Berita

sby/net

Kepemimpinan SBY yang Buruk Jadi Faktor Utama Kehancuran Demokrat

KAMIS, 13 FEBRUARI 2014 | 07:22 WIB | LAPORAN: YAYAN SOPYANI AL HADI

. Bukan hanya Partai Demokrat yang terjerat kasus korupsi. Namun berbeda dengan Demokrat, elektabilitas partai lain yang juga sama terjerat kasus korupsi cenderung stabil. Sementara elektabilitas Demokrat terus terjun bebas.

Karena itu, berdasarkan temuan Lembaga Survei Independen Nusantara (LSIN), faktor utama jebloknya elektabilitas Demokrat adalah kepemimpinan SBY yang buruk. Setelah menjadi Presiden di 2009, SBY tidak lagi memperdulikan organisasi sayap partai yang selama ini membesarkan dan mengantarkan dirinya menuju kursi RI 1.

Menurut Direktur LSIN, Yasin Mohammad, dalam keterangan kepada Rakyat Merdeka Online beberapa saat lalu (Kamis, 13/2), Partai Demokrat itu ibarat mobil mercy yang masih mulus, tapi mesinnya telah mati. Mesin penggerak partai Demokrat atau mesin politiknya tidak lagi berfungsi, sementara sistem organisasi politik yang sudah terbangun di dalamnya telah tercerai berai akibat salah perbaikan.


"Kebesaran dan kemenangan Demokrat pada Pemilu sebelumnya sejatinya karena sistem dan mesin politik yang dibangun berjalan dengan baik. Pada Pemilu 2004 dan 2009 Demokrat didukung oleh organisasi-organisasi sayap parpol secara total, dan SBY juga memiliki perhatian yang lebih terhadap mereka," ungkap Yasin.

Demokrat, masih kata Yasin, dibesarkan dan dimenangkan oleh karena kinerja para pakar strategi dari mantan TNI yang dikumpulkan oleh SBY,  organisasi pemuda, dan jama'ah pengajian Nurussalam sebagai perkumpulan para kyai dan ulama. Demokrat juga didukung oleh kader-kader muda potensial yang ada di dalamnya di bawah gerbong Anas Urbaningrum.

"Namun setelah jadi presiden, SBY tidak lagi memperdulikan organisasi sayap yang selama ini membesarkan dan mengantarkan dirinya menuju RI 1. Akibatnya, mereka berpindah haluan ke parpol lain dan mesin politik Demokrat tidak lagi berjalan sebagaimana mestinya," demikian Yasin. [ysa]

Populer

Jaksa Belum Yakin Hasil Forensik Ijazah Jokowi

Rabu, 06 Mei 2026 | 18:31

Indonesia Menuju Gelap

Minggu, 03 Mei 2026 | 06:50

Sikap Dudung Pasang Badan Bela Seskab Teddy Berlebihan

Rabu, 06 Mei 2026 | 03:39

Nama Dirjen Bea Cukai Djaka Budi Utama Terseret di Dakwaan Bos Blueray Cargo

Rabu, 06 Mei 2026 | 17:16

Wali Murid Sekolah Islam Terpadu di Tangerang Korban Investasi Bodong Lapor Polisi

Minggu, 10 Mei 2026 | 02:13

Sikap Adem Ayem Seskab Teddy Mencurigakan

Selasa, 05 Mei 2026 | 02:06

KPK Dalami Peran Haji Her dan Suryo di Skandal Cukai Rokok

Jumat, 01 Mei 2026 | 20:51

UPDATE

Netanyahu Sebut Perang dengan Iran Belum Usai

Senin, 11 Mei 2026 | 08:20

OJK: Bank Bebas Tentukan Strategi Kredit, Program Pemerintah Hanya Potensi Bisnis

Senin, 11 Mei 2026 | 08:09

Harga Emas Langsung Tergelincir Usai Trump Tolak Tawaran Iran

Senin, 11 Mei 2026 | 07:50

Respons Iran soal Proposal AS Picu Kemarahan Trump

Senin, 11 Mei 2026 | 07:40

Sudah Saatnya Indonesia Berhenti dari Ketergantungan Energi Luar Negeri

Senin, 11 Mei 2026 | 07:27

Pasar Properti Indonesia Menyentuh Titik Jenuh

Senin, 11 Mei 2026 | 07:09

Optimalkan Minyak Jelantah

Senin, 11 Mei 2026 | 06:40

Geoffrey Till: Kekuatan Laut Bukan Sekadar soal Senjata

Senin, 11 Mei 2026 | 06:10

Delegasi Jepang Sambangi Fasilitas BLP Bahas Masa Depan Logistik

Senin, 11 Mei 2026 | 05:59

Ngobrol dengan Nelayan

Senin, 11 Mei 2026 | 05:40

Selengkapnya