Berita

rizal ramli/net

Rizal Ramli: Demokrasi Kriminal Lahirkan Kebijakan Kriminal

KAMIS, 12 DESEMBER 2013 | 10:39 WIB | LAPORAN: ZULHIDAYAT SIREGAR

Dalam sembilan tahun terakhir, demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi kriminal. Padahal demokrasi kriminal hanya akan menghasilkan para pejabat publik yang melahirkan kebijakan kriminal. Indikasinya, banyak sekali Undang undang dan berbagai peraturan neoliberal di bidang ekonomi yang hanya menguntungkan pemodal asing dan pemodal besar dan memiskinkan rakyat.

Demikian ditegaskan ekonom senior, Rizal Ramli, saat bicara pada Pekan Politik Kebangsaan Indonesia; Menyongsong Indonesia Memilih di Jakarta, Rabu (11/12). Event yang diselenggarakan International Conference Of Islamic Scholars (ICIS) digelar selama tiga hari, 10-12 Desember 2013.

Pada hari kedua menampilkan tema DPR Dambaan Rakyat. Selain Rizal Ramli, pembicara lainnya adalah Ketua Dewan Pembina Partai Golkar Akbar Tanjung, pakar hukum tata negara Saldi Isra, dan pengamat parlemen Sebastian Salang serta moderator Direktur Koalisi Anti Utang (KAU) Dani Setiawan.


"Anggota DPR kita yang menyusun UU gampang disogok. Mereka juga tidak paham, bahwa neolib adalah pintu masuk bagi neokolonialisme. Soekarno pernah mengatakan, setelah merdeka para kolonialis akan kembali berusaha menjajah. Mereka tidak datang dengan tentara atau gubernur jenderal. Mereka akan menjajah lewat kebijakan ekonomi yang liberal. Sinyalemen Soekarno itu kini menjadi kenyataan,” tegas Rizal.

Menurut calon presiden paling ideal versi Lembaga Pemilih Indonesia (LPI) itu, dalam sembilan tahun terakhir demokrasi tidak kunjung menyejahterakan rakyat. Hal ini disebabkan demokrasi yang dikembangkan telah berganti bentuk dari demokrasi prosedural, demokrasi transaksional, dan akhirnya demokrasi kriminal. Padahal, seharusnya demokrasi yang dikembangkan adalah demokrasi substansial dan amanah agar bisa mengantarkan Indonesia menjadi negara maju dan dihormati serta rakyatnya sejahtera.

"Sayangnya yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Rakyat tidak kunjung sejahtera, karena banyak sekali kebijakan kriminal yang memiskinkan. UU yang dibuat adalah UU yang neolib yang hanya menguntungkan pemodal asing dan pemodal besar. Kebijakan impor pangan dengan sistem kuota yang melahirkan kartel, adalah contoh nyata kebijakan pemiskinan struktural. Rakyat harus membayar gula, daging, kedelai, dan lainnya jauh lebih mahal dibandingkan harga internasional,” papar Menko Perekonomian era Presiden Abdurrahman Wahid ini.

Sehubungan dengan itu, dia berpendapat bangsa Indonesia sedang diayak oleh Allah Yang Maha Kuasa. Terbukanya berbagai kasus korupsi yang terjadi secara massif dan sistematis merupakan proses pengayakan untuk membuang orang-orang yang menjadi beban rakyat. Proses ini akhirnya akan menyisakan orang-orang yang berkualitas dan berintegritas yang pantas memimpin.

Untuk bisa keluar dari situasi politik dan ekonomi yang kian memburuk, Rizal Ramli menyodorkan sejumlah solusi yang bisa dilakukan. Pertama, cabut hak recall partai atas anggotanya yang duduk di DPR. Seharusnya yang boleh me-recall anggota DPR hanyalah konstituen, bukan ketua partai yang punya bermacam-macam kepentingan.

Kedua, bubarkan Badan Anggaran (Banggar). Perangkat DPR ini menjadi sarang korupsi secara berjamaah. Keberadaan Banggar telah menaikkan korupsi dari sekitar 30% pada masa Orde Baru, menjadi 45% pasca reformasi. Ketiga, pembahasan anggaran cukup sampai level dua (program), tidak perlu sampai tingkat proyek karena sangat rawan korupsi.

"Yang keempat, sejak dua tahun lalu saya menggusulkan agar Parpol dibiayai negara. Dengan begitu parpol tidak sibuk cari dana dengan menjarah anggaran atau melahirkan kebijakan kriminal, seperti impor pangan dan di bidang migas. Saya sudah hitung, hanya diperlukan anggaran sekitar Rp5 triliun. Jumlah ini jauh lebih rendah dibandingkan Rp60 triliun sampai Rp75 triliuan anggaran yang dijarah secara berjamaah,” ungkap Menteri Keuangan era Gus Dur ini. [zul]

Populer

Polisi Gunakan Senjata Baru OTT, 21 Kepsek Diamankan

Senin, 21 September 2026 | 03:25

Djaka Budhi Diuntungkan Berkat Menkeu Baru Suahasil Nazara

Minggu, 20 September 2026 | 14:18

Syukur Mandar Dicopot, Gerakan Oposisi Tegaskan Organisasi Bukan Milik Pribadi

Minggu, 20 September 2026 | 18:58

Serahkan Bukti Dugaan Politik Uang Muktamar ke-35 NU, KPK NU Desak KPK Usut Nusron Wahid

Jumat, 25 September 2026 | 14:51

TNI Tegaskan Lahan Teuku Umar No. 2 Aset Negara

Jumat, 25 September 2026 | 22:39

Ahmad Dedi Dikabarkan Jadi Tersangka Baru Kasus Suap Bea Cukai

Senin, 21 September 2026 | 13:33

Desakan Pecat Nusron Mencuat, Ahmad Doli Memungkinkan jadi Pengganti

Minggu, 20 September 2026 | 05:26

UPDATE

Gus Lilur Ungkap Pencatutan Nama Prabowo di Muktamar NU, Duit Ratusan Miliar Diduga Mengalir

Minggu, 27 September 2026 | 22:06

DIM RUU Ketenagakerjaan Membengkak

Minggu, 27 September 2026 | 20:53

Semarak Diwali Mulai Terasa di Jakarta Lewat Diwali Bazaar 2026

Minggu, 27 September 2026 | 20:30

Syarat Capres Didukung Minimal Dua Fraksi Bisa Mengunci Suara Rakyat

Minggu, 27 September 2026 | 19:52

Ustaz Das’ad Latif Ajak Warga Hidup Sesuai Kemampuan

Minggu, 27 September 2026 | 19:31

Di Malaysia, Utusan MUI Sampaikan Pesan Kemerdekaan untuk Palestina

Minggu, 27 September 2026 | 19:17

DPD Geram, Buku Memburu Muhammad Diduga Lecehkan Agama Islam

Minggu, 27 September 2026 | 18:50

Setelah Viral, Dishub Sidak Tarif Valet di Jaksel

Minggu, 27 September 2026 | 18:31

Mantan Bendahara PPP Habil Marati Wafat

Minggu, 27 September 2026 | 18:17

Dugaan Penyelewengan Bantuan Kemanusiaan di Kamp Tindouf Mencuat

Minggu, 27 September 2026 | 17:41

Selengkapnya