa nilai positif pilkada langsung. Pertama, rakyat dapat belajar berdemokrasi dan berpartisipasi aktif atau mengorganisir diri dalam politik. Kedua, pilkada langsung jelas membuat demokratisasi di tingkat lokal berjalan. Demikian juga konsolidasi demokrasi di Indonesia menjadi semakin mapan. Ketiga, Pilkada langsung dapat menjaring putra-putra daerah terbaik yang bisa juga menjadi pemimpin alternatif nasional ketika republik mengalami krisis tokoh. Keempat, Pilkada langsung secara sadar maupun tidak memberi pembelajaran politik berarti kepada masyarakat dan memangkas oligarki dalam partai.


Namun, ironisnya, hasil Pilkada langsung tidak selalu seperti yang diharapkan. Pertama, praktik pilkada selama ini sebagai pengejawantahan kedaulatan rakyat semakin kabur, terkontaminasi oleh realitas politik hasil perubahan sistem politik reformasi. Banyak hasil pilkada tidak ditentukan oleh pilihan rakyat di bilik-bilik suara, akan tetapi dinegasikan oleh lembaga yudikatif (Mahkamah Konstitusi).

Kedua, besarnya biaya yang dikeluarkan pasangan calon membuat kekalahan diartikan sebagai kerugian finansial. Ini yang disebut High Cost Democracy, membuat para raja kecil yang mayoritas memenangkan Pilkada menjadi perampok alias korup. Dia sebutkan ada 327 kepala daerah hasil Pilkada langsung terjerat kasus hukum yang kebanyakan kasus korupsi.

Ketiga, seringkali Pilkada langsung mirip pertarungan dan pertaruhan prestise tokoh dan kelompoknya, sehingga kekalahan dinilai sebagai destruksi terhadap harga diri tokoh dan pendukungnya. Sehingga tidak jarang memicu konflik horisontal.

Ketiga, pasangan calon yang diusung kebanyakan lebih ke "koalisi pragmatik" parpol, bukan "koalisi ideologis." Keempat, Pilkada langsung dijadikan lahan mencari nafkah oleh calo-calo politik, bahkan LSM, Ormas atau lembaga-lembaga survei partisan ikut andil dalam "nanggok duit pilkada".

Kelima, jelas politik uang yang merajalela di Pilkada membutakan masyarakat dalam memaknai demokrasi. Rakyat terus terjerumus dalam kalkulasi politik pragmatis.

"Pengamatan kami, banyak bandar Pilkada yang mendukung pasangan calon, seperti para pengusaha yang mempunyai kepentingan korporasi. Mereka tidak sedikit menyumbang dana dengan harapan imbalan, entah berupa izin usaha atau lainnya," ujar Girindra, (Senin, 8/9).

Dia tidak setuju dengan anggapan menghilangkan Pilkada langsung sama saja melecehkan kedaulatan rakyat. Secara jujur dia tegaskan bahwa Pilkada langsung tidak serta merta membawa kesejahteraan rakyat dan mewujudkan keadilan sosial. Sedangkan yang rakyat inginkan adalah hidup layak, nyaman dan aman, sejahtera, banyak lapangan pekerjaan, pendidikan dan kesehatan murah terjamin kualitasnya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

Praperadilan Dokter Tifa Ditolak, Ini Pertimbangan Hakim

Jumat, 21 Agustus 2026 | 10:25

UPDATE

TNI Siap Turunkan Penerjun Khusus Padamkan Api Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:50

KDKMP Upaya Merebut Kedaulatan Rakyat Atas Pasar

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:34

Pemerintah Kembali Kirim Bantuan ke NTT dan Kalimantan, dari Logistik hingga 500 Mesin Pompa Air

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:30

Sri Purwanti Bangun Bisnis Kuliner Halal Citarasa Nusantara di Taiwan

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:26

Rupiah Melemah, Sanksi Baru AS ke Iran jadi Biang Kerok

Senin, 24 Agustus 2026 | 17:13

Prabowo Dorong Uji Coba Ubi Bombing untuk Atasi Karhutla

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:43

El Nino Sangat Kuat, Jangan Bakar Lahan untuk Land Clearing

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:42

Rumor 62,2 Persen Saham BYAN Warning bagi Pasar Modal

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Pencemaran Berulang, DPR Desak Sumber Limbah Pencemar Kali Bekasi Diusut

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:40

Bioskop Jaksinema Hadir di Pasar Rumput, Tiket Cuma Rp15 Ribu

Senin, 24 Agustus 2026 | 16:28

Selengkapnya