Berita

net

Hukum

Beranikah Jokowi Seret Hendropriyono, Wiranto dan Sutiyoso?

RABU, 27 AGUSTUS 2014 | 13:43 WIB | LAPORAN:

. Capres terpilih, Joko Widodo (Jokowi), harus berani mendorong pengusutan tuntas kasus pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) yang melibatkan tim pemenangan ataupun pendukungnya di Pilpres lalu.

Setara Institute mencatat setidaknya ada tiga tokoh pendukung Jokowi yang terseret kasus pelanggaran HAM. Dimulai dari bekas Kepala Badan Intelijen Negara, Jenderal (Purn) AM Hendropriyono; Ketua umum Partai Hanura, Jenderal (Purn) Wiranto, dan Ketua Umum Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI), Letjen (Purn) Sutiyoso.

"Hendropriyono, dia ada di kasus Talangsari Lampung, pembantaian pengikut Warsidi," ujar Direktur Riset Setara Institute, Ismail Hasani, dalam jumpa pers bertajuk Jokowi-JK, HAM, dan Kebebasan Beragama, di kantornya, Jalan Danau Gelinggang, Bendungan Hilir, Jakarta (Rabu, 27/8).


Dia menjelaskan, saat kasus tersebut terjadi tahun 1989, Hendropriyono menjabat Komandan Korem Garuda Hitam Lampung. Hendropriyono yang kini dilibatkan Jokowi dalam Dewan Penasihat Tim Transisi Jokowi-JK pun diduga kuat terlibat kasus pembunuhan tokoh anti pelanggaran HAM, Munir Said Thalib, pada tahun 2004. Kala itu, Hendro masih menjabat Kepala BIN di era Presiden Megawati Soekarnoputri.

Kalau Wiranto, lanjutnya, Ketua Umum Hanura itu dianggap bertanggungjawab atas tragedi Mei 1998 dan kasus pembantaian massal di Timor Timur pada era Orde Baru.

Sedangkan Sutiyoso, terekam bermain di belakang kasus Tragedi Mei 1998 dan peristiwa berdarah penyerbuan kantor PDI pada 27 Juli 1996 (peristiwa Kuda Tuli).

Ismail tekankan, agenda kabinet Jokowi-JK di bidang HAM mesti menggerakkan Kejaksaan Agung untuk memulai penyidikan yang tuntas terhadap kasus-kasus yang sudah diputuskan oleh Komnas HAM sebagai kasus pelanggaran HAM berat. [ald]

Populer

Kafe Diduga terkait Jampidsus Digeledah

Rabu, 08 Juli 2026 | 16:36

AHY dan Ibas Dilaporkan ke KPK Buntut Lonjakan Harta

Senin, 06 Juli 2026 | 14:49

Beredar Surat Diduga dari Kejagung untuk Konsolidasi Usai Penggeledahan Cafe de' CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 12:53

Mapolda Metro Dijaga Ketat

Jumat, 10 Juli 2026 | 19:04

Presiden Pasti Tahu Dinamika Penggeledahan Cafe de’CLAN Signature

Kamis, 09 Juli 2026 | 09:00

Terima Kasih Bang Refly, Nama Saya Sudah Diubah jadi ‘Si Udin’

Selasa, 07 Juli 2026 | 03:14

Pengacara Nadiem Makarim Dilaporkan ke Peradi Buntut Ucapan "Yang Mulia Takut Ya"

Senin, 06 Juli 2026 | 18:36

UPDATE

Laksma TNI Salim Usul Konsep Hybrid Maritime Security dalam Forum CADTE di China

Minggu, 12 Juli 2026 | 00:01

Pengurus Dekranas Diminta Fokus Bina Kualitas Perajin buat Tembus Pasar Global

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:47

Kitab KH Zulfa Mustofa jadi Inspirasi Lanjutkan Tradisi Keilmuan Ulama

Sabtu, 11 Juli 2026 | 23:22

Kasus Korupsi Batu Bara Jangan Cuma Berhenti di Febrie Adriansyah!

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:55

Polri Bareng Jurnalis Trunojoyo Gelar Padel Bhayangkara Cup 2026

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:45

Universitas Bakrie Ajak Pelajar Tingkatkan Kemampuan Komunikasi Digital

Sabtu, 11 Juli 2026 | 22:31

Saat Konglomerat Tan Kian Diamankan Polisi

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:50

Purbaya Terbitkan Aturan Baru, Permudah Impor Senjata hingga Bahan Baku Industri Pertahanan

Sabtu, 11 Juli 2026 | 21:42

Kasus Blackout Tanggung Jawab Kementerian ESDM

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:51

Ini Alasan Polri Limpahkan Berkas Perkara Kasus Febrie Adriansyah ke Kejagung

Sabtu, 11 Juli 2026 | 20:20

Selengkapnya