Berita

presiden sby/net

SBY Tidak Etis Jadi Jurkam Demokrat!

SENIN, 10 MARET 2014 | 11:33 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Setelah tidak berpeluang lagi maju sebagai presiden di tahun 2014, tampaknya Susilo Bambang Yudhoyono masih "gatal" untuk berkampanye. Jika tidak aral melintang, dalam rangka mengakhiri jabatannya sebagai RI-1, SBY masih akan berkampanye untuk Partai Demokrat.

SBY tercatat sebagai juru kampanye nasional (jurkamnas) partai berlambang mercy itu di sejumlah daerah. SBY akan membantu kemenangan sejumlah caleg DPR di daerah-daerah. Dan dipastikan SBY juga akan berkampanye untuk putranya Ibas Yudhoyono di kampung kelahirannya di Pacitan, Jawa Timur.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI) Ari Junaedi menilai tidak ada yang salah dalam hal SBY ingin bertindak sebagai jurkamnas. Hal tersebut merupakan konsekuensi dari negara demokrasi yang menganut azas multi partai. Hanya saja dipandang dari sisi etika politik, rasanya SBY tidak pantas untuk berkampanye di banyak daerah walau mengambil cuti di hari libur.


"Ingat, jika SBY berpergian hak dan kewajiban selaku Presiden dan kepala negara masih melekat pada diri SBY. Akibatnya, pengamanan dan protokoler juga melekat pada diri SBY. Berapa banyak anggaran negara tersedot untuk kampanye SBY? Sebaiknya SBY duduk manis dan berkonsentrasi penuh menuntaskan amanah rakyat sebagai presiden ketimbang kampanye," ujar Ari Junaedi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Senin, 10/3).

Dalam pandangan pengajar Program Pascasarjana UI, Universitas Diponegoro Semarang, Universitas Dr Soetomo Surabaya dan Universitas Persada Indonesia, Jakarta ini, niatan SBY untuk menjadi jurkamnas sebenarnya bisa "dibaca" sebagai bentuk kekhawatiran SBY akan merosotnya raihan suara Demokrat di Pemilu Legeslatif mendatang. Sejalan dengan hasil survei berbagai lembaga jajak pendapat yang kredibel, raihan suara Demokrat diprediksikan maksimal hanya meraup 9 persen suara.

"Ada semacam kegalauan stadium lanjut dari SBY melihat elektabilitas Demokrat yang terjun bebas. SBY tidak ingin partai yang didirikannya menghunjam di dasar klasemen parpol-parpol peraih suara yang paling jeblok. Padahal, publik masih menanti legacy SBY di akhir jabatannya," demikian Ari. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya