Berita

prabowo-jokowi/net

Dikawinkan dengan Aher Sekalipun, Prabowo Tak Bisa Berkutik Bila Lawan Jokowi

SABTU, 15 FEBRUARI 2014 | 11:44 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Wacana menduetkan Ketua Dewan Pembina Gerindra, Prabowo Subianto, dengan Gubernur Jawa Barat, Ahmad Heryawan, sebagaimana diwacanakan Gerindra Jawa Barat tampaknya emakin menambah sesak pasangan capres-cawapres di Pilpres 2014 mendatang.

Ahmad Heryawan sendiri menempati posisi ketiga dalam Pemilihan Raya PKS. Peraih suara tertinggi di Pemira PKS adalah Hidayat Nur Wahid dan Anies Matta.

Dari sisi marketing politik, kata pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, pasangan Prabowo-Ahmad Heryawan memang sangat menjual. Sebab duet ini merupakan kombinasi tokoh nasional dengan kepala daerah dari propinsi berpenduduk terpadat di Indonesia. Hanya saja, secara realitas politik, Gerindra akan rugi karena terbebani dengan kasus-kasus korupsi yang membelit elit-elit PKS.


"Istilahnya dalam matematika, plus ditambah negatif hasilnya akan kecil secara signifikan. Gerindra akan terbebani sedangkan PKS yang mengambil manfaat dari duet Prabowo-Aher," kata Ari Junaedi kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Sabtu, 15/2).

Menurut pengajar Program Pascasarjana UI ini, elektabilitas PKS di  yang jeblok serta positioning Gerindra yang moncer di berbagai jajak pendapat dari berbagai lembaga survei semakin menunjukkan kalau duet Gerindra - PKS akan sulit terwujud secara realitas dan logika politik. Gerindra, usul Ari, seharusnya menduetkan Prabowo dengan parpol menengah selain PKS seperti Hatta Rajasa dari PAN.

"Apalagi jika Jokowi jadi dicapreskan oleh PDIP maka siapapun pesaingnya akan kesulitan bersaing. Gerindra harus berpikir ulang jika harus menghadapi kedigjayaan Jokowi," tandas peraih penghargaan World Customs Organization Serticificate of Merit 2014 karena pola pengajaran komunikasinya yang inspiratif itu. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya