Berita

ilustrasi/net

Industri Hilir Harus Disiapkan untuk Hadapi Fluktuasi Harga Karet Turun

MINGGU, 09 MARET 2014 | 19:40 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dalam beberapa bulan ini harga karet turun drastis. Pada akhir 2013, harga karet mencapai Rp 8.000 per kg, dan kini hanya Rp 6.500 per kg. Akibatnya, para petani, karet khususnya di Kepulauan Bangka Belitung, menjerit.

Atas kondisi ini, anggota Komisi IV DPR, Anton Sukartono Suratto, meminta petani agar siap-siap menghadapi harga yang berfluktuasi, dan ini bisa terjadi dalam waktu yang lama. Menurutnya, turunnya harga karet sekarang ini merupakan akibat  tidak langsung.

"Sementara akibat langsungnya aadalah ketika nanti krisis Eropa semakin merambah ke negara-negara lainnya," jelas Anton beberapa saat lalu (Minggu, 9/3)


Menurut Anton lagi, solusi terbaik yang harus dilakukan untuk mengatasi persoalan ini adalah dengan mengatur supply dari demand melalui Kementerian Perdagangan. Dan untuk mengatasi fluktuatifnya harga komoditas, pemerintah harus mampu mendorong pengembangan industri hilir dan industri hulu domestik. Karena pengembangan hilir domestik ini dapat mengurangi ketergantungan sektor perkebunan terhadap situasi pasar komoditas primer internasional.

Saat ini, lanjut Anton, yang merupakan caleg Partai Demokrat Daerah Pemilihan Jabar V, Indonesia baru memanfaatkan tidak lebih 13 persen produksi karet alam nasional untuk industri hilir. Dan mengingat 85 persen dari luas perkebunan karet Indonesia merupakan perkebunan rakyat, maka mereka mampu menghasilkan produk karet alam sebanyak 2,210 juta ton.

Sementara itu, katanya, perusahaan perkebunan (BUMN) menghasilkan 252.000 ton, dan perkebunan besar swasta diperkirakan mampu memproduksi 274.000 ton karet alam pada tahun 2010 dan menjadi 276.000 ton pada tahun 2011.

"Masalahnya, tinggal bagaimana pemerintah memberikan berbagai skema insentif kepada para investor  untuk mengembangkan industri karet ini dengan menyediakan teknologi," papar pria yang kerap disapa Kang Anton ini.

Sementara, dari sektor hulu, jelasnya lagi, pemerintah diharapkan juga membantu petani dalam mengintensifikasi tanaman karet, sehingga para petani tidak perlu memiliki lahan yang luas. Akan tetapi, bagaimana petani dapat meningkatkan produktivitasnya dari 1.000 kg menjadii 1.500-1800 kg per hektar. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya