. Di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), ajaran Islam begitu mengakar di masyarakat. Bahkan, dalam kadar tertentu, sebagaimana terjadi proses asimilasi dan akulturasi dalam sistem kebudayaan manusia di belahan bumi manapun, ajaran Islam juga sudah bercampur dengan tradisi lokal. Atau, ada juga tradisi lokal yang dipengaruhi ajaran Islam tanpa mengubah wujud aslinya. Ada semacam pribumisasi ajaran Islam, dan di saat yang sama ada juga semacam Islamisasi budaya.
Ada banyak catatan, dan ada banyak versi sejarah, yang menjelaskan bagaimana ajaran Islam masuk ke Lombok, NTB. Ini wajar saja, sebab sejarah, dimanapun, selalu laksana serpihan-serpihan. Ada sejarawan yang menerima serpihan yang satu, tanpa menerima serpihan yang lain. Ada juga yang memaknai satu serpihan dengan cara pandang atau filsafat sejarah yang berbeda.
Hatta, hingga saat ini, ada banyak sejarah dan catatan terkait dengan asal mula Islam masuk ke Nusantara. Catatan lama menyebutkan dari Gujarat, sementara versi terbaru ada juga yang menyebutkan dari China dan Persia. Ada juga yang yakin Islam sudah masuk ke Indonesia sejak zaman Khalifah Rasyidin, langsung dari Arab Saudi.
Terkait dengan asal muasal Islam masuk ke Lombok, ada pandangan, atau versi yang disampaikan Ketua Krama Adat Sembah Ulun, Pe Mardisah. Menurutnya, Islam masuk di Pulau Lombok melalui Labuhan Carik Bayan pada tahun 1360 M. Islam di bawah oleh salah seorang dari Wali Songo yang nama lokalnya Nek Selamin.
"Ajaran Islam pertama kali diterima oleh Raden Nek Sumenep tahun 1360 M. Raden Nek Sumenep disunat oleh salah seorang dari Wali Songo. Raden Sumenep memberinya nama Nek Selamin," jelas Pe Mardisah kepada tokoh nasional asal Lombok, Lalu Mara Satria Wangsa.
Kedatangan Lalu Mara kepada Pe Mardiasah, selain untuk bersilaturrahmi juga untuk berziarah ke kawasan Rumah Adat dan Makam Berugaq Reban Bande, di Sembalun Bumbung, Lombok. Kawasan ini merupakan situs bersejarah karena hingga saat ini dijadikan tempat sebagai pusat ritual Ngayu-Ayu, singkatan dari Ngumpulkan Air Yang Utama, Ada Yang Utama.
Di tempat ini, satu hari sebelum ritual Ngayu-Ayu berkumpul penjaga 13 mata air yang ada di Sembah Ulun yang pada sore harinya mengambil air di mata air masing-masing. Selanjutnya, air tersebut disemayamkan di Berugaq Desa atau Masjid. Setelah itu, seluruh masyarakat mengiring air tersebut ke Berugaq Desa dan dikumpulkan dalam Maqam petilasan Wali Songo.
Ritual pertama bertujuan untuk menjaga kesuburan, kelestarian tanam-tanam di Sembah Ulun. Dan setelah ritual pertama diadakanlah "Perang Pejer" dengan maksud mengembalikan air dari 13 mata air ke kali Pusuk dengan maksud kembali mengaliri seluruh kehidupan di desa Sembah Ulun yang saat ini terkenal dengan sebutan Sembalun.
Sembalun, lanjut Pe Mardiasah menjelaskan, berasal dari kata Sembah Ulun yang artinya Menyembah Yang Maha Kuasa. Sebelum Islam masuk, di Sembah Ulun terlebih dahulu sudah ada Agama Budha dan Hindu. Sayangnya, ajaran Islam dari Wali Songo belum sampai sempurna, karena Nek Selamin sudah meninggalkan Sembah Ulun.
"Jadi itu sejarah Islam Watu Telu, karena belum sempurna sudah ditinggal Sang Wali. Dan Tahun 1961-1964, barulah Islam diajarkan secara sempurna," jelas Pe Mardisah.
Usai bersilatirrahmi dan berziarah pada Senin kemarin itu (23/2), Lalu Mara, yang juga Wasekjen DPP Golkar, mendorong pemerintah daerah membukukan sejarah ini sebagai dokumentasi yang tidak ternilai bagi generasi yang akan datang. Bila perlu menjadikannya sebagai sebuah film, mengingat panorama Sembalun yang mirip-mirip lokasi seperti yang tampak pada film
Lord of the Ring.
"Selain itu, baik juga bila kawasan tersebut dijadikan pusat seni, budaya sekaligus produk kreatif, sekaligus tempat pemasarannya," demikian Lalu Mara.
[ysa]