Berita

joko widodo/net

Politik

Jokowi Bukan Jawa!

JUMAT, 06 JUNI 2014 | 15:26 WIB | OLEH: EMPIE ISMAIL MASSARDI

PENCITRAAN yang selama ini  disematkan kepada Jokowi sebagai sosok Jawa yang santun, beretika, tenang, sederhana, bersih, dan pintar, kian hari kian  pudar. Kesempurnaan sebagai manusia,  yang digambarkan sebagai sosok  paling layak memimpin bangsa Indonesia, mulai diragukan banyak pihak.

Lunturnya citra Jokowi bukan karena kampanye hitam yang menerpa dirinya, melainkan terungkapnya kualitas kepribadiannya yang rendah secara luas. Orang mulai menilai kalau kapabilitas Jokowi sebagai seorang pemimpin ternyata jauh lebih rendah dibanding Prabowo.

Masyarakat  menilai, Prabowo bukan saja mengungguli Jokowi dalam perihal  kecerdasan dan kecakapan berpidato, kemampuan yang mutlak dimiliki oleh pemimpin besar, melainkan juga dalam karakter. Prabowo , yang dicitrakan pribadi yang galak, pemarah, dan keras, ternyata adalah orang  yang tenang, ramah, bersahabat, dan bisa menghargai, walau lawan sekali pun. Sementara Jokowi, yang ingin melakukan "revolusi mental", jauh bertolak belakang dengan  apa yang dicitrakan oleh sindikasi media yang mewakili kepentingan asing.


Jokowi yang lahir di Surakarta dan dibesarkan dalam kultur Jawa yang kental,  seharusnya jauh lebih Jawa dari  Prabowo yang Jawa lahir di Jakarta. Tapi ternyata, Jokowi  tidak memililki karakter sebagai orang Jawa yang pandai menyembunyikan ambisi dan perasaan hatinya. Jokowi, yang dipenuhi aura ngasorake,  telah kehilangan jati dirinya sebagai orang Jawa. Atau barangkali, mungkinkah Jokowi sedang dalam kebingungan identitas karena harus selalu memerankan  tokoh  yang bukan dirinya?

Jokowi, kadang harus berperan sebagai orang yang sederhana dan merakyat dengan blusukan, bersepeda, naik bajaj, dan memakai barang murah. Kadang juga, untuk menunjukan bahwa Jokowi bisa menjadi tokoh  hebat, Jokowi pun menyerupakan dirinya dengan jenderal Soedirman. Dan, untuk menepis kampanye hitam yang menyerang ke Islamannya, Jokowi lantas berdandan ala ulama. Kemudian, dalam beberapa kesempatan, Jokowi membuka pidatonya dengan shalawat yang masih terbata-bata.

Dari sekian banyak tokoh yang telah diperankan Jokowi, peran rajalah sepertinya yang paling disukai. Ketika Jokowi memakai kostum raja-rajaan, mungkin tidak ada masalah.Tetapi. saat Jokowi seolah berpatut diri menjadi "Raja Jawa", inilah yang bermasalah. Jokowi tidak menyadari kalau dirinya sedang melakukan "makar  spiritual" atas dua kerajaan, Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Dua kerajaan yang menjadi pusat "magis" tanah Jawa.

Mematut diri sebagai "raja Jawa",  tidak akan pernah dilakukan oleh "orang Jawa" yang menjadi pejabat. Bahkan, Presiden Soekarno dan Soeharto sekali pun,  tidak pernah berani mematut-matut dirinya menjadi "raja Jawa". Karena secara "spiritual", mereka adalah tetap "kawulo" di kerajaan Mataram.

Inilah sebabnya, kenapa Kesultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta, tidak memberikan dukungan kepada Jokowi sebagai capres. Jokowi dengan "keangkuhannya",  telah melakukan "makar spiritual" pada "penguasa magis" tanah Jawa.

Apakah "tulah" sedang membayangi Jokowi?
Wallahu a’lam bish-shawabi!  [***]
   
Penulis Pengamat Spiritual
 

Populer

Kekayaan Ibas Demokrat Naik Lebih 700 Persen dalam Empat Tahun, Total Rp354,7 Miliar

Kamis, 25 Juni 2026 | 05:22

KPK Sakit Jiwa

Kamis, 25 Juni 2026 | 15:08

Mitra MBG Ultimatum BGN Cabut SE 12/2026 2x24 Jam

Selasa, 23 Juni 2026 | 18:32

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Langgar HAM, Segera Tangkap Taufik Hidayat dan Dihukum Setimpal!

Senin, 22 Juni 2026 | 15:05

Berpeluang Kalah, Wajar Pengacara Profesional Menolak Bela Jokowi

Kamis, 25 Juni 2026 | 07:47

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

Prabowo Tindak Lanjuti Usulan Tambah Beasiswa S3 bagi Dosen

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:09

Panitia Ogah Disusupi Politik, Jokowi Batal Ikut Kirab Budaya di Lampung Timur

Minggu, 28 Juni 2026 | 16:06

Sekolah Rakyat Bogor Padukan Panorama Alam dan Fasilitas Pendidikan Modern

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:43

400 Lajang Ikut Golek Garwo, Kemenag Dorong Lahirnya Keluarga Sakinah

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:35

Dana SAL Kemenkeu Perkuat Likuiditas dan Intermediasi Bank Mandiri

Minggu, 28 Juni 2026 | 15:29

Prabowo Target Pangkas BUMN dari 1.000 Jadi 250 Perusahaan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:47

Safari Politik Jokowi Bareng PSI Picu Sorotan

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:28

Daftar 32 Tim yang Lolos Piala Dunia 2026, Lajut Fase gugur

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:16

Australia Gandakan Denda Platform Medsos Nakal hingga Rp1 Triliun

Minggu, 28 Juni 2026 | 14:06

Membaca Sinyal di Balik Ritual Jokowi Injak Kepala Kerbau di Lampung

Minggu, 28 Juni 2026 | 13:56

Selengkapnya