Berita

dipo alam/net

Politik

Sekretaris Kabinet: Pembicaraan SBY-McCain Tidak Bahas Jual Beli Senjata

KAMIS, 14 AGUSTUS 2014 | 11:48 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Sekretaris Kabinet (Seskab) Dipo Alam meluruskan pemberitaan terkait pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Senator asal Partai Republik Amerika Serikat (AS), John McCain, di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (12/8).

Dipo Alam tegaskan bahwa SBY dan McCain tak hanya membicarakan modernisasi sistem persenjataan atau alutsista (alat utama sistem persenjataan).

"Tidak benar, jika pertemuan Presiden SBY dengan Senator John MacCain hanya bicara masalah alutsista. Itu hanya bagian salah satu pembicaraan," kata Seskab, Dipo Alam, dikutip dari setkab.go.id.


Seskab yang pada pertemuan tersebut ikut mendampingi Presiden SBY menyampaikan, selain masalah alutsista, masalah lain yang dibahas dalam pertemuan itu adalah kerjasama militer Indonesia-AS, situasi di kawasan global, terutama Laut China Selatan, Afghanistan, Libya, Irak Suriah, dan Palestina, serta masalah penyelenggaraan pemilu di Indonesia.

"Sama sekali tidak ada pembicaraan menyangkut jual beli senjata," tegasnya.

Menurut Dipo, pernyataan SBY soal alutsista dimasukkan dalam kerangka jual beli senjata. Melainkan bermaksud menyampaikan terima kasih kepada Kongres AS atas usaha membahas pentingnya kerjasama militer dengan Indonesia, termasuk dalam bidang militer.

Penjelasan dari Dipo sekaligus membantah dugaan dari Wakil Ketua Komisi I DPR-RI dari Fraksi PDI Perjuangan, Mayjen (Purn) TB Hasanuddin. Ia menilai pertemuan Presiden RI bicara dengan Senator AS kurang pas jika membahas masalah alutsista .

Pernyataan TB Hasanuddin itu keluar saat diwawancara Rakyat Merdeka Online, kemarin. TB Hasanudin mengatakan, harusnya SBY hanya membahas hal lain yang tidak sensitif seperti alutsista. Malah akan lebih pas jika SBY dan McCain membahas hubungan kedua negara, bukan teknis persenjataan. Mantan Sekretaris Militer Presiden itu jadi menduga-duga McCain adalah utusan kelompok atau seseorang yang berpengaruh di AS.

"Dia ajak presiden kita bicara persenjataan dengan misi tertentu. Misalnya dia datang ke sini mungkin ada pesanan titipan, dari misalnya produsen senjata tertentu, bisnis senjata," ujarnya. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

Satlap Tri Cakti Diduga Hadang Polisi di Belitung, IPW Desak Ada Tindak lanjut

Senin, 17 Agustus 2026 | 14:30

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

TNI Kuasai Wilayah OPM di Intan Jaya dan Sita Sejumlah Senjata

Minggu, 16 Agustus 2026 | 01:24

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

UPDATE

Negeri Para Bocil

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:14

DPR Tidak Boleh Hadapi Pendemo dengan Pendekatan Keamanan

Kamis, 27 Agustus 2026 | 06:02

Tak Benar Yayasan Syarif Hidayatullah Berkonflik dengan UIN Jakarta

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:45

Desil DTSEN Tak Boleh Merugikan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:34

Beban Kesehatan Karhutla Tembus Rp120 Triliun

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:22

Pejabat Jangan Merasa Sok Tahu Persoalan Rakyat

Kamis, 27 Agustus 2026 | 05:12

Jokowi seperti Gelisah dengan Pernyataan Budi Arie

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:28

Dinas Perumahan Harus Bergerak Cepat Tuntaskan Masalah Warga Taman Rasuna

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:16

Naik Motor dari Indramayu, Konten Kreator Ini Semangat Ikut Demo di DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 04:00

Polri Kumpulkan Donasi Rp12,6 Miliar untuk NTT

Kamis, 27 Agustus 2026 | 03:46

Selengkapnya