. Presiden SBY, yang kekuasaanya tinggal menghitung hari, begitu banyak meninggalkan pekerjaan rumah bagi bangsa ini. SBY bukan saja tidak mampu menyelesaikan persoalan di eranya, tapi juga bahkan mewariskan masalah-masalah baru yang jauh lebih rumit dan komplek. Berbagai masalah ini pun menjadi bom waktu bagi bangsa dan negara.
Karena itu, kata Presiden Negarawan Center, Johan O Silalahi, Indonesia ke depan membutuhkan presiden dan wakil presiden yang mampu menjadi penjinak bom waktu tersebut, sekaligus menguraikan dan memberikan solusinya. Ke depan, tidak ada waktu yang tersedia bagi presiden dan wakil presiden untuk beradaptasi. Bahkan tidak ada kesempatan lagi untuk belajar mengenali dan menginventarisir berbagai masalah bangsa yang ditinggalkan Presiden SBY.
"Situasi Indonesia paska lengsernya SBY mengharuskan Presiden dan Wakil Presiden baru yang akan datang sejak hari pertama memerintah, harus bisa langsung in-action, berada di depan memimpin bangsa dan negara mengambil keputusan-keputusan yang tepat dan cepat dalam upaya menyelamatkan masa depan bangsa dan negara," kata Johan kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Rabu, 5/3).
Johan menawarkan pasangan Jokowi-Jusuf Kalla untuk situasi tersebut. Sebab pasangan ini, bila dianalogikan dalam hitungan matematika sederhana, bukan seperti satu ditambah satu menjadi dua, melainkan menjadi banyak. Bisa hasilnya tiga, bisa lima, dan bisa berapapun yang hasilnya sangat berarti dan bermanfaat bagi bangsa dan negara.
Artinya, lanjut Johan, duet Jokowi dengan Jusuf Kalla akan saling memberikan kontribusi positif, saling menguatkan. Jokowi diapresiasi rakyat sebagai tokoh yang bersih, punya integritas moral, cenderung sabar dan sangat merakyat. Dikombinasikan dengan Jusuf Kalla yang kreatif, taktis, cepat mengambil keputusan dan sudah terbukti dan teruji pengalamannya memimpin bangsa dan negara.
"Jokowi sangat menghormati Jusuf Kalla sebagai senior dan mentor, demikian pula sebaliknya. Postur negarawan seorang Megawati Soekarnoputri sudah pasti mencatat bahwa Jusuf Kalla akan menjadi
asset atau keberhasilan, dan bukan
liability atau beban bagi pemerintahan baru nanti, bahkan menyumbang fondasi yang kuat bagi pemerintahan berikutnya," ungkap Johan.
Menyebut Megawati, bukan tanpa alasan bagi Johan. Menurut Johan, sejarah bangsa Indonesia membuktikan bahwa pada akhirnya nasib dan masa depan bangsa dan negara ini dibebankan di pundak Megawati Soekarnoputri, seorang Ibu sederhana yang dikenal sebagai tokoh bangsa yang idealis, sangat kokoh dengan pendirian dan integritasnya, apalagi dalam mempertahankan ideologi Pancasila dan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
"Percaya atau tidak percaya, suka atau tidak suka, Tuhan melalui
invisible hand telah memberikan kekuasaan kepada Megawati Soekarnoputri, sang negarawan yang jadi pemimpin utama di partainya PDIP, untuk menentukan nasib sekitar 240 juta orang rakyat Indonesia," ungkap Johan.
Johan menekankan lagi, dalam hitungan hari, jam dan detik, keputusan bersejarah bagi bangsa dan negara di masa depan akan ditentukan, yakni apakah Megawati bersama PDIP dengan koalisi terbatas partai pendukungnya akan mencalonkan Jokowi dengan Jusuf Kalla sebagai Presiden dan Wakil Presiden RI yang berikutnya.
[ysa]