Berita

ilustrasi

Bisnis

Pupuk Subsidi Langka, Mentan Malah Salahkan KP3 Di Daerah

Alokasi Dikurangi, Pemerintah Seolah-olah Membiarkan Kelangkaan
RABU, 07 MEI 2014 | 10:05 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Kementerian Pertanian (Kementan) tidak mau disalahkan terkait kelangkaan pupuk subsidi yang terjadi saat ini. Lemahnya komisi pengawasan pupuk ditenggarai jadi biang kerok pupuk langka.

Menteri Pertanian (Mentan) Suswono mengatakan, kelangkaan pupuk tidak akan terjadi jika Komisi Pengawas Pupuk dan Pestisida (KP3) bekerja dengan baik.

Menurut dia, disparitas (perbedaan) harga pupuk bersubsidi dengan pupuk non subsidi sangat tinggi menyebabkan banyak orang ingin mencari keuntungan dengan cara tidak benar. Atau dengan cara menumpuk pupuk.


Karena itulah pengawas pupuk ini menjadi sangat penting. Apalagi anggotanya terdiri dari polisi, kejaksaan, termasuk dari kelompok tani juga ada.

“Kita sudah dukung anggaran, di mana ada biaya operasional juga kita tambah, mestinya jalan. Kalau jalan dengan baik mestinya penyimpangan itu paling tidak, kalaupun tidak bisa dihapus sama sekali ya diminimalisir,” ucap Suswono, kemarin.

Karena itu, dia meminta KP3 di tiap kabupaten dan kota memperbaiki pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi.

Untuk diketahui, kelangkaan pupuk terjadi hampir di semua daerah. Kelangkaan mengancam target pencapaian tanaman pangan yang disusun pemerintah.

Sementara, KP3 di tiap kabupaten dan kota diketuai langsung oleh sekretaris daerah (sekda).

Pengamat pertanian dari Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia Khudori mengatakan, kelangkaan pupuk yang terjadi saat ini di beberapa daerah mengancam target pangan pemerintah.

Menurut dia, pemerintah seharusnya bisa menutup celah permainan dalam tata niaga pupuk. Mestinya, itu tidak boleh terjadi dan sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari. Apalagi  kejadian ini selalu berulang-ulang dan jika dibiarkan akan mengganggu rencana tanam dan proses tanam yang sudah direncanakan petani.

Dampak bagi pemerintah, kata Khudori, akan menganggu target-target produksi aneka tanaman pangan utama yang sudah direncanakan. Selain masalah permainan tata niaga pupuk, kelangkaan pupuk bersubsidi yang terjadi juga karena faktor bencana di awal tahun yang menyebabkan konsumsi pupuk meningkat.

Khudori juga mengatakan, sistem rayonisasi distribusi pupuk bersubsidi juga menjadi salah satu penyebab kelangkaan pupuk. Dia meminta pemerintah segera memperbaiki sistem distribusi rayonisasi tersebut.

Menurutnya, sistem itu membuat ketimpangan antara daerah satu dengan daerah lain yang berbeda wilayah. Ketimpangan itu membuat distribusi pupuk bersubsidi tidak merata.

Dia mencontohkan, terjadinya bencana awal tahun di beberapa daerah di Jawa menyebabkan petani gagal panen. Akibatnya, para petani harus tanam ulang dan membutuhkan pupuk subsidi yang mestinya untuk bulan musim tanam Mei dan Juni tetapi itu maju ke bulan Maret sehingga perlu realokasi.

Namun, realokasi ini tidak mudah karena rayonisasi per wilayah itu. Misalnya di Jawa Barat tidak terjadi bencana, bencananya terjadi di Jawa Timur dan Jawa Tengah, ketika kebutuhan petani pupuk bersubsidi karena bencana tadi, tidak mudah mengalokasikan pupuk bersubdisi di Jawa Barat ke Jawa Tengah dan Jawa Timur.

Ketua Umum Kelompok petani dari Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA) Winarno Tohir menduga kelangkaan pupuk bersubsidi di berbagai daerah disebabkan penurunan alokasi pupuk bersubsidi oleh pemerintah tahun ini.

Selain langka, Winarno mengatakan, pupuk juga harganya mahal. Mahalnya pupuk ini disebabkan tingginya biaya produksi di dalam negeri.

Karena itu, pihaknya  akan memeriksa penyebab kelangkaan pupuk yang hampir terjadi di seluruh sentra produksi pangan di Indonesia. ***

Populer

Penggunaan Gedung Kemenhut oleh PSI Berpotensi Melanggar Hukum

Minggu, 28 Juni 2026 | 00:26

Karier Gila-gilaan Mufli Budi Ananda: Dari Asisten Raffi Ahmad Jadi Komisaris Krakatau Posco

Senin, 29 Juni 2026 | 00:00

Jokowi Tinggalkan Jejak Buruk bagi Masyarakat Adat Lampung

Rabu, 01 Juli 2026 | 04:23

KPK Didesak Bongkar Dugaan Aliran Dana ke Oknum Polisi dalam Kasus Bea Cukai

Jumat, 26 Juni 2026 | 01:30

Tim Mawar dan Tambang

Minggu, 28 Juni 2026 | 04:59

KPK Gelar OTT di Kabupaten Kuantan Singingi Riau

Senin, 29 Juni 2026 | 15:05

Dianggap Sakit Jiwa, Ini Jawaban KPK Soal Tuntutan Ringan Bos Blueray

Jumat, 26 Juni 2026 | 14:45

UPDATE

RT/RW Didorong Jadi Garda Terdepan Pencegahan Narkoba

Senin, 06 Juli 2026 | 14:25

PKS Minta Kader di Daerah Dorong Perda Larang Kampanye LGBTQ

Senin, 06 Juli 2026 | 14:23

Bantah Isu PHK, Agrinas Palma Klaim Bakal Rekrut Lebih dari 20 Ribu Pekerja

Senin, 06 Juli 2026 | 14:13

Israel Berambisi Ciptakan Senjata Laser untuk Perang Antariksa

Senin, 06 Juli 2026 | 13:59

66 Negara Ini Melarang Homoseksual, Termasuk Indonesia

Senin, 06 Juli 2026 | 13:57

Perpres soal LGBTQ Sejalan dengan Aspirasi Mayoritas Rakyat

Senin, 06 Juli 2026 | 13:51

Kubu Jokowi Nilai Praperadilan Kedua Roy Suryo Upaya Mengulur Persidangan

Senin, 06 Juli 2026 | 13:49

Bank Mandiri Dorong Penguatan Ekosistem Ekonomi Perempuan di Jawa Tengah

Senin, 06 Juli 2026 | 13:40

Kudeta Halus terhadap Calon Presiden

Senin, 06 Juli 2026 | 13:36

Tersangka Pemberi Suap Bupati Langkat Masih di Rutan Polda Sumut, KPK Perkuat Bukti

Senin, 06 Juli 2026 | 13:27

Selengkapnya