Berita

Mungkinkah Rizal Ramli dan Yusril Ihza Jadi Kuda Hitam 2014?

SENIN, 10 MARET 2014 | 09:20 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Secara riil, hingga saat ini belum ada sosok yang benar-benar bisa disebut sebagai calon presiden (capres). Nama-nama yang sudah beredar di publik, itu baru bisa disebut bakal capres.

Tidak semua bakal capres itu akan menjadi capres. Bakal capres ini bisa terganjal karena aturan, yang mengharuskan capres-cawapres diusung oleh minimal partai yang menguasai parlemen 20 persen suara. Bisa juga bakal capres ini tersandung karena dinamika politik yang kian fluktuatif, atau bahkan tidak menentu

Apalagi ada yang percaya, 50 persen lebih urusan capres ini ditentukan oleh takdir.


Karena itu, nama-nama yang mulai disebut bekalangan ini sebagai capres, bisa jadi terpaksa harus rela akhirnya menerima posisi cawapres. Atau malah, orang-orang ini terjungkal dari arena dan gelanggang karena ada satu atau dua hal, yang boleh dikatakan sebagai gempa politik.

Secara paralel, bisa juga beberapa nama yang tidak dijagokan, karena namanya luput dari pertanyaan dalam sebuah survei, entah senagaja atau tidak disengaja, justru mulai muncul ke permukaan. Atau dengan kata lain, sosok ini boleh dikatakan menjadi Kuda Hitam 2014.

Di antara nama yang bisa menjadi kuda hitam itu adalah Rizal Ramli dan Yusril Ihza Mahendra. Mungkin ada yang menilai prediksi ini terlalu berlebihan mengingat kedua tokoh ini tidak punya kendaraan politik yang memadai. Sampai saat ini, keduanya hanya tercatat sebagai peserta Konvensi Rakyat.

Konvensi Rakyat merupakan cara dan mekanisme yang ditempuh sejumlah tokoh nasional, agamawan, budayawan dan akademisi untuk menjaring calon presiden. Mereka yang menggagas ide ini menilai cara menjaring mekanisme capres terlalu dikungkung oleh oligarki partai politik maupun hegemoni tingkat popularitas belaka. Sementara di luar sana, banyak tokoh yang dinilai punya kapasitas dan integritas namun terabaikan dan terlupakan.

Di antara dua tokoh yang dinilai punya kapasitas dan berintegritas itu, adalah Rizal Ramli dan Yusril.

Rizal Ramli adalah ekonom senior yang saat menjabat Menko Perekonomian di era Presiden KH Abdurraham Wahid cukup membawa perubahan yang sigfinikan dan Indonesia mampu kembali bangkit di masa-masa awal tranisi. Namun sayang, saat itu aspek politik begitu mendominasi hingga kesuksesan ekonomi pemerintahan Abdurrman Wahid di bawah komando Rizal Ramli jarang terdengar.

Sementara Yusril Ihza Mahendara adalah sosok yang diketahui publik sebagai pakar hukum tata negara. Di tangan Yusril, hukum menjadi nyata dan di tangan Yusril pula dinilai kepastian penegakkan hukum bisa terwujud.

Kembali ke persoalan kuda hitam. Banyak yang percaya, dengan sistem demokrasi yang semakin terkonsolidasi, publik semakin rasional. Dan di bawah kendali rasionalitas, publik hanya akan memilih sosok yang dinilai punya kapasitas dan benintegritas. Dengan logika ini, kemungkinan Rizal Ramli dan Yusril menjadi kuda hitam menemukan relevansinya. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya