Berita

Politik

SBY Membela, Semoga Mega Makin Dewasa

KAMIS, 07 AGUSTUS 2014 | 17:53 WIB | LAPORAN: ALDI GULTOM

Memang sudah kewajiban Joko Widodo untuk menjalin komunikasi dengan para elite dari dua partai besar, Golkar dan Demokrat, yang selama ini berseberangan dengan PDI Perjuangan.

"Jokowi melakukan kewajiban karena mekanisme multi partai ini menentukan komposisi pendukung pemerintah di parlemen," kata pakar politik, Arbi Sanit, kepada Rakyat Merdeka Online, Kamis (7/8).

Dengan penguasaan kursi hanya dari separuh parlemen, otomatis koalisi PDIP, Nasdem, Hanura dan PKB harus diperkuat. Jika tidak, Jokowi akan "mati kutu" selama lima tahun pemerintahannya.


"Untuk menambah koalisi, yang paling berpeluang diajak adalah dua partai besar Golkar dan Demokrat. Dengan itu kekuatan yang mendukung kebijakan pemerintah di parlemen menjadi 64 persen, itu bisa stabilkan pemerintahan," katanya.

Tapi, menggaet dua partai besar itu bukan hal mudah karena latar belakang masalah yang berbeda antara Demokrat dan Golkar.

Masalah di Golkar adalah Aburizal Bakrie, yang sekarang jadi kontroversi di dalam partainya. Potensi kerjasama dengan Golkar akan terbuka lebar bila sudah terjadi perubahan kepemimpinan di internal Golkar ditambah sudah finalnya putusan Mahkamah Konstitusi memenangkan Jokowi-JK.

"Melalui Jusuf Kalla, kerjasama dengan Golkar bisa mulus asalkan lebih dulu ada pergantian ketua umum. Ini mengulang fenomena 2004, walau Golkar kalah Pilpres tapi mereka tetap berada di pemerintahan," jelasnya.

Nah, kandungan masalah dengan Partai Demokrat yang lebih berat karena terkait hubungan pribadi antara Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, dengan SBY selaku Ketua Umum partai pemenang Pilpres 2009 itu.

SBY sendiri sudah banyak berinsiatif membuka diri agar komunikasi terbuka dengan Mega. Misalnya, melalui pernyataan pers selaku Presiden RI, SBY turut membela Mega dari tuduhan isu korupsi pencetakan uang yang diumbar Wikileaks.

Kata Arbi, sekarang timbul kesan bahwa Mega yang menghadapi masalah besar. Mau menolong agar pemerintahan Jokowi lancar dengan membuka diri kepada SBY, atau pertahankan harga dirinya.

"Ini soal pribadi dan soal negara. Kita harap Mega mendewasakan diri jadi negarawan. Apalagi, SBY sudah melempar peluang kerjasama dengan melakukan pembelaan terhadap Mega atas isu korupsi yang diumbar Wikileaks," terang Arbi.

Menurutnya, masalah pribadi Mega dengan SBY tidak bisa diselesaikan oleh Jokowi. Apalagi, Mega dan SBY adalah "pemilik" dua partai besar.

"Persoalan pribadi harus diselesaikan di antara mereka. Kalau Mega mau buka diri, saya yakin SBY akan menyambut," tandasnya. [ald]

Populer

Duit Rp100 Miliar Hasil OTT KPK Dikabarkan Milik Nusron Wahid

Selasa, 15 September 2026 | 13:16

Mengenal Pantas Sutardja, Orang Super Kaya AS Berdarah Indonesia

Kamis, 10 September 2026 | 05:04

KPK Belum Tutup Peluang Periksa Bos Rokok HS M Suryo

Sabtu, 12 September 2026 | 06:08

Pendatang Baru, Partai Gema Bangsa Siap Verifikasi Pemilu 2029

Minggu, 13 September 2026 | 17:39

KPK Dikabarkan Tetapkan Tangan Kanan Nusron Wahid Hingga Pihak Summarecon sebagai Tersangka

Selasa, 15 September 2026 | 09:40

Janggal, Purbaya Dipecat Setelah Mencopot Ratusan Pejabat Kemenkeu

Senin, 14 September 2026 | 21:57

Menkeu Baru Angkat Bicara Soal Perombakan Pejabat Bea Cukai dan Dirjen Pajak

Senin, 14 September 2026 | 17:28

UPDATE

Dina Sulaeman: Sikap Prabowo Beri Pesan Diplomatik Kuat untuk Palestina

Minggu, 20 September 2026 | 09:51

Ekonom Ungkap Skema Pendidikan Gratis PTN Tanpa Menguras APBN

Minggu, 20 September 2026 | 09:43

Prabowo Berencana Produksi Bensin dari Batu Bara

Minggu, 20 September 2026 | 08:56

Humanika: Jangan Jatuhkan Prabowo Sebelum Lima Tahun

Minggu, 20 September 2026 | 08:49

Sesuai Ambisi Prabowo, Kampus Negeri Jangan Cari Duit dari Mahasiswa Lagi

Minggu, 20 September 2026 | 08:22

Dubes Palestina Ungkap Momen Emosional Saat Peluk Prabowo di Gontor

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Ekonom: Prabowo Tinggal Lanjutkan Pendidikan Gratis dari SBY

Minggu, 20 September 2026 | 08:06

Keretakan Peradaban

Minggu, 20 September 2026 | 07:38

Wadanyon OPM Kodap 35 Bintang Timur Yahukimo Diringkus TNI

Minggu, 20 September 2026 | 06:46

DPD Tawarkan Solusi Netral Fiskal Demi Ekonomi Berlari Kencang

Minggu, 20 September 2026 | 06:19

Selengkapnya