Berita

sby/net

Mahasiswa Papua Desak Pemerintahan SBY-Boediono Hentikan Jual Gas Murah ke China

KAMIS, 06 MARET 2014 | 20:53 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Pemerintahan SBY-Boediono harus segera menghentikan penjualan gas murah ke China.

Terutama lagi, penjulan gas murah tersebut telah merugikan rakyat Indonesia, khususnya rakyat di Papua. Masyarakat Papua sendiri tidak rela bila kekayaan alam bumi Papua dieksplorasi untuk kepentingan asing, sementara rakyat Papua menjerit dalam kelaparan.

"Kami menolak kebijakan ini. Ini telah merusak alam di Papua. Stop penjualan gas murah ke China," kata aktivis Komite Aksi Mahasiswa Papua (Kampa) Jakarta, Noval Hutomo, beberapa saat lalu (Kamis, 6/3).


Noval sendiri, tadi siang, bersama dengan ratuan mahasiswa menggelar aksi di kawasan SCBD Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, untuk menyampaikan tuntutan ini.

Noval mengaku heran, pemerintah lebih senang menjual gas dari Papua ke Fujian China ke perusahaan China National Offshore Oil Corporation (CNOOC) dengan harga yang tidak sewajaranya. Penjualan gas ke China hanya 3,5 dolar AS per juta metrik british thermal unit (MMBTU), sementara harga yang dipatok untuk internasional sebesar 18 dolar AS MMBTU. Dan anehnya lagi harga jual gas di Indonesia sendiri dijual 10 dolar AS pe MMBTU.

"Jadi harga untuk kepentingan rakyat sendiri, lebih mahal hampir tiga kali lipat dibanding yang dijual ke China! Ini kan aneh," tegasnya.

Melihat kondisi tersebut, Kampa-Jakarta mengutuk keras aksi pemerintah Indonesia itu. Di tengah kemiskinan yang melanda sebagian rakyat Indonesia khususnya di Papua, para oknum-oknum pejabat dengan leluasanya merampok kekayaan milik sendiri.

"Kami meminta kepada Presiden SBY untuk segera mengeluarkan keputusan stop penjualan gas murah ke China, dan sebaliknya pemerintah China untuk tidak lagi membeli gas dari Indonesia," tandasnya. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya