. Sebagai Menteri Pertahanan dan Keamanan sekaligus sebagai Panglima ABRI (Pangab) di tahun 1998, Wiranto berhasil mengawal transisi damai dan demokrasi di Indonesia tanpa pertumpahan darah. Dan bahkan, proses merdekanya Timor Leste juga tidak lepas dari peran Wiranto sebagai Pangab yang mengawal transisi itu.
Demikian disampaikan Dr. Agraha dari Sri Chinmoy Centre saat bertemu dengan Wiranto, di kantor DPP Partai Hanura, hari ini (Senin, 24/20. Kedatangan Agraha ini pun bukan sekedar untuk wawancara, melainkan juga untuk membuat film dokumentar.
Sri Chinmoy Centre sendiri merupakan sebuah lembaga perdamaian dan kemanusiaan dunia yang didirikan oleh tokoh spiritual dunia Sri Chinmoy yang bergerak di bidang perdamaian dan kemanusiaan dunia berbasiskan spirituliatas. Sri Chinmoy sendiri meninggal pada tahun 2007, namun saat ini telah ada 350 Sri Chinmoy Centre di seluruh dunia.
Dalam wawancaranya dengan Agraha, Wiranto menjelaskan bahwa langkahnya mendukung proses transisi dan merdekanya Timor Leste adalah wujud dukungan dari keputusan politik yang diambil oleh Pemerintah Indonesia dimana saat itu Habibie menjadi Presidennya. Ketika berpangkat kapten, dan ikut terjun ke Timtim waktu itu, Wiranto juga sudah melihat begitu banyak korban bergelimpangan baik dari pihak ABRI, dan rakyat Timtin, dan saat itu ia berikrar ketika suatu saat nanti bisa menentukan kebijakan, maka dia akan menghentikan pertumpahan darah ini.
Dalam kesempatan itu, Wiranto menegaskan bahwa ia memiliki Kepres No.16/1998 untuk mengambil alih kekuasaan jika diperlukan. Namun ia menilai jika memanfaatkan Kepres itu maka akan terjadi konflik horisontal, bahkan berpotensi menjadi perang saudara.
"Itulah mengapa saya menegaskan untuk mendukung dan mengawal proses peralihan itu secara damai," ujar Wiranto.
Agraha pun merasa tepat menemui dan mewawancarai Wiranto sebagai mana yang diusulkan Habibie. Dengan wawancara ini ia mendapat gambaran luas termasuk landasan spiritualitas sikap Wiranto saat itu.
[ysa]