. Hingga saat ini, pemberian nama KRI Usman Harun masih menjadi polemik antara Indonesia dan Singapura. Singapura bahkan terus memperssoalkan hal ini, dan bahkan melarang KRI Usman Harun berlabuh di pelabuhannya.
Polemik ini, bagi anggota Komisi I dari Fraksi Demokrat, Guntur Sasono, dalam kadar tertentu cukup diperlukan bagi Indonesia. Sebab hal ini akan menumbuhkan semangat nasionalisme di dalam diri masyarakat Indonesia.
Guntur juga mengingatkan, Indonesia adalah negara terbesar di ASEAN. Karena itu, kurang relevan juga bila langsung emosi menyikapi persoalan ini.
"Apakah akan jadi kancah peperangan dan perseteruan seperti yang terjadi di Timur Tengah, kan tidak pantas," ungkap Guntur beberapa saat lalu (Kamis, 20/2).
Akan tetapi, Guntur juga mengingatkan, bila memang harus berujung pada peperangan, Indonesia juga siap karena memiliki persenjataan yang jauh lebih besar dibanding Singapura.
"Tapi Indonesia kan negara cinta damai. Indonesia saat ini merupakan negara besar yang sistem demokrasinya sangat dihargai dunia. Kalau masalah seperti ini bisa diselesaikan dengan cara baik-baik, tidak perlu harus ada perseteruan,†ujar Guntur yang juga Ketua Panitia Kerja (Panja) RUU Rahasia Negara sambil mengatakan Presiden SBY sudah melakukan langkah yang benar dengan melakukan diplomasi damai, dan bukan dengan kekerasan.
Guntur mengatakan, pemberian nama KRI Usman Harun sudah seharusnya, mengingat Usman Harun adalah pahlawan nasional. “Kita adalah Indonesia dan kita adalah bangsa yang menghargai jasa pahlawannya. Pemberian nama itu sudah tepat, tutup Guntur.
Senada dengan Guntur Sasono, politisi Partai Demokrat, Ulil Abshar Abdalla mengatakan pemberian nama KRI Usman Harun oleh pemerintah sudah tepat. “Kita mengerti tentang keberatan Singapura, tetapi Singapura juga tidak punya hak untuk mengintervensi keputusan pemerintah untuk memilih nama tersebut karena sudah melalui prosedur," ungkap Ulil.
[ysa]