Berita

Bisnis

Bisnis Cigna Catat Pertumbuhan 35 Persen

SELASA, 20 MEI 2014 | 19:24 WIB | LAPORAN:

PT. Asuransi Cigna (Cigna) berhasil mencatat pertumbuhan pendapatan premi bersih sebesar 17 persen dari Rp 878 miliar di tahun 2012. Angka ini naik menjadi lebih dari Rp 1 triliun di tahun 2013 dengan total aset Rp 1,8 triliun.
 
"Kuatnya kinerja keuangan kami di tahun 2013 merupakan hasil dari strategi yang berfokus kepada konsumen sehingga mendorong angka penjualan sebesar 35 persen, didukung pula dengan rasio kesehatan RBC yang mencapai 755 persen, atau enam kali lebih tinggi dari minimum RBC yang ditetapkan oleh pemerintah," papar Deputy Chief Executive Officer dari PT Asuransi Cigna Julian Mengual melalui siaran pers yang diterima Rakyat Merdeka Online, Selasa (20/5).
 
Salah satu langkah Cigna yang selalu mengedepankan konsumennya yaitu melalui peluncuran inovasi produk Family Eazicare pada bulan November 2013, polis asuransi pertama di Indonesia yang dapat melindungi sampai dengan lima anggota keluarga sekaligus dalam satu premi. Produk yang didisain atas pemahaman mendalam akan budaya Indonesia yang berfokus pada keluarga serta kebutuhan konsumen pada segmen khusus tersebut telah turut mendorong pertumbuhan bisnis Cigna sebesar 26 persen.
 

 
"Berbagai langkah Cigna yang berbasis konsumen tersebut terbukti mampu membangun pertumbuhan yang kuat. Dengan selalu mendengar dan memperkuat hubungan kami dengan para konsumen, kami berhasil meningkatkan kepercayaan dan kepuasan mereka terhadap produk dan layanan Cigna, dibuktikan melalui hasil dari pengukuran terstruktur lewat transaksi NPS (Net Promoter Score) senilai 24 poin," tambah Julian.
 
Optimisme Cigna dalam mengembangkan bisnisnya semakin besar melihat peluang positif dari industri asuransi Indonesia, ditunjukkan oleh laju pertumbuhan yang mencapai dua digit dan diperkirakan akan terus meningkat, serta didorong oleh ekspansi masyarakat kelas menengah dan meningkatnya kesadaran berasuransi oleh masyarakat usia muda.
 
Meningkatnya kesadaran berasuransi juga diperkuat oleh program BPJS dari pemerintah yang bantu ciptakan landasan komunikasi dalam memperkuat pemahaman akan pentingnya asuransi bagi masyarakat. Peluang tumbuhnya industri asuransi Indonesia turut diperkuat oleh fakta bahwa tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih rendah, dengan persentase di bawah 2 persen, berdasarkan pernyataan AAJI melalui Insurance Outlook nya tahun lalu.
 
"Berdasarkan hasil survey terbaru Swiss Re di beberapa negara Asia termasuk Indonesia, kami menemukan tingkat kesadaran masyarakat akan produk asuransi kesehatan yang amat tinggi, namun tingkat penetrasinya cenderung bervariasi melihat bahwa kesadaran kemungkinan besar tidak diikuti oleh pembelian produk," jelas Dr. Williem Hoesen, MHA, Vice President of Client Markets Medical Insurance dari Swiss Re Asia.

Hal ini, lanjut Williem, merupakan tantangan bagi penyedia layanan asuransi untuk dapat mengubah kesadaran menjadi kepemilikan, terutama di negara seperti Indonesia dengan kesenjangan perlindungan asuransi yang cukup besar. Terlepas dari tingkat penetrasi asuransi kesehatan dan sejauh mana dukungan pemerintah di pasar yang disurvei, orang masih bergantung pada dana pribadi atau dukungan keluarga untuk membayar biaya pengobatan.

Dengan demikian, di pasar yang kepemilikan asuransinya masih rendah, ada kebutuhan untuk mendidik konsumen tentang nilai asuransi kesehatan dan untuk menawarkan produk yang melengkapi cakupan program kesehatan nasional. Sementara konsumen di pasar yang kepemilikan asuransinya tinggi mencari fitur nilai tambah," tambah Williem.
 
Lebih lanjut Julian menambahkan bahwa dengan bertumbuhnya industri asuransi di Indonesia disertai lebarnya kesenjangan perlindungan asuransi kesehatan dan kuatnya potensi pasar, memberikan peluang bagi para penyedia layanan asuransi untuk dapat menguasai pasar berkat pemahaman akan kebutuhan para konsumennya.
 
"Itulah yang menjadi alasan kami dalam menyelesaikan kajian atas pasar Indonesia secara menyeluruh dan mendalam untuk memperluas pertumbuhan konsumen di berbagai segmen berdasarkan pemahaman akan gaya hidup, kebutuhan dan keinginan mereka," tandasnya.[wid]

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

RT/RW Didorong Jadi Garda Terdepan Pencegahan Narkoba

Senin, 06 Juli 2026 | 14:25

PKS Minta Kader di Daerah Dorong Perda Larang Kampanye LGBTQ

Senin, 06 Juli 2026 | 14:23

Bantah Isu PHK, Agrinas Palma Klaim Bakal Rekrut Lebih dari 20 Ribu Pekerja

Senin, 06 Juli 2026 | 14:13

Israel Berambisi Ciptakan Senjata Laser untuk Perang Antariksa

Senin, 06 Juli 2026 | 13:59

66 Negara Ini Melarang Homoseksual, Termasuk Indonesia

Senin, 06 Juli 2026 | 13:57

Perpres soal LGBTQ Sejalan dengan Aspirasi Mayoritas Rakyat

Senin, 06 Juli 2026 | 13:51

Kubu Jokowi Nilai Praperadilan Kedua Roy Suryo Upaya Mengulur Persidangan

Senin, 06 Juli 2026 | 13:49

Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekosistem Ekonomi Perempuan di Jawa Tengah

Senin, 06 Juli 2026 | 13:40

Kudeta Halus terhadap Calon Presiden

Senin, 06 Juli 2026 | 13:36

Tersangka Pemberi Suap Bupati Langkat Masih di Rutan Polda Sumut, KPK Perkuat Bukti

Senin, 06 Juli 2026 | 13:27

Selengkapnya