Berita

gunung padang/net

TTRM Surati SBY terkait Banyak Fakta Mencengangkan dari Trowulan Hingga Gunung Padang

SELASA, 18 FEBRUARI 2014 | 11:42 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Dalam penelusuran sejarah dan peradaban Nusantara, serta kaitannya dengan bencana katastrofi purba, Tim Katastrofi Purba atau Tim terpadu Riset Mandiri (TTRM)  menemukan banyak fakta‐fakta menarik dan mencengangkan.

Misalnya, pertama, dugaan ada konstruksi bangunan dari peradaban yang lebih tuadi Trowulan yang tertimbun di bawah lapisan Majapahit oleh endapan banjir, gunung api, dan kemungkinan juga endapan lumpur seperti di Sidoarjo. Menurut analisis karbon dating, umur konstruksi yang lebih tua ini dapat mencapai 500 tahun SM.

Kedua, di Situs Batu Jaya‐Krawang, ditemukan indikasi konstruksi bangunan sampai lebih dari 10 meter di bawah tanah, dan faktanya kawasan situs yang luas ini masih belum disurvei dengan peralatan mutakhir secara intensif dan komprehensif.


Ketiga, di wilayah Aceh, ditemukan fakta menarik bahwa saat "hilangnya" Kerajaan Samudra Pasai yang dianggap misterius oleh para sejarawan ternyata bertepatan dengan kejadian bencana tsunami tahun 1450 M yang kemungkinan lebih besar dari Tsunami Aceh tahun 2004.
 
Keempat, dan teristimewa, tim menemukan indikasi keberadaan monumen besar zaman pra‐sejarahyang tertimbun dimulai dengan penelitian di Bukit Sadahurip Garut. Berdasarkan survei geologi dan geofisika bawah permukaan, indikasi ada "sesuatu" di bawah bukit tersebut cukup kuat, namun karena beberapa rintangan dan pertimbangan teknis‐ilmiah maka penelitian di lokasi ini belum dituntaskan.

Demikian di antara poin surat dari Tim Katastrofi Purba atau TTRM, di bawah komando Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana, Andi Arief, kepada Presiden SBY. Surat perihal laporan singkat kegiatan Tim Katastrofi Purba/Tim terpadu Riset Mandiri itu disampaikan kepada Presiden SBY pada 31 Januari lalu.

Inilah laporan lain tim pada SBY dalam surat itu.

"Sejak November 2011 kami mengalihkan obyek penelitian ke lokasi lain yang lebih prospek dan mudah pengerjaannya, yaitu di Situs Megalitik Gunung Padang di Cianjur yang lokasinya persis di dekat jalur Patahan aktif Cimandiri yang juga sedang kami teliti. Situs Megalitik GunungPadang sudah dikenal lama sebagai situs punden berundak tersusun dari batu‐batu kolom andesit basal seluas 3 hektar pada puncak bukit (Kepmendikbud 139/M/1998).

Seperti yang sudah kami laporkan, ternyata hasil penelitian menunjukkan bahwa struktur punden berundak tersebut tidakhanya di puncak seperti yang sudah ditetapkan tapi meliputi badan bukit setinggi 100 meter dan seluas 15 hektar bahkan mungkin lebih besar lagi, jadi mirip Situs Machu Pichu di Peru. Yang lebih fantastis, struktur bangunan tidak hanya di (dekat) permukaan tapi berlapis‐lapis sampai puluhan meter di bawah tanah yang dibangun secara bertahap dari zaman ke zaman. Umur‐umur lapisan sudah diperkirakan berdasarkan analisa karbon dating.
 
Setelah pertemuan tanggal 18 Mei 2013, kami sudah melakukan survei yang lebih intensif dan komprehensif lagi. Sekarang akumulasi data-data ilmiah di Gunung Padang dan analisanya sudah jauh lebih baik dan komprehensif meliputi berbagai data survei meliputi arkeologi, geologi, arsitektur, georadar, geolistrik, geomagnet, seismiktomografi dan pengeboran.

Rincian singkat temuan konstruksi bangunan di Gunung Padang adalah sebagai berikut;

Lapisan‐1, yaitu dipermukaan, di bangun di atas tanah berumur 2500‐3500 tahun; artinya umur situs lebih muda dari itu dan kemungkinan sudah lebih dari satu kali dimodifikasi bentuknya.

Lapisan‐2. tertimbun tanah setebal 1‐2 meter tersusun dari batu‐batu kolom yang sama tapi jauh lebihcanggih, rapih dan kompak setebal beberapa meter sampai kedalaman sekitar 5 meter. Lapisankedua ini dibangun di atas hamparan lapisan pasir setebal puluhan sentimeter, kemungkinan berfungsi untuk peredam goncangan gempa. Perkiraan umur Lapisan kedua adalah 7.000 tahun, dan jauh lebih tua dari Piramida Giza di Mesir.

Lapisan‐3 dari kedalaman 5 sampai 10‐15 meter juga disusunoleh batu‐batu kolom yang sejenis tapi konfigurasi/desainnya berbeda. Lapisan‐3 ini ditemukan berada di bawah tanah timbunan berumur sekitar 10.000 tahun, artinya usia konstruksi lebih tualagi, dan ini konsisten dengan umur tanah diantara batu‐batu kolomnya yang berkisar 11- 25 ribu tahun. Umur yang lebih akurat memerlukan analisa lebih detil. Singkatnya ketiga lapisan setebal total 15 meteran ini sepenuhnya disusun oleh manusia.
 
Formasi batuan alamiah baru ditemukanpada kedalaman di bawah 15 meter berupa tubuh batuan lava masif; Namun dari konfigurasi dangeometri yang terlihat tubuh lava ini pun kemungkinan besar sudah dipahat dan dijadikanmonumen/bangunan pada masa yang lebih tua lagi. Di dalam tubuh lava terlihat ada lorong‐lorongdan ruang‐ruang besar yang bentuknya terlihat tidak alamiah lagi atau sudah dimodifikasi.

Lapisan‐2 sudah dibuktikan keberadaannya oleh beberapa kotak gali arkeologi, sehinggatidak ada keraguan sedikitpun sebagai lapisan bangunan karena sudah menjadi data arkeologi.
 
Meskipun demikian masih perlu dilakukan eskavasi lebih luas supaya Lapisan‐2 ini terlihat lebihnyata untuk masyarakat luas sehingga tidak ada kontroversi lagi.

Lapisan 3‐4 dan di bawahnya juga perlu dikonfirmasi dengan eskavasi dalam agar menjadi fakta nyata untuk masyarakat, tidak sebatasinterpretasi data geologi‐geofisika bawah permukaan saja. Selanjutnya, analisa umur‐umur lapisan masih jauh dari sempurna dan perlu di re‐cek dan diverifikasi lebih lanjut dengan analisis yang lebih detil.
 
Indikasi keberadaan ruang bawah tanah sangat istimewa karena memberi harapan untuk mendapatkan rahasia sejarah peradaban Nusantara yang hilang dan boleh jadi ada tinggalan berharga lainnya sehingga perlu dicari akses masuknya dengan kehati‐hatian dan pengamanansecukupnya. Singkatnya, menurut hasil penelitian Tim Terpadu Riset mandiri (TTRM) Situs GunungPadang benar‐benar extra‐ordinary.
[ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya