Berita

ilustrasi/net

Politik

MENANTI KABINET JOKOWI-JK

Yang Sodorkan Diri Tidak Paham Jokowi

SENIN, 11 AGUSTUS 2014 | 16:37 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Aksi kaum oportunis yang mengejar jabatan dalam pemerintahan Presiden terpilih Joko Widodo-Jusuf Kalla makin kentara. Sikap itu bukan saja tidak santun, namun menggambarkan ambisi yang berbahaya bagi pemerintahan Jokowi ke depan.

"Sejak awal memilih Jokowi, mestinya posisi politik kita adalah memberikan mandat penuh kepada Pak Jokowi untuk memimpin bangsa dengan segala gagasan elementernya yang akan didukung oleh kabinet pilihan Jokowi sendiri," ujar Michael Umbas, penulis buku "22 Solusi Cerdas Jokowi", kepada wartawan lewat pesan elektronik, Senin (11/7).

Menurutnya, posisi menghindari transaksi jabatan justru menjadi kekuatan Jokowi sehingga dipercaya publik. Hal itu sudah tercermin ketika parpol pengusungnya tidak mendasarkan dukungan atas bagi-bagi kursi.


"Bahwa Pak Jokowi kemudian akan memberikan reward, itu akan dilakukan setelah menang. Lagipula itu dilakukan juga dengan catatan harus profesional dan ada wacana harus melepas jabatan di partai," terang Umbas.

Umbas yang juga sedang menyelasaikan buku lanjutan terkait program dan struktur kinerja Pemerintahan Jokowi-JK ke depan, mengaku bahwa upaya sejumlah pihak yang hendak menyodorkan diri menjadi menteri sebaiknya ditolak oleh Jokowi.

"Kan Pak Jokowi sudah mengantisipasi dengan membentuk kantor transisi. Di situ ada headhunter yang tugasnya mencari tahu siapa calon menteri dengan berbagai variabel yang cocok dengan harapan Jokowi," tambahnya.

Bahkan yang menarik, tim Kantor Transisi sudah dinyatakan Jokowi tidak otomatis diangkat sebagai menteri.

"Ini menandakan Jokowi tahu bagaimana memposisikan setiap orang di dekatnya dalam kapasitas apa. Kalau ada yang merasa berjasa dan meminta imbalan jabatan, berarti dia tidak paham karakter Jokowi. Itu saja," tutup Umbas. [ald]

Populer

PIK-2 dan Ancaman Kedaulatan Negara

Rabu, 19 Agustus 2026 | 04:42

KPK OTT Rektor Unsoed Prof Akhmad Sodiq

Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:01

KPK Bakal Dalami Data Intelijen soal Dugaan Suap ke Purbaya dan Anggota Komisi XI DPR

Kamis, 27 Agustus 2026 | 02:24

Profil Akhmad Sodiq, Rektor Unsoed yang Terjaring OTT KPK

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 09:02

Tidak Benar Menag Nasaruddin Umar Mundur

Rabu, 26 Agustus 2026 | 18:06

KPK Sebut Iptu Dias Tak Bisa Dijerat Dewas, Penanganan Etik Diserahkan ke Polri

Senin, 24 Agustus 2026 | 11:47

Belasan Teman Jokowi Bagusnya Batal Jadi Saksi Sidang soal Ijazah

Sabtu, 22 Agustus 2026 | 03:14

UPDATE

Rechta Institute: Muktamar NU Bersih Dari Politik Uang dan Balas Budi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:16

Ucapan Budi Arie Soal Percepatan Pemilu 2029 Tak Bisa Dimaafkan

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:02

Nasaruddin Umar Pilih Jadi Menag Ketimbang Maju Ketum PBNU

Jumat, 28 Agustus 2026 | 12:01

PLN Siap Serap Listrik dari PSEL Bekasi, Capai 223.584 MWh per Tahun

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:51

Muktamar NU Turut Bahas RUU Perampasan Aset

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:40

Polisi Sebut Kelompok Perusuh Rusak Fasilitas Umum Usai Demo di Gedung DPR/MPR

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:34

Polda Metro Pastikan Aktivitas Warga Tetap Berjalan Pascademonstrasi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:26

PLTS 100 GWp Diluncurkan, PLN Siap Percepat Swasembada Energi

Jumat, 28 Agustus 2026 | 11:11

Emas Antam Turun Lagi, Termurah Rp1,4 Juta

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:57

Legislator Aceh soal Blok Andaman: Rujukannya Harus Pasal 33 UUD 1945

Jumat, 28 Agustus 2026 | 10:40

Selengkapnya